Keong kuning kecil sebesar lidi, yang (mungkin) rajin mengunyah tanaman Anda setiap malam. Buat mereka bertobat atau musnahkan!

Apakah Anda “sering” melihat keong berwarna kuning dan ukurannya sangat kecil, cuma seujung lidi?

Binatang ini namanya Sumpil atau Siput Ujung Lidi, terserah Anda mau pakai istilah mana. Contoh gambarnya lihat aja di sini:

Mereka sering berkeliaran ke atas pot tanaman hias dan sayur, terkadang tanaman buah, kemudian menggerogoti bagian batang dan daun tanaman yang lunak.

Sumpil aktif di malam hari mencari makan dan tidur pada siang hari di tempat yang lembab dan terlindung dari sinar matahari, entah di dalam celah tanah, di bawah bebatuan atau kayu, dan semisalnya.

Yang jelas, di siang hari mereka nyaris tak terlihat.

Lalu apa?

Kalo Anda menemukan koloni Sumpil di dalam pot tanaman, segeralah bertindak sebelum mereka meletakkan puluhan – ratusan telur di dalam media tanam.

Karena populasi mereka bisa sulit dikendalikan, apabila terlanjur beranak-pinak.

Bagaimana cara membasmi Sumpil?

Ada 2 cara yang cukup efektif. Cara pertama dilakukan mekanis dan cara kedua menggunakan pestisida.

Cara mekanis:

Letakkan irisan timun, tomat, pepaya, semangka atau semisalnya ke atas media tanam pada sore atau awal malam.

Lalu esok pagi (bagusnya sebelum matahari terbit), segera pungut semua Sumpil yang sedang menikmati irisan buah tersebut, atau yang bersembunyi di bawah irisan.

Buang mereka ke tempat sejauh mungkin dari kebun Anda agar tak kembali, atau musnahkan dengan cara Anda sendiri, silakan saja.

Biarkan irisan buah tadi tetap di tempatnya, dan cek kembali keesokan pagi, siapa tahu masih ada gerombolan Sumpil lain di sana.

Intinya, lakukan cara di atas sampai Anda tidak menjumpai mereka lagi.

Cara aplikasi pestisida:

Cara ini sangat tidak disarankan, kecuali populasi Sumpil sudah sangat tak terkendali, sehingga koloni mereka bertebaran di sembarang tempat di pekarangan Anda.

Semprotkan “moluskisida” merek apa saja ke media tanam, tanah pekarangan, atau tanaman apapun yang diprediksi menjadi tempat bersarang Sumpil.

Gunakan dosis paling rendah yang tercantum di kemasan produk, dan penyemprotan dilakukan sore atau malam hari.

Umumnya, semua Sumpil yang bersentuhan dengan residu moluskisida akan mati malam itu juga.

Sekali lagi, prioritaskan cara mekanis sebelum pestisida!

Bagaimana pun, kesehatan lingkungan rumah dan keluarga Anda berada di bawah tanggung jawab Anda.

Dan seperti biasa…

Jika Anda kewalahan menghadapi pohon anggur Anda sakit2an, tumbuh lambat, atau lama tak kunjung berbuah, Modul Tabulampot Anggur Pemula (2024) bisa menjadi solusi praktis melawan masalah2 tersebut, InsyaAllah.

Pelajari isi modulnya di sini:

===

Atau… jika Anda ingin “menambah” koleksi varietas anggur import baru.

Anda bisa mendapatkan bibit anggur import dengan kualitas di atas rata-rata, harga mulai 49 ribuan, dan Garansi 14-30 Hari sejak bibit Anda terima.

Lihat katalog lengkapnya di sini:

Sementara itu aja, sih, yang mau saya share.

Barakallahu fiikum,

Ibnul ‘Inab

Prinsip tentang dosis pupuk yang “menyelamatkan” pohon anggur dan diri saya.

Semalam ada yang bertanya begini:

“Ketika memberi pupuk tahap pembuahan apakah dilihat dari kondisi fisik pohon anggur umurnya atau ada ciri² fisik dari pohon anggur?”

Pertanyaan ini kurang jelas bagi saya.

Tapi saya asumsikan; beliau sedang mencari tahu bagaimana menentukan “dosis” pemupukan yang tepat.

Jadi… mari kita bahas!

Saya dan Anda sepakat:

Setiap pohon anggur memiliki “kecepatan” tumbuh berbeda satu sama lain. Meskipun usia mereka sama, ditanam bersamaan, dan dirawat dengan cara yang persis sama.

Tetap saja, masing2 akan tumbuh dengan kecepatannya sendiri.

Sementara, kebutuhan “nutrisi” antara pohon berukuran besar dengan yang kecil pasti berbeda.

Maka mudah untuk menyimpulkan:

Dalam melakukan pemupukan, baik untuk memacu pembesaran pohon (vegetatif), pembuahan (generatif), maupun pembesaran buah, dosis pupuk sangat ditentukan oleh ukuran pohon bersangkutan.

Meskipun…

Kondisi tanah, cuaca, kapasitas berbuah, dan lain2 juga ikut menentukan. Tapi bagi pemula, terlalu rumit menggunakan aspek2 tersebut. Jadi, prioritaskan saja pada aspek pertama (ukuran pohon) untuk jalur aman. 😏

Prinsip dalam pemupukan (khususnya pupuk kimia):

“Lebih baik dosisnya kurang, daripada berlebih.”

Kalo dosisnya kurang, tinggal ditambah. Dan kalo enggak ditambah pun, tidak ada efek negatif pada tanaman. Paling2 manfaat pupuk menjadi kurang terasa.

Tapi kalo berlebih…

Pohon akan sakit dan mengganggu pertumbuhan. Tidak hanya itu, media tanam juga menjadi rusak. Sementara, memulihkan pohon dan media tanam yang overdosis pupuk itu enggak mudah.

Saya pribadi:

Selalu menggunakan dosis pupuk kimia “serendah” mungkin pada kondisi apapun. Nanti setelah beberapa waktu tidak terlihat ada peningkatan hasil yang diharapkan, barulah saya tambah lagi dosisnya.

Itu “menyelamatkan” saya dari kekacauan yang disebabkan overdosis pupuk.

Dan seiring jam terbang…

Saya akan tahu; dosis yang paling sesuai dengan kebutuhan pohon anggur saya. Sehingga, saya bisa memberikan dosis tepat sasaran, tanpa perlu lagi menerapkan pendekatan di atas.

Prinsip-prinsip tadi saya terapkan juga di dalam Modul Tabulampot Anggur Pemula. Supaya Anda tidak perlu khawatir; memberi dosis berlebih saat pemupukan, selama mengikuti pedoman yang saya jelaskan di sana.

Ini link modulnya:

Dan jika Anda:

Ingin mengoleksi varietas anggur import lain yang BELUM Anda miliki.

Saat ini sudah ready bibit anggur dengan 50+ pilihan varietas berbeda, harga mulai 49rb dengan Garansi 14 Hari sejak bibit Anda terima.

Lihat katalog lengkapnya di sini:

Barakallahu fiikum,

Ibnul ‘Inab

Gara2 ini buah anggur Anda yang kadar gulanya TINGGI, tetap terasa kurang manis bahkan agak ASEM.

Ketika me-review buah anggur varietas tertentu…

Biasanya, penghobi akan menilai tingkat “kemanisan” buah melalui; pengukuran level Brix (kadar gula) daging buah menggunakan alat Refractometer.

Semakin tinggi level brix-nya, maka semakin tinggi nilai kemanisan buah anggur bersangkutan. Begitu cara mereka memahaminya.

Tapi, sudah benarkah cara tersebut?

Ternyata kurang tepat.

Saya analogikan begini; bayangkan di depan Anda ada 2 gelas kaca berisi air yang telah dicampur gula dan cuka dengan kadar berikut:

  • Gelas A mengandung 3 sendok gula + 1 sendok cuka
  • Gelas B mengandung 6 sendok gula + 5 sendok cuka

Menurut Anda, gelas mana yang airnya lebih manis?

Jawabannya tentu Gelas A, karena kadar cukanya jauh lebih rendah. Sedangkan Gelas B meskipun kandungan gulanya 2 kali lipat, namun kadar cukanya juga tinggi, sehingga menghasilkan rasa air yang dominan asam.

Sama halnya buah anggur!

Percuma level brix-nya tinggi, apabila kadar asamnya juga tinggi. Rasa buah akan cenderung asam, atau masih ada sensasi sedikit asam di lidah, atau tidak terasa asam sedikit pun tapi rasa manisnya kurang nendang.

Sebaliknya…

Level brix tidak tinggi, tapi kadar asamnya sangat rendah, akan menghasilkan rasa buah yang cenderung lebih manis.

Maka penting:

Selain mengukur level brix, kadar asam buah juga perlu diukur untuk menentukan nilai kemanisan yang lebih akurat.

Tapi jarang sih ada penghobi yang melakukannya, karena jarang banget ada yang punya alat ukur kadar asam buah. Atau karena pohon anggurnya memang BELUM berbuah, jadi belum bisa nge-review buahnya. 😆

Atau jangan2… Anda termasuk yang belum pernah ngerasain panen buah anggur dari pohon sendiri.

Kalo IYA, dan sudah lebih setengah tahun pohon anggur Anda tak kunjung berbuah, bisa jadi pohon anggur Anda perlu “dipancing” dulu baru bisa berbuah.

Cara memancingnya dengan menerapkan bab prosedur pembuahan perdana di dalam Modul Tabulampot Anggur Pemula ke pohon bersangkutan.

Ini linknya:

https://daunku.com/modul-tabulampot-anggur-pemula

Modul ini khusus untuk Anda yang menanam anggur di dalam pot, ya!

Barakallahu fiikum,

Ibnul ‘Inab

Gara2 ini daun anggur saya pada GOSONG. Jangan sampai KEJADIAN di pohon anggur Anda!

Sore itu, saya temukan beberapa tabulampot koleksi saya diserang hama kutu putih.

Termasuk di sana ada tabulampot Anggur, Putsa, Barbados Cherry, Jeruk, dan lainnya.

Saya pun berinisiatif membuat pestisida organik dari bawang putih yang direndam semalaman.

Jadi, sore itu juga saya mengambil beberapa siung bawang putih di dapur, mengupas, dan memotongnya menjadi beberapa bagian.

Lalu merendamnya ke dalam wadah berisi air yang ditutup rapat.

Keesokan paginya, dengan penuh semangat saya mengambil rendaman bawang putih tadi.

Segera mengencerkannya ke dalam sprayer, dan tidak lupa menambahkan sedikit cairan sabun cuci piring (sunlight). Lalu mengocoknya hingga seluruh bahan bercampur rata.

Sebelum matahari mulai naik, seluruh tabulampot telah saya semprot pestisida organik sebasah2nya.

Hati pun merasa puas dan lega.

Ekspektasi saya, dalam 24 jam ke depan, sebagian besar kutu putih akan mati. Jadi, saya tunggu hasilnya sampai besok.

Akhirnya pagi itu pun tiba, dan saya bergegas melangkah ke pekarangan belakang rumah, menengok anak2 saya (para tabulampot) untuk memastikan hasil dari penyemprotan pestisida organik kemarin.

Dan spontan saya tersenyum sumringah, karena benar adanya, lebih dari 90% kutu putih telah berpindah alam (mati).

Tapi eittss… ada yang enggak beres dengan tabulampot anggur saya.

Saya lihat daunnya pada kering gosong.

Penampilan pohon benar2 memperihatinkan, karena mayoritas daun tampak cacat (gosong).

Singkat cerita, setelah melakukan sejumlah eksperimen dan pengamatan selama beberapa minggu kemudian, akhirnya saya menemukan jawaban; mengapa tabulampot anggur saya daunnya pada gosong.

Itu sepenuhnya disebabkan oleh cairan sabun cuci piring yang saya tambahkan ke larutan pestisida organik, yang tujuannya adalah sebagai perekat & perata, serta mempercepat proses pembunuhan kutu putih.

Faktanya, daun tanaman anggur ternyata sangat sensitif terhadap larutan sabun.

Saya sudah coba dengan dosis sabun serendah mungkin, namun tetap menimbulkan kerusakan ringan pada daun.

Jadi, itulah kesalahan yang saya lakukan sekitar 4 tahun lalu kalo gak salah, saya lupa tepatnya.

Jangan sampai Anda melakukan kesalahan yang sama.

Ngomong2 apakah Anda memiliki pengalaman serupa, seperti kesalahan saya di atas?

Barakallahu fiikum,

Ibnul ‘Inab

Mengapa ada butiran “bola kecil” bening di pohon anggur saya?

Apakah Anda menemukan satu atau beberapa butir bola kecil seukuran “biji lada” atau kurang, berwarna bening hingga transparan, yang menempel pada permukaan sisi bawah daun, permukaan batang pucuk muda, permukaan tangkai bunga, atau lokasi lainnya?

Jika IYA, teruskan membaca!

Karena tulisan ini akan menjelaskan; benda apa itu.

Kebanyakan kasus, penghobi yang menemukan benda tersebut akan “spontan” mengira itu adalah telur hama atau serangga.

Faktanya, BUKAN.

Grape pearls (mutiara anggur)
Sumber: Lodi Winegrape Commission

Para ahli menyebutnya Sap Balls (bola getah) atau Grape Pearls (mutiara anggur).

Terserah Anda mau gunakan istilah yang mana.

Mereka mengatakan, bahwa grape pearls “berbeda” dengan telur serangga.

Grape pearls memiliki ukuran yang bervariasi satu sama lain, dan berwarna bening hingga transparan secara keseluruhan.

Sedangkan telur serangga memiliki ukuran yang seragam dan berwarna putih susu hingga buram, serta memiliki embrio (bintik gelap) di bagian tengahnya – yang nantinya akan berkembang dan membesar menjadi tubuh serangga.

Sampai saat ini belum diketahui secara ilmiah, bagaimana proses grape pearls terbentuk dan apa fungsinya bagi tanaman anggur.

Namun semua ahli sepakat; grape pearls tidak memiliki dampak negatif apapun terhadap kelangsungan tumbuh pohon anggur.

Jadi… setiap kali Anda menemukan grape pearls dengan ciri-ciri seperti di atas, maka abaikan saja!

Namun jika ciri-cirinya lebih mengarah ke telur serangga, maka segera ambil dan pecahkan, agar telur tersebut tidak berkembang menjadi calon hama perusak tanaman.

Itu saja yang ingin saya share, semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum,

Ibnul ‘Inab

Referensi:

  1. Buku Grapes 2nd Edition oleh Glen L. Creasy and Leroy L. Creasy.
  2. Artikel Important Structures & Features of Grapevines oleh Lodi Winegrape Commission.
  3. Artikel Grape Pearls – Weird sap on the vine oleh Donald Lewis dari Department on Entomology, Iowa State University.

Maaf, seluruh konten di website ini tidak bisa Anda copy!

Scroll to Top