Kencang.
Padat.
Mengkilap.
Begitulah buah anggur import yang biasa kita temui di rak-rak dingin supermarket.
Apakah buah anggur kita—yang ditanam di pekarangan rumah—bisa seperti itu?
Jawabannya (sangat) bisa.
📌 Catatan: yang kita bahas di sini “penampilan kulit” buah, ya. Bukan ukuran buah—kalo ini sudah konteks lain.
Di antara perlakuan (perawatan) paling bertanggungjawab terhadap kualitas penampilan buah adalah manajemen pengendalian hama & penyakit.
Perkebunan anggur komersial di luar negeri…
…dan penghobi anggur ulung di Indonesia umumnya menyemprot pestisida paling sedikit “seminggu” sekali selama pembesaran buah anggur.
Jika curah hujan sedang tinggi, penyemprotan bisa lebih sering hingga 3–5 hari sekali.
Itu dimulai sejak awal buah terbentuk sempurna (fruit set) sampai menjelang perubahan warna buah (veraison).
Beberapa penghobi bahkan, masih menyemprot pestisida setelah veraison hingga mendekati panen—meskipun ini tidak dibenarkan oleh para ahli, karena memperparah penumpukan residu.
Pelajarannya:
Jika Anda mau sering-sering menyemprot pestisida seperti di atas, maka pohon anggur Anda berpotensi menghasilkan buah berkualitas tinggi dari sisi penampilan.
Tentu saja ada aspek lain yang ikut terlibat seperti; pemupukan, penjarangan berry, pembungkusan buah, manajemen tajuk, dst.
Namun hanya dengan memperbaiki manajemen pengendalian hama & penyakit saja, itu sudah mampu mendorong “peningkatan” kualitas buah secara signifikan dibanding panen-panen sebelumnya.
Pertanyaannya:
“Apakah Anda bersedia melakukan itu (semprot pestisida seminggu sekali, bahkan 3–5 hari sekali)?” Tanyaku.
Saya pribadi sangat, sangat tidak tertarik.
TIDAK TERTARIK.
Bukan karena enggak mampu menjalankannya.
Alasannya karena saya lebih suka buah anggur yang SEHAT, dibanding penampilan super mulus—tapi penuh kontaminasi racun kimia.
Bagi saya…
Tujuan menanam anggur di pekarangan rumah BUKANLAH menghasilkan buah anggur se-indah di supermarket.
Tapi tujuan utama saya adalah menghasilkan buah:
Melimpah.
Konsisten.
Minim residu pestisida.
Penampilan buah TIDAK menjadi prioritas.
Selama buah terlihat menarik dan layak saji, maka baik-baik saja menurutku. Itu sudah memuaskan (dan membanggakan).
Yang penting lagi buatku: tampilan buah enggak malu-maluin saat dibagi ke keluarga, tetangga, dan teman-teman sejawat.
Jadi, sesederhana itu “standar kualitas” yang saya pegang.
SANGAT SEDERHANA. ☺️
Anda mau tahu “sesering” apa kami menyemprot pestisida?
Itu sangat jarang.
Bahkan bisa dihitung jari dalam setahun.
Biasanya cuma 3–5 kali per tahun, kadang lebih sedikit.
Itu pun enggak ke semua pohon (yang jumlahnya ratusan). Hanya ke para korban serangan hama & penyakit aja yang disemprot.
Misal ada 7 pohon yang sakit, maka cuma ketujuh pohon itu aja yang disemprot. Simpel.
Terus, gimana hasil buahnya?
“Memuaskan,” kataku.
Bagus-bagus.
80–90% mulus.
Anda bisa melihat hasil panen kami di sini kalo penasaran:
👉 Galeri foto hasil panen anggur →
👉 Galeri foto hasil panen anggur →
(Petunjuk: kunjungi halaman website melalui link di atas, lalu scroll halamannya ke bawah untuk melihat galeri foto buah anggur kami.)
Pelajaran pun berakhir.
Barakallahu fiikum,
Ibnul ‘Inab
P.S.
Mau nambah koleksi varietas anggur import?
Kami memproduksi “bibit anggur” dengan kualitas mendekati standar Eropa (umur bibit 6 bulan, tinggi 2–3 meter, siap berbuah dalam 1–3 bulan, harga cuma Rp90rb-an). Bahkan, tersedia juga yang harga Rp60rb-an.
Penasaran?
