Barusan saya melihat postingan di grup Facebook “Sahabat PerAngguran” (klik untuk melihat).
Yang intinya, penanya bingung kenapa daun anggurnya selalu keriting.
SELALU KERITING.
Dia tidak tahu penyebab dan solusinya.
Tidak tahu.
Menariknya:
Ketika email ini ditulis (Jum’at, 30 Januari 2026, 14.10 WIB), postingan tersebut telah mendapat 139 komentar.
Dan di bawah ini beberapa komentar yang membuat saya membisu 😳:
—
“Semprot pakai insektisida merk abacel.. atau insektisida merk lain dengan bahan utama abamectin.”
—
“Kalau tanpa naungan karena air hujan. Media terlalu lembab. Kalau dalam naungan mungkin od pupuk.”
—
“Sama punya saya begitu rutin 2 x seminggu semprot insek sama fungi alhamdulillah jadi baik.”
—
“Semprot pake insek, punyaku juga dulu gitu abis semprot insek tumbuh daun normal lagi.”
—
“Abacel om obatnya. KL 1 Minggu gak sembuh lebih baik sy pensiun nganggur. 😁”
—
“kyk punyaku tapi bawah terlalu basah, aku potong atas malah tumbang. 😭”
—
“Media mengandung garam kasih POC dulu kosor dan seprai penyiraman dua hari sekali punya saya pulih dan subur.”
—
“Sama kaya punya saya. Saya potong di bawah tumbuh tunas baru bagus TPI lama2 kaya gitu lagi akhirnya saya cabut.”
—
“Sama ,saya juga 2 kali tanam selalu begitu ujung2 nya mati. Jadi takut mo tanam anggur lagi. 😩”
—
“Ganti media baru, jangan ganti media bekas tanaman/pupuk.”
—
…dan masih banyak lagi komentar lainnya yang membuatku bisu.
Perhatikan itu.
Ada komentar yang mengulas penyebab daun keriting—yang terdengar masuk akal bagi orang awam.
Beberapa orang memberi solusi berdasarkan pengalaman pribadinya—yang seolah sangat relevan dan meyakinkan.
Komentar lain ikut curhat, menyampaikan pengalaman yang sama.
Bahkan, ada komentar yang secara terang-terangan menjatuhkan mental penanya. Ada juga yang—tanpa sadar—menjatuhkan mental secara halus, seperti; “Jadi takut mo tanam anggur lagi. 😩”
Ngeri-ngeri sedap, pokoknya. 😂
Sebetulnya, apa sih penyebab pohon anggur orang ini “selalu” keriting?
Ternyata penyebabnya sederhana.
Sangat sederhana.
Dan hampir dialami oleh 70–80% pohon anggur di Indonesia, terutama yang tanam dalam pot.
Apa itu?
pH TANAH ASAM.
Itulah akar sebabnya.
- Daun-daun muda keriting.
- Warna daun memudar. Pucat.
- Pertumbuhan pohon macet.
Itu semua adalah gejala “kekurangan” unsur hara Kalsium (Ca).
Catat ini: Antara pH tanah asam dan kekurangan kalsium, keduanya saling memengaruhi:
- Tanah minim kalsium → menyebabkan penurunan pH tanah.
- Tanah ber-pH asam → menyebabkan kalsium sulit diserap akar tanaman.
Tapi, kasus paling sering:
Terutama pada tabulampot anggur adalah pH media tanam terlalu asam.
Membuat kalsium sulit diserap akar, sehingga pohon “kelaparan” unsur hara tersebut. Kemudian muncullah gejala-gejala tadi.
Jadi, BUKAN karena hama.
Penyakit.
Media mengandung garam (ini ngawur parah 😒).
Ataupun faktor-faktor lain yang disebutkan—secara nyeleneh—oleh orang-orang di kolom komentar.
Maka, bijaklah menyerap informasi dari grup-grup anggur di Facebook.
Bukan melarang.
Tapi menyarankan Anda untuk lebih kritis, jeli, dan selektif.
Jangan asal telan mentah-mentah.
Supaya terhindar dari saran & wawasan menyesatkan.
Atau…
Jika Anda ingin referensi “kredibel” yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan praktik lapangan, Anda bisa pelajari ebook berikut:
Itu aja sharing dari saya. Semoga bermanfaat.
Barakallahu fiikum,
Ibnul ‘Inab
P.S.
Mau nambah koleksi varietas anggur import?
Kami memproduksi “bibit anggur” dengan kualitas mendekati standar Eropa (umur bibit 6 bulan, tinggi 2–3 meter, siap berbuah dalam 1–3 bulan, harga cuma Rp90rb-an). Bahkan, tersedia juga yang harga Rp60rb-an.
Penasaran?
