Begini Cara Menyiram Pohon Anggur Yang Benar (Volume Air & Frekuensinya)

Sejak saya menerima konsultasi seputar menanam anggur dari pembaca Daunku.com, mulai tahun 2014 sampai hari ini, saya dapati tidak kurang dari 70% kasus tanaman anggur mati di usia muda adalah akibat kesalahan teknis penyiraman.

Sedangkan 30% sisanya disebabkan karena faktor lain seperti overdosis pupuk, serangan hama & penyakit, keracunan pupuk kandang yang belum difermentasi sempurna, salah komposisi media tanam, kekurangan sinar matahari, dsb.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penghobi pemula tidak paham cara menyiram pohon anggur yang benar.

Padahal dampaknya sangat fatal.

Oleh karena itu, hari ini saya ingin berbagi tips cara menyiram tanaman anggur yang paling tepat berdasarkan pengalaman pribadi dan didukung oleh beberapa referensi ilmiah yang saya kumpulkan.

Prinsipnya, ada perbedaan yang sangat besar antara pohon anggur muda dan pohon dewasa dalam hal frekuensi penyiraman dan volume air yang diberikan dalam sekali penyiraman.

Mari kita bahas lebih dalam!

Teknis Penyiraman Pohon Anggur Muda

Definisi “pohon muda” yang saya maksud adalah pohon anggur usia 0 hari setelah tanam ke pot besar atau grounding (di tanah langsung) hingga pohon telah memiliki percabangan yang rimbun dan menjelang siap dibuahkan pertama kali.

Pada usia tersebut, perakaran pohon didominasi oleh akar muda berwarna putih, lunak dan belum terbentuk lapisan kayu pada dinding akar.

Perakaran Tanaman Anggur Muda

Hal itu menjadikan akar sangat mudah patah/putus dan rentan busuk apabila area tanah di sekitar perakaran terlalu lembab dalam waktu lama.

Ketika ada beberapa akar yang busuk, maka pembusukan akan menyebar ke akar-akar lainnya yang berdekatan. Nah, pohon anggur akan berakhir mati apabila semua akar yang dimilikinya telah membusuk.

Catatan pentingnya adalah pembusukan akar tersebut disebabkan oleh kelembaban tanah berlebih.

Bagaimana teknis penyiraman yang benar?

Pada pohon anggur muda, gunakan kaedah “Tunda penyiraman apabila tanah masih terasa lembab!”

Maksudnya begini:

Sebelum pohon disiram, ambil tanah sedalam kira-kira 10cm di dekat batang pokok atau radius 1-2 jengkal. Kemudian kepal/genggam kuat tanah tersebut.

Apabila setelah dikepal tanah tetap menggumpal, maka pohon belum perlu disiram.

Namun jika tanah seketika melebur (bahasa Jawanya: ambyar/buyar) setelah dikepal, maka harus dilakukan penyiraman hari itu juga.

Cara mengecek kelembaban tanah 1
Cara mengecek kelembaban tanah 2

Alasan kita mengecek kelembaban tanah lapisan atas adalah karena jika tanah lapisan atas saja masih lembab, maka dipastikan tanah lapisan di bawahnya pun masih lembab, bahkan bisa jadi jauh lebih lembab.

Perlu anda ketahui bahwa pergerakan air di dalam tanah mengikuti hukum kapiler seperti pada sumbu kompor. Dimana air bergerak dari bawah ke atas atau diserap naik melalui material-material tertentu yang memiliki daya serap air tinggi.

Tanah yang gembur dan subur juga termasuk material yang memiliki daya serap air tinggi.

Gambarannya seperti ini:

Ketika anda menyiram seember air ke tanah, maka air tersebut akan meresap turun ke dalam tanah hingga kedalaman tertentu akibat tekanan gaya grafitasi bumi.

Nah, setelah volume air telah memenuhi pori-pori tanah dan berhenti bergerak turun di kedalaman tertentu, maka pada saat itu proses kapilarisasi akan dimulai mengikuti tingkat penguapan air yang terjadi di tanah lapisan atas akibat sinar matahari atau hembusan angin.

Di saat tanah lapisan atas mulai mengering akibat penguapan, maka partikel air pada lapisan tanah di bawahnya akan bergerak naik ke atas dan melembabkan kembali lapisan di atasnya.

Begitu seterusnya sampai partikel air di dalam tanah lapisan bawah habis yang menyebabkan tanah mengalami kekeringan dari lapisan atas hingga bawah.

Kapilarisasi tanah

Jadi, itulah landasan teori yang saya gunakan saat membuat kaedah penyiraman di awal tadi (tunda penyiraman apabila tanah masih terasa lembab).

Oya, waktu terbaik untuk mengecek kelembaban tanah adalah pada pagi hari sebelum matahari naik. Karena proses kapilarisasi tanah paling aktif terjadi di malam hari. Sehingga, ketika pagi harinya dilakukan pengecekan, InsyaAllah hasil yang didapat bisa lebih akurat.

Berapa banyak volume air yang diberikan dalam sekali penyiraman?

Tergantung pada media tumbuh pohon anggur anda.

Apabila ditanam di dalam pot, maka siramlah sampai seluruh media tanam dalam pot benar-benar basah. Umumnya ditandai dengan adanya air yang mengalir keluar dari lubang drainase di dasar pot.

Sebaiknya jangan menyiram berlebihan, karena jika terlalu banyak air yang keluar dari pot, otomatis akan lebih banyak juga kandungan nutrisi di dalam media tanam yang ikut terbawa air ke luar pot.

Sedangkan untuk pohon anggur yang ditanam grounding, penyiraman sekitar 5 liter atau 5 gayung sudah cukup.

Jangan berlebihan! Karena kalo terlalu banyak tentu nutrisi di dalam tanah juga akan ikut turun terbawa air siraman menjauh dari akar, sehingga akar tidak mampu menjangkaunya.

Teknis Penyiraman Pohon Anggur Dewasa

Yaitu pohon anggur yang sudah memiliki percabangan rimbun dan siap dibuahkan pertama kali, serta berlanjut seterusnya sampai akhir hayatnya.

Ketika pohon anggur anda telah mencapai fase ini, biasanya penyiraman perlu dilakukan setiap hari untuk pohon di dalam pot atau 1-3 hari sekali untuk pohon yang ditanam grounding.

Bahkan untuk pohon anggur yang ditanam dalam pot kecil (diameter < 40cm) biasanya perlu disiram 2 kali sehari, pagi dan sore.

Khusus untuk pohon grounding yang sedang kondisi berbunga/berbuah, penyiraman harus rutin setiap hari untuk mendukung perkembangan bunga dan pembesaran buah.

Pada kondisi tersebut pohon anggur sangat sensitif terhadap kekeringan.

Sekali saja pohon mengalami kekeringan, bunga-bunga akan berguguran, sedangkan buah mendadak keriput dan tidak mampu membesar lagi setelah itu. Baca artikel ini untuk penjelasan yang lebih lengkap: Mendadak Buah Anggur Anda Keriput? Ini Penyebabnya

Berapa banyak volume air yang diberikan dalam sekali penyiraman?

Kaedahnya sama seperti pada pohon anggur muda. Untuk pohon di dalam pot, siram sampai seluruh media tanam basah. Sedangkan pohon yang digrounding siram sebanyak 5 liter air.

Oke, lah. Saya rasa cukup.

Kalo anda punya pertanyaan, silahkan tulis pada kolom komentar di bawah.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam berkebun buah 😀

Mendadak Buah Anggur Anda Keriput? Ini Penyebabnya…

Bagaimana perasaan anda, ketika pohon anggur anda berbuah lebat, namun tiba-tiba banyak berry yang mengkerut/keriput seperti foto di atas?

Itu adalah foto milik Bpk. Kalvin Tan yang menanyakan masalah tersebut di grup facebook saya: Komunitas Berkebun Daunku.com (klik jika anda ingin ikut bergabung).

Merujuk publikasi UC Agriculture & Natural Resources tanggal 15 Juli 2010 dari University of California yang berjudul “Distinctive symptoms differentiate four common types of berry shrivel disorder in grape“, menjelaskan bahwa ada 4 faktor penyebab berry anggur mengalami gejala keriput.

Keempat faktornya adalah:

  1. Akibat terbakar terik matahari
  2. Pohon dehidrasi atau kekurangan air
  3. Tangkai berry mengalami nekrosis (mengering/mati)
  4. Gangguan akumulasi gula

Saya tidak akan menjelaskan detail masing-masing faktor.

Silahkan anda pelajari sendiri melalui link sumber yang sudah saya sertakan di atas.

Lalu, bagaimana dengan kasus buah anggur Pak Kalvin Tan?

Berdasarkan gejala yang saya lihat dari foto, berry mengalami keriput akibat pohon kekurangan air atau dehidrasi.

Sehingga, solusinya adalah memperbaiki manajemen penyiraman.

Perlu dicatat bahwa pohon anggur yang sedang berbuah memerlukan penyiraman setiap hari sekali dengan volume penyiraman yang terukur dan stabil.

Misal 1 ember air setiap hari.

Jangan fluktuatif!

Misalnya, kemarin 1 ember; hari ini 2 ember; besok 1 ember lagi; dan seterusnya.

Hal itu bisa menyebabkan pohon tidak stabil dalam menyuplai air ke buah yang beresiko menimbulkan masalah, seperti berry mengalami crack (retak/pecah) atau lainnya.

Sebagai catatan tambahan, berry anggur yang sudah terlanjur keriput akibat kekurangan air, biasanya perkembangannya akan stag (berhenti) sejak saat itu.

Sekalipun pohon sudah mendapat penyiraman yang cukup setelahnya dan kondisi berry kembali normal. Namun berry tidak akan bisa membesar lagi.

Dan pengalaman saya, berry tidak bisa matang, meskipun sudah melewati batas umur panen.

Itu berdasarkan pengalaman saya beberapa tahun lalu.

Ketika itu, ada beberapa tabulampot anggur saya yang mengalami kasus sama dan akhirnya gagal panen.

Tapi itu hanya pengalaman saya pribadi, lho, ya…

Jadi, saya tidak bisa mengatakan hal itu pasti akan terjadi juga pada buah anggur Pak Kalvin Tan.

Mungkin saja hasil akhirnya berbeda.

Kita tunggu saja jawabannya di akhir umur panen, sekitar 3 bulan sejak pangkas pembuahan.

Sementara itu saja yang bisa saya share, semoga bermanfaat.

Terimakasih dan salam berkebun… 😀

16 Tips Berkebun Tabulampot Untuk Anda Yang Super Sibuk

Tepat pukul 5 sore, hujan turun sangat deras.

Saya duduk di sebuah kursi kayu tua di teras belakang rumah yang beratapkan asbes.

Sambil menikmati secangkir kopi hangat, suara gemericik air dan sejuknya angin bercampur embun, seketika menghilangkan lelahnya badan setelah seharian beraktifitas.

Di sana saya memandangi pekarangan belakang rumah yang kosong.

Hanya ada 2 pohon buah dalam pot yang bersandingan di samping tembok panel beton setinggi 3 meter.

Pohon pertama adalah Apel Putsa di dalam pot plastik diameter 50cm yang hampir semua cabangnya penuh dengan bunga dan beberapa buah muda seukuran ujung telunjuk.

Di sebelahnya ada Barbados Cherry, menggunakan pot plastik 35cm yang buahnya baru saja saya panen kemarin siang.

Tabulampot Apel Putsa dan Barbados Cherry
(Gambar: Tabulampot Apel Putsa dan Barbados Cherry)

Kedua tabulampot tersebut saya tanam sekitar 2 tahun yang lalu, jika tidak salah.

Sekitar 3 meter dari sana, ada beberapa pot kecil berjejer rapi milik istri saya yang berisi tanaman daun mangkok, kunyit, lidah buaya dan beberapa pot lagi sudah dipenuhi rumput-rumput tak jelas.

Bola mata saya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mengamati pemandangan halaman belakang dari sudut satu ke sudut lain hingga beberapa kali.

Tak lama itu terlintas di benak saya, “Bagaimana jika pekarangan ini saya isi dengan tabulampot. Kemungkinan bisa muat 15 pot, bahkan lebih”.

Spontan hati menjawab, “Ahh, mana mungkin. Tidak ada waktu untuk itu. Saya terlalu sibuk”.

Kring… kring… kring… Tiba-tiba handphone berbunyi.

Rupanya ada telpon masuk dari salah satu klien. Saya pun kembali masuk rumah untuk menjauhi bisingnya suara hujan.

Setelah itu, keinginan saya untuk berkebun tabulampot lenyap ditelan kesibukan.

Bisa jadi, cerita pendek di atas pernah anda alami sendiri.

Anda ingin menanam berbagai tanaman buah dalam pot, namun keinginan tersebut pupus karena terhalang oleh kesibukan kerja.

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang datang kepada anda untuk memberi informasi cara budidaya tabulampot khusus orang sibuk, di mana anda hanya perlu meluangkan waktu 2 jam seminggu bahkan kurang?

Apakah anda tertarik mendengarnya?

Jika tertarik, maka saya ingin menyampaikan informasi tersebut melalui tulisan ini. Saya telah merangkumnya menjadi 16 tips yang bisa anda praktekkan hari ini juga.

Penasaran?

Mari kita mulai.

Tips #1 – Tanamlah Pohon Buah Yang Minim Perawatan

Ada jenis tanaman buah yang memerlukan perhatian lebih. Kita harus mengeceknya secara berkala beberapa minggu sekali untuk memastikan tanaman tidak mengalami masalah.

Dan jika ada masalah, seperti gejala serangan hama & penyakit atau gejala pertumbuhan yang tidak normal lainnya, maka harus ditangani sesegera mungkin.

Jika tidak ditangani dengan baik dan cepat, tanaman bisa mengalami masalah yang lebih serius, bahkan bisa berakhir kematian.

Namun ada juga jenis pohon buah lain yang terlalu tangguh, sehingga tidak membutuhkan perhatian sama sekali.

Meskipun pada prakteknya kita tetap harus mengecek secara berkala, namun frekuensi pengecekannya tidak perlu sering, cukup beberapa bulan sekali.

Nah, untuk menghemat waktu dan energi dalam berkebun tabulampot, sebaiknya anda hanya mengoleksi jenis pohon buah kelompok kedua ini.

Lebih bagus lagi jika anda menanam beragam jenis pohon buah yang teknis perawatannya bisa disamakan ratakan antara pohon satu dengan lainnya.

Memangnya ada ya?

Banyak.

Saya hitung, tidak kurang dari 30 jenis tanaman buah yang bisa dipukul rata cara perawatannya.

Saya akan bahas ketiga puluh jenis pohon buah tersebut pada tulisan yang lain, InsyaAllah.

Tips #2 – Pilihlah Metode Budidaya Tabulampot Yang Paling Sederhana & Hemat Waktu

Di luar sana ada banyak sekali referensi cara budidaya tabulampot dengan beragam versi berbeda.

Mulai dari yang paling sederhana hingga rumit. Dari yang sangat efisien hingga yang boros waktu dan tenaga.

Bagi orang yang sangat sibuk, memilih metode budidaya sesederhana mungkin adalah harga mati.

Masalah utama mengapa banyak orang yang tidak bisa berkebun tabulampot sebetulnya bukan karena kesibukan, namun karena tidak tahu cara berkebun yang paling sesuai dengan kondisi mereka.

Ketakutan orang-orang sibuk seperti saya dan anda dalam berkebun biasanya adalah tidak siap untuk konsisten dalam menyiram, memupuk, mencabuti rumput, memangkas cabang-cabang tidak beraturan, mengatasi serangan hama & penyakit, dan tugas-tugas berkebun lainnya yang tampaknya sangat menyita waktu dan energi kita.

Padahal, banyak dari tugas-tugas tersebut yang bisa diselesaikan menggunakan teknologi berkebun modern.

Inilah beberapa tugas berkebun yang bisa diatasi:

  • Penyiraman tidak lagi manual dengan adanya alat irigasi otomatis.
  • Masalah rumput bisa dicegah dengan menutupi permukaan media tanam pot menggunakan mulsa.
  • Serangan hama bisa diminimalisir dengan menanam tumbuh-tumbuhan penangkal hama.
  • Pemupukan hanya perlu 3 bulan sekali dengan adanya produk pupuk golongan Slow Release.
  • dan masih banyak lagi…

Jadi, hilangkan pola pikir tradisional kita tentang berkebun. Hari ini cara berkebun di pekarangan rumah sudah semakin mudah dan praktis.

Tips #3 – Gunakan Alat Irigasi Otomatis

Salah satu tugas berkebun yang paling banyak menyita waktu adalah menyiram. Karena harus dilakukan setiap hari sepanjang hidup tabulampot kita.

Sebetulnya, menyiram tanaman adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. Senikmat ketika kita memetik buah-buahan segar dari kebun sendiri.

Saya pun merasakannya.

Karena pada saat menyiram, kita sedang berinteraksi secara langsung dengan tanaman.

Sambil menyiram, sedikit atau banyak, kita ikut merasakan apa yang sedang dialami tanaman kita.

Pohon yang pertumbuhannya tampak sehat dan subur menyiratkan pohon tersebut mendapatkan kebahagiaan.

Sedangkan tanaman yang terlihat sakit dan pertumbuhannya lambat, biasanya kita merasa agak bersalah. Kita mungkin merasa kurang maksimal dalam memperhatikan mereka, atau mungkin kita menjadi ragu, bisa jadi ada yang salah dalam cara kita merawat.

Itulah perasaan yang saya alami sebagai pecinta tanaman. Dan di situlah sensasi paling berkesan dalam berkebun.

Tapi mungkin saja, tiap orang memiliki perasaan yang berbeda.

Namun karena anda memiliki kesibukan yang padat, maka mengerjakan tugas menyiram setiap hari adalah ide yang buruk.

Anda akan kewalahan dan bisa saja berhenti total dari mengurus kebun tabulampot anda karena frustasi dengan tugas tersebut.

Kecuali jika ada orang di rumah yang bisa diandalkan untuk mngerjakannya. Seperti suami/istri, anak-anak, atau mungkin asisten rumah tangga anda. Maka anda tidak membutuhkan alat irigasi otomatis sama sekali.

Sedangkan bagi anda yang merasa tidak mampu untuk konsisten menyiram tabulampot setiap hari dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikan anda, maka siapkan modal dari sekarang untuk membeli seperangkat alat irigasi otomatis.

Fertigasi Pot
Alat Irigasi Otomatis
Irigasi Pot Otomatis

Biaya alat tersebut sangat relatif. Bisa sangat murah, senilai puluhan ribu rupiah. Namun juga bisa lebih mahal hingga ratusan ribu rupiah.

Biaya yang anda keluarkan tergantung jenis alat yang anda gunakan, karena sistem irigasi otomatis ada bermacam-macam.

Tips #4 – Gunakan Ukuran Pot Yang Sama Untuk Semua Pohon

Kebanyakan orang menanam tabulampot menggunakan beragam ukuran pot berbeda.

Anda disarankan melakukan sebaliknya, yaitu menggunakan ukuran pot yang seragam pada seluruh koleksi tabulampot anda.

Apabila anda ingin menanam 10 tabulampot, maka seluruhnya harus menggunakan ukuran pot yang sama. Misal pot diameter 50cm semua, atau 40cm semua, atau mungkin seukuran belahan drum semua.

Terserah anda.

Ukuran Pot Seragam
Ukuran Pot Yang Seragam

Mengapa harus begitu?

Alasan pertama, dengan menggunakan ukuran pot yang seragam, maka pemasangan alat irigasi otomatis akan menjadi lebih mudah dan rapi.

Bayangkan jika anda menanam 10 tabulampot, kemudian ada yang menggunakan pot diamater 50cm, 40cm dan 30cm. Nantinya cukup sulit untuk mengatur volume air pada alat irigasi.

Karena secara umum, alat irigasi otomatis akan mengalirkan air dengan debit atau volume yang sama pada masing-masing titik tanam atau pot.

Jika alat irigasi anda atur outputnya sebanyak 3 liter, maka masing-masing pot akan mendapatkan 3 liter air.

Nah, tidak mungkin kan anda menyiram pot ukuran 30cm dan 40cm sebanyak itu setiap hari. Masing-masing hanya butuh 1-2 liter air. Sedangkan 3 liter air adalah kebutuhan untuk pot diamater 50cm.

Alasan kedua adalah untuk mendukung Tips #1 yang telah kita bahas, dimana anda hanya disarankan menanam jenis pohon buah yang perawatannya bisa dipukul rata.

Nah, karena teknis perawatannya dipukul rata, maka mau tidak mau, ukuran pot-nya pun harus disama-ratakan juga.

Contohnya begini, dosis dan frekuensi pemupukan untuk pohon yang ditanam dalam pot diameter 50cm akan sangat berbeda dengan yang ditanam dalam pot 30cm.

Apabila pot ukuran 50cm memerlukan pupuk NPK sebanyak 2 sendok makan setiap sebulan sekali, maka pada pot ukuran 30cm hanya perlu 1 sendok teh setiap 2 minggu sekali.

Semakin kecil ukuran pot, maka semakin rendah dosis pupuk yang diberikan dan semakin sering frekuensi pemupukannya.

Perbedaannya sangat jauh, bukan.

Itu baru contoh dalam hal pemupukan, belum teknis-teknis perawatan lainnya.

Jadi sekali lagi, tidak ada pilihan lain, anda harus menggunakan ukuran pot yang seragam untuk mempermudah cara anda berkebun.

Tips #5 – Hindari Pupuk Golongan Fast Release

Terserah anda ingin menggunakan pupuk kimia/sintetis maupun pupuk organik. Namun, jangan gunakan pupuk yang tergolong fast release.

Pupuk fast release artinya pupuk tersebut akan segera diserap tanaman dalam hitungan hari sejak pupuk tersebut diaplikasikan ke tanaman. Sehingga, pertumbuhan pohon mendadak lebih cepat setelah pemupukan.

Lho, bukankah itu bagus?

Untuk tanaman semusim seperti cabe, sayur-sayuran, melon, semangka dan semisalnya, itu memang bagus, karena bisa mempercepat masa panen.

Namun untuk tanaman tahunan seperti pohon buah-buahan, pupuk fast release akan mengganggu keseimbangan pertumbuhan organ tanaman secara jangka panjang.

Silahkan anda lihat ilustrasi berikut!

Slow Release vs Fast Release Fertilizer
(Ilustrasi: Perbandingan hasil penggunaan pupuk slow release dan fast release)

Tanaman yang dipupuk golongan fast release, pertumbuhan organ atas (batang dan daun) akan lebih cepat dibanding tanaman yang dipupuk golongan slow release.

Sebaliknya, tanaman yang dipupuk slow release memiliki organ bawah (perakaran) yang jauh lebih rimbun dan kokoh. Sedangkan tanaman yang dipupuk fast release, pertumbuhan akar sangat tertinggal, tidak mampu mengejar kecepatan tumbuh organ atas.

Apa dampak buruknya ketika pertumbuhan organ atas dan bawah tidak seimbang?

Bagi tabulampot, hal itu akan menimbulkan 3 masalah berikut:

1. Organ atas kekurangan nutrisi

Akar adalah organ tanaman yang berfungsi untuk menyuplai air dan nutrisi bagi organ atas secara keseluruhan, mulai dari batang, daun, bunga dan buah.

Ketika organ atas pertumbuhannya terlalu cepat dan organ bawah tidak mampu mengejar, maka tunggulah sampai tiba saatnya di mana suplai nutrisi yang dipasok oleh akar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh organ atas.

Biasanya akan muncul gejala kekurangan nutrisi seperti warna daun berubah, daun mengeriting atau menggulung, daun-daun baru tumbuh cacat, hingga pertumbuhan tunas baru berhenti total.

2. Imunitas tanaman menjadi lemah

Fisik dan imunitas ayam kampung jauh lebih kuat dari ayam broiler.

Mengapa?

Tentu saja karena ayam broiler diberi nutrisi dalam jumlah besar-besaran. Tidak seperti ayam kampung yang makanannya terbatas.

Ehh, saya juga sering menjumpai ayam broiler yang dipelihara layaknya ayam kampung. Hasilnya, ayam broiler tersebut tidak kalah kuat dengan ayam kampung. Lagi-lagi disebabkan karena pemiliknya tidak memberikan nutrisi berlebihan.

Itu hanya perumpamaan saja.

Jika anda ahli tentang ayam dan pernyataan di atas salah, mohon beritahu saya lewat kolom komentar.

Tanaman yang pertumbuhannya terlalu agresif dan tidak seimbang antara organ atas dan bawah akan menyebabkan ketahanan tanaman terhadap cuaca ekstrim dan serangan hama-penyakit menjadi lemah.

Sedangkan pohon yang pertumbuhannya porsional dan seimbang, ia akan memiliki imunitas yang baik, sehingga mampu bertahan dari cekaman cuaca ekstrim seperti curah hujan tinggi dan kemarau panjang, serta mampu bertahan dari serangan hama & penyakit yang selalu datang silih berganti sepanjang umur tanaman.

Betapa repotnya memiliki tanaman yang sebentar-sebentar sakit diserang hama-penyakit, atau karena cuaca yang tidak menentu.

Jangan biarkan anda menghabiskan waktu menjadi dokter bagi tabulampot anda.

Jujur, itu sangat melelahkan.

Saya sudah pernah merasakannya dan tak ingin terulang kembali.

3. Menghasilkan buah dengan mutu dan kuantitas rendah

Jangankan menghasilkan buah berkualitas tinggi dalam jumlah yang tinggi pula, untuk menyuplai nutrisi ke batang, daun dan buah saja akar sangat kesulitan.

Apabila sejak awal tanam hingga pohon tumbuh dewasa anda menggunakan pupuk fast release, siap-siap saja memanen buah dari tabulampot anda dengan jumlah sedikit dan kualitas yang biasa-biasa saja bahkan rendah.

Selain berdampak buruk terhadap tanaman, penggunaan pupuk fast release juga memiliki kerugian bagi sang pemilik pohon.

Kerugian pertama, karena sifat dari pupuk fast release adalah sangat mudah larut dalam air, maka pupuk jenis ini mudah sekali tercuci oleh air hujan maupun air siraman.

Hal itu menjadikan pupuk fast release sulit bertahan lama di dalam media tanam pot. Apalagi saat musim hujan, kemungkinan besar hanya 50% saja yang bisa diserap tanaman bahkan kurang, sisanya hilang terbawa air.

Kerugian kedua, pupuk fast release bekerja sangat cepat. Hari ini kita berikan ke tanaman, seminggu kemudian hasilnya langsung kelihatan.

Karena bekerja cepat, maka pupuk pun cepat habis diserap tanaman.

Dan karena cepat habis, maka frekuensi pemupukan harus lebih sering, setidaknya 1-4 kali dalam sebulan.

Bagi anda yang menginginkan efisiensi waktu dalam berkebun, frekuensi pemupukan sebanyak itu tentu sangat tidak ideal.

Yang ideal adalah melakukan pemupukan cukup 3 bulan sekali. Dan itu hanya bisa dicapai jika anda menggunakan pupuk golongan slow release.

Contoh pupuk fast release dari deretan pupuk kimia yang paling kita kenal adalah NPK 16-16-16 merek apapun, entah itu NPK Mutiara, Pak Tani, YaraMila dan sebagainya.

Pupuk NPK Mutiara
(Gambar: NPK 16-16-16 merek Mutiara)
NPK Pak Tani
(Gambar: NPK 16-16-16 merek Pak Tani)

Sedangkan contoh pupuk kimia slow release adalah merek Dekastar.

Pupuk Dekastar
(Gambar: Pupuk Dekastar)

Untuk jenis pupuk organik yang tergolong fast release adalah segala macam POC (Pupuk Organik Cair). Sedangkan pupuk organik slow release antara lain kompos, pupuk kandang, Petroganik, Vedagro dan sebagainya.

Tips #6 – Hindari Pestisida Kimia

Alasan pertama anda harus menggunakan pestisida organik dan menjauhi pestisida kimia adalah karena penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus akan menyebabkan hama & penyakit menjadi kebal (resisten) dari pestisida kimia yang anda gunakan tersebut.

Lihat 3 publikasi di bawah ini!


Berita Tentang Resistensi Hama - Republika

Berita Tentang Resistensi Hama - Distan Buleleng

Berita Tentang Resistensi Hama - Kompas

Berbeda dengan pestisida organik, menggunakannya sesering apapun, hama-penyakit tidak akan mampu kebal darinya.

Alasan kedua adalah karena pestisida kimia bekerja tidak hanya membunuh hama & penyakit sasaran, namun memusnahkan juga semua musuh alami hama-penyakit tersebut.

Padahal, populasi musuh alami sangat bermanfaat untuk menekan serangan hama & penyakit yang datang dari luar kebun kita.

Sehingga, kita tidak perlu sering-sering menyemprot pestisida, di mana hal itu akan meningkatkan efisiensi waktu & energi kita dalam berkebun.

Pestisida organik sekalipun mematikan bagi hama & penyakit, namun sangat ramah lingkungan bagi makhluk hidup lain, termasuk musuh alami hama-penyakit.

Tips #7 – Gunakan Produk Pupuk Yang Cocok Untuk Segala Jenis Tanaman Buah

Ada puluhan merek pupuk di pasaran.

Carilah produk pupuk yang kandungannya ideal untuk segala jenis tanaman buah. Sehingga, hanya diperlukan 1 atau 2 produk pupuk saja untuk seluruh koleksi tabulampot anda.

Jangan sampai anda menggunakan produk pupuk yang berbeda-beda untuk tabulampot jeruk, mangga, kelengkeng dan lainnya.

Anda akan kewalahan saat melakukan pemupukan. Karena biasanya, tiap produk pupuk memiliki aturan pakai yang berbeda.

Tips #8 – Gunakan Pestisida Organik Yang All-in-One

Umumnya, mengatasi serangan hama serangga ada jenis pestisidanya sendiri. Hama ulat juga demikian. Begitu pun penyakit akibat jamur dan bakteri, keduanya menuntut penggunaan jenis pestisida yang berbeda.

Terbayang, kan, betapa repotnya menggunakan beragam jenis pestisida untuk kebun tabulampot kita.

Karena bagaimanapun, serangan hama serangga, ulat, kutu, penyakit jamur, virus dan bakteri akan datang silih berganti sepanjang umur tanaman.

Solusinya, belilah produk pestisida organik yang kandungannya bisa mengatasi segala macam hama dan penyakit. Sangat praktis. 😀

Contohnya adalah pestisida organik merek MAGICgro G7.

Pestisida Organik MAGICgro G7
Gambar: Pestisida organik MAGICgro G7.

Tips #9 – Cegah Pertumbuhan Rumput Dengan Mulsa

Mencabuti rumput yang tumbuh di dalam pot adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Apalagi pertumbuhan rumput tidak pernah berhenti.

Mati satu, tumbuh seribu, begitulah pribahasanya.

Kabar baiknya, anda bisa mencegah mereka tumbuh.

Caranya adalah dengan menutupi permukaan media tanam pot menggunakan mulsa (mulch) seperti jerami, sekam padi, gergajian kayu / serbuk kayu, potongan kayu, pecahan batok kelapa, potongan sabut kelapa, dan semisalnya.

Tutupi media tanam pot menggunakan salah satu bahan di atas setebal 1-2 cm sebagai penghalang cahaya matahari, sehingga biji-biji rumput yang berada di permukaan media tanam tidak mampu tumbuh.

Selain mencegah pertumbuhan rumput, mulsa juga bermanfaat untuk menjaga kelembaban media tanam agar tidak cepat kering, sehingga dapat menghemat kebutuhan air.

Manfaat Menggunakan Mulsa
(Tabel: Manfaat menggunakan mulsa/mulch)
Mulsa Serbuk Kayu Pada Tabulampot
(Gambar: Penggunaan mulsa gergajian kayu pada tabulampot)
Mulsa Potongan Kayu
(Gambar: Memanfaatkan potongan kayu untuk mulsa)
Mulsa Jerami Dalam Planterbag
(Gambar: Mulsa jerami pada planterbag)

Tips #10 – Gunakan Komposisi Media Tanam Yang Tidak Cepat Memadat

Salah satu kekurangan dari menanam pohon buah di dalam pot adalah kita perlu mengganti media tanam pot secara berkala setiap 1-2 tahun sekali.

Hal itu dikarenakan media tanam akan memadat seiring berjalannya waktu.

Sementara media tanam yang sudah terlalu padat dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan tanaman. Perakaran pohon akan kekurangan oksigen dan kesulitan menyerap air maupun unsur hara. Di samping itu, sebagian besar mikroorganisme tanah yang menguntungkan akan mati.

Nah, untuk menjaga kegemburan dan porousitas media tanam agar bertahan lama, diperlukan komposisi media tanam yang tepat.

Selain menggunakan campuran tanah + kompos/pupuk kandang, anda juga perlu menambahkan bahan penggembur lain yang tidak mudah hancur seperti sekam bakar (arang sekam) atau pasir bangunan.

Dengan begitu, penggantian media tanam bisa dilakukan lebih jarang, cukup 2-3 tahun sekali.

Pasir
(Gambar: Pasir bangunan)
Arang sekam / sekam bakar
(Gambar: Arang sekam / sekam bakar)

Tips #11 – Tanamlah Beberapa Jenis Tabulampot Yang Cepat Berbuah

Penghobi manapun pasti ingin segera menikmati buah hasil kebun sendiri secepatnya.

Bayangkan anda memiliki 10 tabulampot dan dalam waktu kurang dari 6 bulan sudah ada 3 atau 4 tabulampot yang berbuah.

Saya yakin, semangat anda dalam berkebun akan semakin membara. Sekaligus, anda juga akan merasa sukses dan berpengalaman.

Bisa jadi, saat itu juga anda langsung berniat menambah koleksi tabulampot anda.

Mengapa ini penting?

Karena tidak sedikit penghobi yang berhenti di tengah jalan karena kehabisan semangat.

Bagaimana tidak kehabisan semangat, hampir semua tabulampot yang mereka koleksi tidak kunjung berbuah sejak bertahun-tahun ditanam.

Kebanyakan kita tidak mampu menunggu selama itu.

Termasuk saya sendiri.

Maka dari itulah saya share tips ini, supaya anda tidak kehilangan motivasi di tengah jalan.

Menurut pengalaman saya, tidak kurang dari 12 jenis pohon buah yang mampu berbuah sangat cepat di dalam pot. Saya akan bahas pada kesempatan yang lain, InsyaAllah.

Tabulampot Jambu Kristal
Tabulampot Belimbing
Tabulampot Jeruk Mandarin
Tabulampot Jambu Air Madu Deli Hijau
Tabulampot Kedondong Mini
Tabulampot Jeruk Santang Madu

Tips #12 – Koleksilah Tanaman Refugia Untuk Menangkal Hama

Saya kutip langsung dari Dinas Pertanian Kab. Mojokerto yang menjelaskan bahwa:

“Tanaman refugia adalah tanaman yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai tempat perlindungan dan sumber pakan bagi serangga musuh alami (baik predator atau pemangsa maupun parasitoid).

Hal tersebut dilakukan agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik.”

Bunga Matahari, Marigold, Zinnia, Petunia dan Bunga Pukul Delapan hanyalah sebagian kecil dari sederet tanaman bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai refugia.

Maksud menangkal di sini adalah hama-hama di kebun kita akan teralihkan menuju tanaman refugia, kemudian musuh alami hama yang hidup di sela-sela tanaman refugia akan segera memakan mereka.

Hasilnya, tabulampot kita relatif aman dari serangan hama.

Dengan begitu, penggunaan pestisida bisa semakin diminimalisir, yang artinya semakin efisien waktu dan energi.

Tanaman refugia bisa anda tanam di pinggiran kebun atau lokasi-lokasi lain yang kosong.

Selain menangkal hama, tanaman refugia juga akan menghias kebun anda menjadi lebih cantik dan berwarna.

Duh, rasanya lengkap sudah.

Pekarangan anda akan berisi aneka pohon buah dan tanaman bunga yang menyatu dalam satu pemandangan.

Indah dan eksotis, cukup tiga kata untuk menggambarkannya. 😀

Tanaman Bunga Refugia
Tanaman Refugia Di Pematang Sawah
Tanaman Refugia
Tanaman Refugia Di Pagar Rumah
Tanaman Refugia Penangkal Hama

Tips #13 – Pilihlah Frekuensi Pemupukan Yang Memungkinkan Anda Untuk Konsisten

Di luar sana banyak penghobi yang berbagi teknis pemupukan tabulampot dengan beragam frekuensi berbeda.

Ada yang menyarankan sebulan sekali, 2 minggu sekali, seminggu sekali, bahkan saya pernah dengar ada yang seminggu 2 kali.

Bagi mereka yang memiliki banyak waktu untuk berkebun, tidak ada masalah mengambil frekuensi manapun.

Namun bagi anda yang sangat sibuk, pemupukan 3 bulan sekali adalah yang paling memudahkan anda untuk konsisten. Pemupukan terlalu sering, terkadang membuat kita bosan dan akhirnya tidak disiplin lagi melakukannya.

Tips ini masih berkaitan erat dengan Tips #5, yang mana anda harus menggunakan pupuk slow release supaya frekuensi pemupukan bisa lebih jarang.

Di samping itu, anda juga perlu menggunakan pot diameter minimal 50cm agar hasilnya efektif.

Alasannya, pot ukuran segitu mampu menampung pupuk dengan dosis lebih tinggi, dibandingkan pot ukuran di bawahnya. Saya sudah jelaskan perihal ini sebelumnya. Semakin besar ukuran pot, semakin banyak dosis pupuk yang diberikan dan semakin rendah frekuensi pemupukannya.

Tips #14 – Rencanakan Semuanya Di Awal

Dalam pekerjaan apapun, kita dituntut melakukan pekerjaan tersebut dengan perencanaan dan sistematis. Tujuannya supaya pekerjaan bisa diselesaikan dengan mulus dan seefisien mungkin.

Kaedah tersebut juga berlaku dalam berkebun.

Anda perlu merencanakan semuanya sejak awal.

Mulai dari lokasi penempatan tanaman, jumlah tabulampot, jenis tanaman buah yang ingin dikoleksi, ukuran pot yang digunakan, komposisi media tanam yang dipilih, metode budidaya tabulampot yang akan diterapkan, dan seterusnya.

Dengan melakukan perencanaan, segala hal yang harus anda lakukan dan apapun yang anda perlukan akan menjadi jelas dan gamblang.

Sehingga, anda bisa menggunakan waktu berkebun seefektif mungkin.

Jangan sampai waktu 2 jam seminggu yang anda sediakan untuk berkebun terbuang sia-sia atau hanya habis untuk melakukan sesuatu yang berdampak kecil.

Tips #15 – Dokumentasikan Perjalanan Berkebun Anda

Bagian ini tidak harus (optional), namun menurut saya masih cukup penting.

Anda bisa mendokumentasikan setiap proses yang telah anda selesaikan dalam bentuk foto atau video.

Misalnya, anda baru saja selesai menanam semua bibit buah ke dalam pot. Ambil foto atau rekam video semua tabulampot baru anda tersebut.

Setelah beberapa minggu kemudian atau sebulan sekali, ambil kembali foto/video seluruh tabulampot anda.

Dengan begitu, anda telah memiliki dokumen perkembangan kebun tabulampot dari waktu ke waktu.

Apa manfaatnya?

Dokumentasi tersebut akan berguna nanti saat anda ingin berbagi pengalaman dengan teman, keluarga atau kerabat, ketika anda ingin memotivasi dan mengajari mereka cara berkebun tabulampot.

Jujur saja, bisa berbagi pengalaman berkebun ke orang lain memiliki kenikmatan tersendiri. Tidak kalah nikmat dengan memetik buah-buahan segar dari hasil kebun sendiri.

Apalagi anda berbagi pengalamannya setelah berhasil membesarkan belasan atau puluhan tabulampot hingga berbuah produktif.

Wah, itu sensasinya akan sangat luar biasa.

Terkadang, berbagi pengalaman ke orang lain tentang cara berkebun itu lebih mengasyikkan dibandingkan berkebun itu sendiri. Haha… 😀

Tips #16 – Carilah Mentor Pribadi

Ini juga tidak harus, sangat optional.

Namun, memiliki mentor pribadi merupakan jalan tol yang bisa mempercepat keberhasilan anda dalam budidaya tabulampot.

Berkebun adalah ilmu terapan, bukan teori.

Anda akan menemukan banyak masalah setelah terjun langsung di lapangan. Apa yang anda pelajari secara teoritis seringkali tidak sama dengan prakteknya.

Sekalipun anda telah menguasai teori berkebun hingga di luar kepala, pada akhirnya anda akan tetap bereksperimen dan jatuh-bangun dalam mempraktekkannya.

Nah, fungsi mentor pribadi adalah meminimalisir proses eksperimen dan jatuh-bangun tersebut, sehingga anda tidak perlu bersusah payah dan sakit kepala dalam menghadapinya.

Tidak sedikit penghobi yang mundur sekalangkah demi selangkah dari dunia berkebun gara-gara tidak mampu bertahan dalam menghadapi jatuh-bangun merawat tabulampot mereka.

Kata-kata Terakhir

Tidak sedikit orang yang tertarik menanam beragam pohon buah di dalam pot untuk menghijaukan pekarangan rumah mereka.

Sayangnya, niat tersebut hanya tersimpan di dalam kepala.

Bertahun-tahun telah berlalu dan itu tetap saja hanya di kepala, tidak pernah terealisasikan.

Penyebabnya karena, “Terlalu sibuk bekerja”, begitu kata mereka.

Faktanya, kesibukan bukanlah alasan.

Tidak tahu bagaimana cara berkebun yang menghabiskan sedikit waktu adalah akar masalah sebenarnya.

Namun setelah anda membaca 16 tips berkebun tabulampot untuk orang sibuk di atas, mestinya, alasan terlalu sibuk bekerja sudah hilang dari benak pikiran anda.

Solusi demi solusi telah siap untuk anda terapkan.

Sekarang terserah anda, apakah tetap kekeuh (ngotot) dengan persepsi selama ini yang mengatakan diri anda terlalu sibuk. Atau anda bergegas keluar rumah menuju pekarangan dan siap menggarap tabulampot pertama anda.

Mungkin itu saja yang bisa saya share.

Jangan lupa berlangganan artikel Daunku.com dengan mendaftarkan alamat email anda di kolom Gratis Berlangganan Artikel.

Saya akan mengabari anda via email setiap kali ada artikel baru yang dirilis. Selain itu, saya juga sering mengirim tips dan saran seputar berkebun buah di pekarangan rumah yang tidak saya share di sini dan di situs manapun.

Oke, saya akhiri.

Terimakasih dan salam berkebun… 😀

Pedoman Teknis Mengolah Lubang Tanam ‘Standar Pakar’

Telah diperbarui Desember 2020.

Pengolahan lubang tanam adalah titik awal penentu masa depan pohon buah anda.

Sebagus apapun kualitas bibit yang anda tanam…

Semahal apapun pupuk yang anda gunakan…

Dan sebaik apapun perawatan yang anda lakukan…

Semua itu akan percuma apabila pengolahan lubang tanam di awal tidak dilakukan dengan cara yang benar.

Kecuali, jika anda berkebun di lahan yang sangat subur.

Sayangnya, lahan seperti itu sudah langka sekarang.

Mau tidak mau, suka atau tidak, pengolahan lubang tanam harus dilakukan setiap kali akan menanam pohon buah. Baik tanam di lahan kebun maupun di pekarangan rumah.

Jadi, bagaimana cara mengolah lubang tanam yang benar?

Artikel ini akan menjawabnya secara tuntas, seakar-akarnya.

Anda siap?

Mari kita mulai.

Saya telah mengumpulkan dan meneliti banyak referensi ilmiah, mulai dari literatur lokal hingga internasional. Kabar baiknya, anda tidak perlu bersusah-payah melakukan itu, karena saya telah merangkumnya untuk anda.

Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan.

Langkah 1: Menggali Lubang

Buatlah lubang dengan kedalaman 50cm dan lebar minimal 50x50cm untuk tipe tanah gembur, atau minimal 75x75cm untuk tipe tanah keras dan padat.

Prinsipnya:

Makin besar ukuran lubang, semakin cepat bagi tanaman untuk membangun perakaran yang rimbun dan kokoh.

Makin rimbun dan kokoh perakaran, semakin cepat pertumbuhan tanaman menjadi pohon dewasa.

Akhirnya, pohon akan lebih cepat berbuah.

Jika anda mampu membuat lubang dengan ukuran yang lebih besar, maka lakukanlah! Lagi pula, capeknya cuma sekali. Setelah itu anda tinggal menikmati hasilnya. 🙂

Membuat Lubang Tanam

Apa sih tujuan lubang tanam harus begitu besar? Mengapa tidak seukuran polybag bawaan bibit saja.

Mungkin timbul pertanyaan tersebut di benak anda.

Oke, saya bantu jawab.

Selama ini kita tahu bahwa sebelum menanam sayuran seperti sawi, timun, cabe dan seterusnya, para petani pasti akan melakukan pembajakan lahan terlebih dahulu dengan tujuan agar tanah lahan menjadi lebih gembur.

Untuk tanaman sayuran, biasanya kedalaman tanah yang dibajak tidak lebih dari 30cm. Itu wajar, karena perakaran tanaman sayuran sangatlah pendek, hanya sekian inci dari permukaan tanah.

Proses penggemburan tersebut berlaku juga pada tanaman buah.

Bedanya, jarak tanam antar pohon buah tidak sedekat jarak tanam pada tanaman sayur. Sehingga, lahan tidak perlu dibajak seluruhnya, cukup sebatas area tumbuh pohon yang akan kita tanam atau yang biasa kita sebut “Lubang Tanam”.

Perbedaan berikutnya, tidak seperti perakarakan tanaman sayur yang pendek, perakaran pohon buah bisa menghujam jauh ke dalam tanah.

Apalagi jika yang ditanam adalah pohon buah seperti mangga, alpukat, durian, dkk, akar mereka mampu menembus puluhan meter ke dalam bumi.

Oleh karena itu, kedalaman tanah yang perlu digemburkan pun harus lebih dalam, minimal 50cm. Jika anda sanggup menggali sedalam 1 meter, itu lebih bagus lagi. 😀

Mengapa tanah harus digemburkan?

Tujuannya supaya pertumbuhan akar di fase awal atau 1-2 tahun pertama pasca-tanam, perakaran bisa lebih mudah menembus lapisan tanah inci demi inci.

Seperti kita tahu, tanaman usia muda belum memiliki perakaran yang kuat. 90% akarnya masih sangat kecil, lunak dan lemah (mudah putus).

Jangankan menembus lapisan tanah yang keras dan padat, untuk tumbuh pada tanah yang gembur saja akar masih perlu bersusah payah.

Jadi, bayangkan jika ukuran lubang tanam hanya sebesar polybag bawaan bibit. Betapa sulitnya bagi akar untuk menembus tanah di sekelilingnya yang keras dan padat.

Apalagi jika tanah di lahan anda teksturnya sangat keras (dicangkul aja susahnya bukan main), bukannya menembus tanah, yang ada, akar hanya tumbuh mengitari lubang layaknya pohon yang ditanam dalam pot.

Itulah mengapa sering kita temui pohon yang pertumbuhannya lambat, bahkan sudah umur tahunan tapi ukurannya masih segitu-gitu aja. Bisa jadi, dulunya si pemilik pohon hanya membuat lubang seukuran polybag saat penanaman ke lahan.

Sampai di sini sudah clear ya.

Duh, baru langkah pertama aja pembahasannya sudah panjang banget. Tapi nggak apa-apa deh, biar pada pinter. Haha 😀

Oke, sekarang kita lanjut ke langkah berikutnya.

Langkah 2: Sterilisasi Tanah

Tanah yang sehat adalah tanah yang didominasi oleh organisme bermanfaat dan minim organisme merugikan (patogen).

Segala macam organisme merugikan, baik itu berupa bakteri, cendawan, maupun serangga, mereka semua adalah sumber hama & penyakit bagi tanaman.

Sayangnya, kita tidak pernah tahu organisme mana yang mendominasi di dalam tanah kita. Kecuali anda mengeceknya di laboratorium.

Di tambah lagi, dalam setiap 1 sendok teh tanah mengandung jutaan mikroorganisme. Maka semakin sulit bagi kita untuk mengukur apakah tanah kita sehat atau justru mengandung banyak sumber penyakit.

Organisme Tanah
(Ilustrasi: Ada jutaan mikroorganisme dalam 1 sendok teh tanah)

Nah, jalan keluar paling mudah dalam masalah ini adalah melakukan sterilisasi tanah untuk memusnahkan organisme apapun di dalam tanah tersebut.

Tidak peduli apakah organisme baik ataupun buruk.

Setelah disterilkan, kita akan memasukkan kembali mikroorganisme bermanfaat ke dalam tanah menggunakan kompos atau pupuk kandang.

Dengan begitu, tanah kita akan didominasi oleh organisme bermanfaat dan minim organisme patogen.

Hukum alam berlaku di sana.

Siapa yang dominan, mereka yang menang.

Ketika organisme bermanfaat telah mendominasi di area perakaran tanaman, maka organisme patogen apapun yang mendekati akar akan mati dibunuh/dimakan oleh organisme bermanfaat tadi.

Lalu, bagaimana cara sterilisasi tanah?

Ada berbagai metode yang tersedia, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks.

Namun karena ruang lingkup artikel ini terbatas untuk berkebun skala pekarangan rumah, yakni hanya membuat 1-3 lubang tanam pada waktu yang sama, maka saya akan share satu metode yang paling ideal saja.

Sedangkan untuk skala kebun yang memerlukan puluhan hingga ratusan lubang tanam, maka harus menggunakan metode sterilisasi lain yang lebih efisien. Insyaallah metodenya akan saya bahas pada kesempatan lain.

Jadi, metode sterilisasi yang kita gunakan di sini adalah “Solarisasi Tanah (Soil Solarization)”.

Solarisasi Tanah
(Gambar: Publikasi tahun 2008 dari Universitas of California tentang solarisasi tanah)

Prinsip di balik metode ini adalah meningkatkan suhu tanah hingga melebihi 60°C dengan memanfaatkan panas cahaya matahari.

Pada suhu tersebut, hampir semua jenis organisme tanah akan mati, mulai dari bakteri, jamur, protozoa, cacing, semut, tungau, uret dan organisme tanah lainnya.

Soil Temperature Sterilization Table
(Gambar: Soil Temperature Sterilization Table)

Metode ini adalah favorit saya, karena biayanya murah, prosesnya mudah, cepat, dan hasilnya sangat efektif.

Bahan yang perlu disiapkan untuk solarisasi tanah adalah plastik transparan jenis PE (Polietilena / Polyethylene).

Anda bisa mendapatkannya di toko bangunan. Bilang aja “plastik cor transparan”, mereka pasti paham. Di daerah saya harganya kisaran Rp7.500 per meter.

Untuk 1 lubang tanam, dibutuhkan sekitar 3-5 meter. Kemudian, plastik harus dibelah dua menggunakan gunting/pisau supaya lebarnya menjadi 2 meter.

Petunjuk teknis solarisasi tanah:

Langkah pertama, sebarkan tanah hasil galian merata di atas permukaan tanah dengan ketebalan tanah tidak lebih dari 5 cm.

Jika memungkinkan, bagian dasar tanah dialasi plastik, karung bekas, lembaran atap seng, atau semisalnya. Namun jika tidak ada, maka tidak mengapa.

Saya tegaskan kembali, ketebalan tanah tidak boleh lebih dari 5 cm karena poin ini sangat mempengaruhi keberhasilan solarisasi tanah.

Jika lapisan tanah terlalu tebal, maka suhu panas akan sulit mencapai lapisan tanah yang lebih dalam. Alhasil, hanya sebagian lapisan tanah saja yang mencapai suhu tinggi.

Langkah kedua, siramlah seluruh tanah hingga sebasah-basahnya. Tujuannya agar panas matahari bisa merambat merata ke seluruh bagian tanah. Sebab, partikel air memiliki sifat konduksi (menghantar panas).

Alasan lainnya adalah karena ada sebagian spesies cendawan/jamur tanah yang tahan suhu tinggi ketika tanah dalam kondisi kering.

Sedangkan dalam kondisi basah, cendawan tersebut menjadi lemah dan mudah mati. Makanya, tanah perlu dibasahi supaya cendawan yang karakternya seperti itu bisa ikut mati.

Langkah ketiga, tutupi tanah dengan plastik transparan. Kemudian letakkan benda berat seperti batu, bata, kayu atau semisalnya pada pinggiran plastik sebagai penahan supaya plastik tidak bergeser dan tidak diterbangkan angin.

Cara Solarisasi Tanah
(Gambar: Proses solarisasi tanah)

Langkah keempat, biarkan selama 1-2 hari agar seluruh organisme dalam tanah mati terpanggang panas matahari.

Selama 1-2 hari tersebut, cuacanya harus panas. Apabila mendung atau hujan, maka durasinya harus diperpanjang hingga bertemu cuaca cerah dan panas.

Oya, jika anda penasaran suhu tanahnya bisa sepanas apa, pada pertengahan siang saat matahari sedang terik-teriknya, silahkan masukkan telapak tangan anda ke dalam plastik dan setuhlah permukaan tanahnya. 😀

Langkah kelima, setelah proses solarisasi selesai, buka kembali plastik dan tanah sudah siap digunakan.

Mungkin anda bertanya:

Mengapa harus menggunakan plastik? Mengapa tanah tidak dijemur hingga sekering-keringnya saja tanpa ditutupi plastik.

Tujuan tanah ditutupi plastik adalah supaya panas matahari menembus plastik dan merambat ke tanah, kemudian udara panas di area tanah terperangkap atau tidak menguap lagi ke udara karena tertahan plastik.

Silahkan anda coba sendiri menjemur tanah tanpa ditutupi plastik. Bisa dipastikan suhu tanah tidak akan pernah melebihi 60°C, hanya berada di kisaran 30°C bahkan kurang.

Lalu, mengapa harus menggunakan plastik jenis PE atau Polietilena?

Alasannya karena plastik jenis ini tergolong awet dan tahan panas. Sehingga, anda bisa menggunakannya berulang kali, sangat hemat biaya.

Langkah 3: Menambahkan Kompos Atau Pupuk Kandang

Campurkan tanah hasil galian yang telah disterilisasi tadi dengan 1 karung pupuk kompos/kandang.

Ukuran karung kompos yang saya maksud adalah karung beras antara 25-50 kg. Semampunya anda aja, yang penting jangan kurang dari 25 kg.

Prinsipnya, makin banyak kompos yang dimasukkan, semakin bagus pertumbuhan pohon di kemudian hari.

Terakhir, masukkan kembali tanah hasil galian yang telah dicampur kompos tersebut ke dalam lubang tanam hingga penuh.

Catatan:

Jika anda menggunakan pupuk kandang, maka pupuk kandang tersebut harus difermentasi terlebih dahulu sampai menjadi kompos 100%.

Ciri-cirinya adalah warna, tekstur dan aroma pupuk kandang sudah berubah mirip seperti tanah.

Cara fermentasi pupuk kandang silahkan anda cari di google.

Pupuk kandang yang sudah difermentasi
(Gambar: Contoh pupuk kandang yang telah difermentasi sempurna)

Jika belum difermentasi sempurna, pupuk kandang akan menjadi masalah panjang di kemudian hari.

Sebab, bahan ini mengandung banyak bibit hama & penyakit serta gas beracun yang berbahaya bagi tanaman.

Sedangkan tujuan fermentasi adalah mematikan semua bibit hama & penyakit serta menghilangkan seluruh gas beracun yang terkandung dalam pupuk kandang.

Mengapa harus menambahkan pupuk kompos/kandang?

Alasannya, karena bahan ini memiliki banyak manfaat di antaranya:

  • memperbaiki tekstur tanah menjadi lebih gembur dan remah
  • meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah tidak mudah kering
  • memperkaya keanekaragaman mikroorganisme tanah bermanfaat
  • menyediakan unsur hara dan berbagai jenis hormon pertumbuhan bagi tanaman
  • dan masih banyak lagi…

Langkah 4: Menambahkan Kapur Dolomit (Bila Perlu)

Selain kompos, anda juga perlu menambahkan kapur dolomit sebanyak 0,5 – 1 kg ke dalam tanah.

Cara aplikasinya bisa dicampur dan diaduk bersamaan saat menambahkan pupuk kompos tadi atau bisa juga ditabur merata di atas tanah setelah tanah galian dimasukkan kembali ke dalam lubang.

Kapur dolomit sangat berguna untuk menaikkan pH tanah supaya mendekati netral. Hal itu mengingat sebagian besar tanah di Indonesia memiliki pH yang rendah atau asam.

Kapur Dolomit
(Gambar: Kapur dolomit)

Namun tidak berlaku apabila pH tanah di lahan anda sudah dalam kondisi netral.

Pemberian kapur dolomit pada tanah ber-pH netral beresiko menaikkan level pH menjadi keluar dari batas netral, yang justru akan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Untuk itu, sangat disarankan anda memiliki alat pH Meter untuk mengukur level pH tanah di kebun anda secara akurat.

Mengapa pH tanah harus cenderung netral?

Jawaban singkatnya, ketika pH tanah jauh dari level netral, baik asam maupun basa/alkali, maka mayoritas unsur hara di dalam tanah yang dibutuhkan tanaman akan terikat oleh unsur kimiawi dalam tanah, sehingga tanaman tidak bisa menyerap unsur hara tersebut.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Kandungan Unsur Hara Dalam Tanah
(Tabel: Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan unsur hara dalam tanah. Sumber: University of California)

Dengan kata lain, tanaman tidak bisa makan dan akhirnya kelaparan.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, maka tanaman bisa mati kelaparan.

Di samping itu, pH tanah yang tidak netral juga akan membunuh sebagian besar organisme tanah bermanfaat, baik dari golongan bakteri, cendawan, hingga cacing.

Level pH tanah terbaik adalah kisaran 6-7.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Tanah
(Gambar: Pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan mikroorganisme tanah. Sumber: Washington State University)

Saya rasa itu penjelasan yang paling ringkas dan sederhana.

Baik, sekarang kita lanjut ke langkah terakhir yaitu melindungi tanaman dari serangan hama & penyakit akar.

Langkah 5: Menambahkan Mikroorganisme Penangkal Hama & Penyakit

Seiring berjalannya waktu, area lubang tanam suatu saat akan didatangi berbagai macam hama & jamur penyebab penyakit yang ingin bersarang dan berkembang-biak di sana.

Kita tidak pernah tahu hama & jamur apa yang akan datang dan kapan mereka datang. Semua itu berada di luar kendali kita.

Biasanya, kita baru menyadari kehadiran mereka setelah mereka bersarang dan memiliki populasi besar di dalam lubang tanam, sehingga dampaknya terlihat ketika hama & jamur tersebut merusak perakaran tanaman dengan ditandai munculnya gejala seperti:

  • daun dan pucuk muda mendadak menguning, layu, bahkan mengering
  • pangkal batang tiba-tiba membusuk
  • pohon mendadak mati
  • dan gejala lainnya…

Sayangnya, ketika gejala-gejala tersebut muncul, semua telah terlambat.

Dalam artian, perakaran pohon sudah dirusak oleh mereka, sehingga sulit untuk menyembuhkannya.

Jangan khawatir!

Anda bisa menghindarinya dengan mudah dan cepat.

Caranya adalah dengan menambahkan beberapa mikroorganisme penangkal hama & penyakit ke dalam lubang tanam.

Produk yang perlu anda siapkan adalah:

  1. Anfush
  2. Metarizep

Anfush adalah produk biofungisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis yaitu Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yang berguna untuk membunuh berbagai jenis cendawan atau jamur patogen penyebab penyakit pada tanaman.

Metarizep adalah produk bioinsektisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis bernama Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana yang berperan membunuh puluhan bahkan ratusan jenis hama pengganggu tanaman seperti semut, rayap, uret, ulat, belalang, kumbang dan seterusnya.

Metarizep
(Gambar: Bioinsektisida Metarizep)
Anfush
(Gambar: Biofungisida Anfush)

Dengan menambahkan kedua produk di atas, InsyaAllah tanaman anda akan terlindung 24 jam sepanjang hari dari serangan serangga dan jamur perusak akar tanaman.

Dosis dan cara aplikasi:

  • Benamkan 10 gram Anfush ke dalam area perakaran tanaman.
  • 1 gram Metarizep dilarutkan ke dalam 1 liter air, lalu diamkan dulu selama 6-12 jam untuk mengaktifkan cendawan di dalamnya. Setelah itu siramkan ke lubang tanam.

Waktu aplikasi:

  • Anfush dan Metarizep bisa diaplikasikan sebelum atau sesudah penanaman pohon ke lubang tanam. Namun keduanya tidak boleh diberikan bersamaan, harus ada jeda minimal 3 hari supaya cendawan dari masing-masing produk tidak saling berbenturan.
  • Aplikasi Anfush perlu diulang sebanyak 2-3 kali setiap sebulan sekali sesuai petunjuk yang terlampir di kemasan produk. Kemudian diulang kembali pada tahun berikutnya dengan aturan yang sama.
  • Aplikasi Metarizep perlu diulang setiap 2 bulan sekali sesuai petunjuk di kemasan produk.

(!) Peringatan:

  • Dilarang keras memasukkan pestisida kimia apapun ke dalam lubang tanam, karena bisa membunuh cendawan dari Anfush dan Metarizep.

Apa selanjutnya?

Sekarang anda telah menguasai teknis membuat lubang tanam yang baik dan benar.

Sayangnya, tugas anda belum selesai.

Setelah ini anda harus mempelajari teknis budidaya pohon buah yang ingin anda tanam. Karena setiap jenis pohon, memiliki cara pemeliharaannya sendiri.

Akan sangat berbeda cara merawat pohon anggur dengan pohon alpukat, pohon durian dengan pohon mangga, dan seterusnya.

Namun, jika anda mengikuti langkah-langkah pengolahan lubang tanam di atas, InsyaAllah pohon buah apapun yang anda tanam ke lubang tanam tersebut, perawatannya kedepan akan jauh lebih mudah.

Karena anda telah membangun media tumbuh yang sehat, subur dan kaya organisme bermanfaat.

Ketiga hal tersebut sangat penting.

Sebab, inti dari perawatan lanjutan pasca tanam adalah pengendalian hama-penyakit dan penyediaan unsur hara tanaman.

Ketika tanah sudah sehat, maka 90% masalah calon hama-penyakit bisa teratasi. Sedangkan 10% sisanya tinggal dibasmi dengan pestisida organik ketika serangan terjadi.

Begitu juga ketika tanah dalam kondisi subur dan kaya organisme bermanfaat, maka 50% unsur hara akan disediakan gratis dan berkesinambungan oleh makhluk-makhluk kecil tersebut.

Kedepannya, kita hanya perlu menambahkan pupuk organik (untuk sumber makanan organisme tanah) dan sedikit pupuk kimia (sebagai nutrisi tambahan tanaman).

Berbeda sekali dengan cara budidaya pohon buah pada umumnya yang mengharuskan kita untuk menggunakan pestisida dan pupuk kimia dalam jumlah besar.

Oke, itu saja yang bisa saya share dalam kesempatan ini. Semoga bermanfaat.

Terimakasih dan salam berkebun… 😀

Pedoman Teknis Membuat Media Tanam Pot ‘Bermutu Tinggi’

Telah diperbarui Desember 2020.

Anda suka menanam buah dalam pot?

Tahukah anda, masa depan mereka sangat ditentukan oleh media tanam yang anda pakai.

Kesalahan membuat media tanam pot, akan berdampak buruk pada pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang.

Bahkan tidak jarang, efeknya langsung terlihat hanya hitungan hari atau minggu pasca tanam, seperti daun mendadak layu, kering, rontok, hingga berujung kematian.

Saya yakin anda tidak ingin mengalaminya.

Artikel ini akan membimbing anda cara membuat media tanam pot bermutu tinggi yang belum banyak diketahui penghobi manapun.

Sebab, di sini saya menerapkan kaedah-kaedah penting yang diadopsi dari teknologi pertanian modern yang saya kumpulkan dari banyak referensi ilmiah lokal hingga internasional, kemudian saya adaptasikan agar bisa diterapkan untuk tabulampot (tanaman buah dalam pot).

Anda tidak perlu bersusah payah melakukan itu, karena saya telah merangkum semuanya untuk anda, GRATIS. 😀

Sudah siap untuk belajar ilmu baru?

Mari kita mulai!

1. Kriteria Media Tanam Pot Bermutu Tinggi

Ada banyak sekali versi media tanam yang dibagikan oleh kawan-kawan penghobi di luar sana.

Saking banyaknya, mungkin membuat anda bingung versi mana yang benar dan cocok untuk anda.

Sekarang, hilangkan kebingungan anda!

Karena ada parameter yang bisa anda gunakan untuk mengukur apakah suatu media tanam memiliki mutu yang baik atau buruk.

Media tanam yang BERKUALITAS SUPER harus memenuhi 6 kriteria berikut:

  1. Bertesktur gembur, remah dan porous
  2. Kaya kandungan bahan organik dan unsur hara
  3. pH tanah cenderung netral atau kisaran level 6-7
  4. Didominasi organisme tanah bermanfaat dan minim organisme merugikan (patogen)
  5. Mampu menyimpan air dalam jumlah sedang, tidak kurang atau berlebihan
  6. Dalam jangka panjang, tekstur tanah tidak mudah memadat dan mengeras

Apapun alasannya, hindari menggunakan media tanam yang tidak memenuhi salah satu dari enam kriteria di atas. Karena mereka semua saling mendukung dan mempengaruhi.

Jika salah satu kriteria tidak terpenuhi, maka akan ada kriteria lain yang terpengaruh dan ikut hilang.

Contohnya begini:

Apabila media tanam anda didominasi oleh organisme patogen dan minim organisme bermafaat, maka bahan organik yang terkandung di dalam media tanam tersebut bukannya menguntungkan dan menyuburkan tanaman, justru akan menjadi sumber tumbuh-kembangnya hama & penyakit tanaman.

Itulah mengapa banyak penghobi yang mengeluhkan media tanam mereka menjadi sarang semut, rayap, uret/embug, nematoda, tungau/kutu akar, siput, jamur dan seterusnya.

Contoh berikutnya:

Apabila pH media tanam tidak netral, maka kandungan nutrisi atau unsur hara dalam tanah akan diikat oleh unsur kimiawi tanah tertentu.

Sehingga, unsur hara di dalam media tanam akan sulit diserap oleh tanaman, sekalipun jumlah unsur hara di sana sangat berlimpah.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Kandungan Unsur Hara Dalam Tanah
(Tabel: Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan unsur hara dalam tanah. Sumber: University of California)

Dengan kata lain, tanaman tidak bisa makan.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, pohon bisa mati kelaparan.

Di samping itu, pH tanah yang tidak netral juga akan membunuh sebagian besar organisme tanah bermanfaat, baik dari golongan bakteri, cendawan, hingga cacing.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Tanah
(Gambar: Pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan mikroorganisme tanah. Sumber: Washington State University)

Mudah-mudahan, dua contoh di atas sudah cukup untuk membuat anda semakin paham.

Nah, di Google, Facebook hingga Youtube, banyak referensi cara membuat media tanam pot dengan beragam versi. Sayangnya, sebagian besar mereka tidak didasarkan pada kaedah-kaedah yang tepat.

Alhasil, akan timbul banyak masalah yang tidak diharapkan di kemudian hari seperti:

  • Pohon mudah diserang hama & penyakit
  • Pertumbuhan pohon lambat bahkan kerdil
  • Sulit berbuah, atau meskipun bisa berbuah tetapi buah mudah rontok dan kualitasnya pun rendah
  • Pada kasus yang parah, pohon mengalami kematian

Baik, setelah memahami apa saja kriteria media tanam pot berkualitas, sekarang kita masuk ke bagian teknis pembuatannya.

2. Empat Langkah Mudah Membuat Media Tanam Pot Berkualitas Super

Media Tumbuh Tabulampot

Langkah 1: Menentukan Komposisi Media Tanam

Langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mempertimbangkan komposisi bahan baku media tanam yang ingin anda gunakan.

Bahan baku yang umum dipakai untuk campuran media tanam pot adalah tanah, pasir, sekam padi, arang sekam/sekam bakar, cocopeat, kompos, pupuk kandang, hingga media tanam kemasan siap pakai yang banyak dijual di lapak-lapak bibit tanaman.

Manakah yang terbaik?

Yang terbaik adalah yang paling mudah anda dapatkan.

Tidak ada yang sempurna, masing-masing bahan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Selama bahan-bahan tersebut bisa mendukung tercapainya kriteria atau kaedah dasar yang kita bahas di awal, maka tidak ada alasan untuk tidak menggunakannya.

Jadi, jangan terlalu kaku dalam masalah ini.

Pilihlah bahan yang paling mudah anda dapatkan! Itu saja poinnya.

Supaya mudah dipahami, saya membagi komposisi media tanam pot menjadi 3 kelompok:

  1. Menggunakan tanah berat
  2. Menggunakan tanah ringan
  3. Menggunakan media tanam kemasan siap pakai

Alasan saya membuat pembagian di atas karena masing-masing kelompok memerlukan komposisi bahan baku yang berbeda.

Mari kita bahas satu per satu.

a. Menggunakan tanah berat

Tanah berat adalah tipe tanah yang strukturnya didominasi kandungan liat dan sangat sedikit pasir maupun debu.

Contohnya: tanah merah, tanah lempung, tanah liat, dst.

Ciri-ciri tanah berat yaitu jika kondisi kering teksturnya menjadi padat dan keras, serta tidak menghasilkan banyak debu saat tertiup angin. Sedangkan dalam kondisi basah, tanah sangat lengket ketika diinjak.

Ciri lainnya adalah tanah berat biasanya memiliki warna yang lebih terang, akibat minimnya bahan organik yang dikandungnya.

Nah, jika anda menggunakan tanah jenis ini, maka diperlukan penambahan bahan lain untuk memperbaiki teksturnya yang padat dan keras menjadi lebih gembur, remah dan porous.

Pilihan komposisi yang bisa anda gunakan:

  1. Tanah berat + pasir + kompos/pupuk kandang + arang sekam (1:1:1:1)
  2. Tanah berat + pasir + kompos/pupuk kandang + sekam padi (1:1:1:1)
  3. Tanah berat + pasir + kompos/pupuk kandang (1:1:1)

Dari ketiga pilihan di atas, komposisi No.1 adalah yang terbaik.

Keterangan (1:1:1:1) dan (1:1:1) di atas maksudnya adalah jumlah perbandingan antar bahan.

Misalnya anda menggunakan komposisi No.3, maka perbandingannya adalah 1 ember tanah berat, 1 ember pasir, 1 ember kompos. Penggunaan ember sebagai alat takar juga hanyalah contoh saja. Anda bisa gunakan alat takar lain seperti karung, sekop, kaleng atau lainnya.

Arang sekam / sekam bakar
(Gambar: Arang sekam / sekam bakar)

Catatan PENTING:

Pasir yang saya maksud adalah pasir yang masih kasar, bukan yang sudah diayak. Anda bisa gunakan pasir bangunan, pasir sungai, atau bisa juga mengeruk lapisan pasir yang biasanya tersebar di pinggiran jalan, parit, pekarangan rumah dan semisalnya.

Pupuk kompos bisa anda beli di toko tanaman hias terdekat. Pilihlah kompos yang menggunakan kemasan pabrik/profesional.

Contohnya seperti ini:

Pupuk Kompos
(Gambar: Contoh pupuk kompos berkualitas)

Setidaknya, hal tersebut bisa dijadikan parameter apakah suatu produk kompos memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Namun jika anda menggunakan pupuk kandang, maka pupuk kandang harus difermentasi sempurna terlebih dahulu hingga tekstur, warna dan aroma pupuk telah berubah mirip seperti tanah.

Cara fermentasinya bisa anda cari di Google atau Youtube.

Pupuk kandang yang sudah difermentasi
(Gambar: Contoh pupuk kandang yang telah difermentasi sempurna)

Penggunaan pupuk kandang yang belum difermentasi sempurna akan menimbulkan masalah panjang di kemudian hari.

Sebab, pupuk kandang segar umumnya mengandung banyak bibit hama & penyakit, serta masih mengeluarkan gas metana atau unsur-unsur lainnya yang berbahaya bagi tanaman.

Apabila menggunakan sekam padi, pilihlah sekam yang sudah berwarna gelap dan lapuk/mudah hancur.

b. Menggunakan tanah ringan

Tanah ringan adalah tipe tanah yang strukturnya didominasi kandungan pasir dan debu dengan sedikit liat.

Contohnya: tanah hitam, tanah lempung berpasir, tanah lembang, dst.

Ciri-cirinya yaitu dalam kondisi kering maupun basah, tekstur tanah tetap remah, gembur dan porous, serta tidak lengket ketika diinjak. Pada kondisi kering, tanah mudah mengeluarkan banyak debu saat tertiup angin.

Ciri lainnya, tanah ringan memiliki warna yang cenderung gelap, mulai dari coklat gelap hingga hitam, akibat tingginya bahan organik yang dikandungnya.

Pilihan komposisi yang bisa anda gunakan:

  1. Tanah ringan + kompos/pupuk kandang + arang sekam (1:1:1)
  2. Tanah ringan + kompos/pupuk kandang + sekam padi (1:1:1)
  3. Tanah ringan + kompos/pupuk kandang (1:1)

Sama seperti sebelumnya, komposisi No.1 adalah yang terbaik.

c. Menggunakan media tanam kemasan siap pakai

Media tanam siap pakai adalah produk media tanam kemasan yang banyak dijual di toko bibit tanaman.

Dikatakan siap pakai karena media tanam ini telah memiliki campuran aneka jenis bahan (kompos, pupuk kandang, tanah merah, cocopeat, sekam bakar, dsb) dan dikemas dalam karung atau kemasan plastik.

Sama halnya produk kompos, belilah media tanam siap pakai yang dikemas secara profesional seperti contoh berikut:

Media tanam kemasan siap pakai
(Gambar: Contoh media tanam siap pakai berkualitas)

Namun perlu anda ketahui, bahwa media tanam kemasan sejatinya BELUM SIAP PAKAI.

Sebab, di dalamnya belum mengandung pasir atau arang sekam dalam jumlah yang cukup, sehingga porousitasnya masih sangat buruk.

Oleh karena itu, anda perlu menambahkan campuran berikut:

  1. Media tanam kemasan + pasir + arang sekam (3:1:1)
  2. Media tanam kemasan + arang sekam (1:1)
  3. Media tanam kemasan + pasir (2:1)

Komposisi No.1 yang terbaik.

Setelah anda menentukan dan menyiapkan komposisi utama media tanam, selanjutnya adalah melakukan sterilisasi bahan supaya bebas dari bibit hama & penyakit tanaman.

Langkah 2: Sterilisasi Tanah

Bagi anda yang ingin membuat media tanam dengan komposisi tanah (baik tanah berat maupun ringan), maka tanah yang anda gunakan tersebut harus disterilkan.

Mengapa?

Karena dalam setiap 1 sendok teh tanah mengandung jutaan mikroorganisme (bakteri, cendawan, protozoa, dst) yang kita tidak pernah tahu apakah didominasi oleh mikroorganisme bermanfaat atau merugikan/patogen…

…kecuali anda mengeceknya ke laboratorium.

Organisme Tanah
(Ilustrasi: Ada jutaan mikroorganisme dalam 1 sendok teh tanah)

Oleh sebab itu, sterilisasi adalah solusi yang paling efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Proses sterilisasi akan membunuh seluruh mikroorganisme apapun, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan di dalam tanah.

Semua dimusnahkan tak tersisa.

Setelah tanah disterilkan, kita perlu memasukkan kembali mikroorganisme bermanfaat ke dalamnya menggunakan kompos atau pupuk kandang.

Karena kompos dan pupuk kandang adalah bahan organik yang sangat kaya akan kandungan mikoorganisme bermanfaat.

Namun untuk pupuk kandang, hal tersebut akan tercapai apabila telah dilakukan fermentasi sempurna seperti yang sudah saya bahas sebelumnya.

Jadi, bagaimana cara sterilisasi tanah?

Ada berbagai metode sterilisasi tanah yang diterapkan di seluruh dunia. Namun di sini, saya hanya share 2 metode yang menurut saya paling murah dan mudah untuk berkebun skala hobi atau pekarangan rumah.

Kedua metode tersebut adalah:

  1. Solarisasi tanah (Soil Solarization)
  2. Penyiraman dengan air panas (Hot Water Soil Sterilization)

Meskipun teknisnya berbeda, namun kedua metode ini memiliki prinsip kerja yang sama, yaitu meningkatkan suhu tanah di atas 60°C.

Pada suhu tersebut, hampir semua organisme tanah jenis apapun akan mati.

Soil Temperature Sterilization Table
(Tabel: Soil Temperature Sterilization Table)

Berikut adalah petunjuk teknis cara menerapkan kedua metode sterilisasi tanah di atas.

a. Metode Solarisasi Tanah

Seperti namanya, Solarisasi Tanah atau Soil Solarization adalah metode sterilisasi tanah yang memanfaatkan panas matahari untuk menaikkan suhu tanah mencapai temperatur yang diinginkan.

Solarisasi Tanah
(Gambar: Publikasi tahun 2008 tentang solarisasi tanah)

Metode ini sangat ideal untuk anda yang ingin membuat media tanam dalam jumlah banyak.

Alat yang perlu anda siapkan hanyalah plastik transparan jenis PE (Polietilena/Polyethylene). Anda bisa membelinya di toko bangunan. Bilang saja ke penjualnya; “Beli plastik cor transparan”, mereka pasti paham.

Di daerah saya harganya kisaran Rp7.500/meter. Belilah sepanjang 3-5 meter. Nantinya, plastik harus dibelah supaya lebarnya menjadi 2 meter.

Petunjuk teknis solarisasi tanah:

#1 – Sebarkan tanah dengan ketebalan maksimal 5 cm, tidak boleh lebih, karena semakin tebal lapisan, maka semakin sulit mencapai suhu di atas 60°C.

#2 – Siram seluruh tanah dengan air sebasah-basahnya. Fungsi air di sini untuk memudahkan energi panas matahari merambat ke seluruh bagian tanah hingga lapisan terbawah. Sebab, air memiliki sifat konduksi (menghantar panas).

#3 – Tutupi tanah dengan plastik transparan dan letakkan batu, bata, kayu atau semisalnya di pinggiran plastik sebagai pemberat supaya posisi plastik tidak bergeser dan aman dari hempasan angin.

Cara Solarisasi Tanah
(Gambar: Contoh solarisasi tanah yang saya lakukan)

#4 – Biarkan selama 1-2 hari. Namun jika cuaca ternyata mendung atau hujan, maka durasinya harus diperpanjang sampai mendapatkan cuaca yang benar-benar panas.

#5 – Selesai! Tanah siap digunakan.

Jika anda penasaran seperti apa suhu tanah selama proses solarisasi berlangsung, silahkan pegang permukaan tanah di dalam plastik ketika matahari sedang sangat terik!

Mungkin anda bertanya; “Apa fungsi plastik transparan? Mengapa tanah tidak dijemur begitu saja tanpa penutup plastik?”

Plastik transparan harus digunakan karena berfungsi untuk menahan dan mengisolasi energi panas matahari yang masuk ke dalam plastik sehingga energi panas tersebut dapat merambat ke dalam tanah dalam waktu lama.

Sebaliknya, apabila tidak menggunakan plastik, maka energi panas matahari sangat mudah terlepas ke udara, lebih-lebih jika kecepatan angin di lokasi penjemuran cukup tinggi. Hal tersebut menyebabkan energi panas sulit merambat ke dalam tanah.

Silahkan anda coba!

Jemurlah tanah yang telah dibasahi air selama beberapa jam di siang hari seperti metode di atas namun tanpa menggunakan plastik.

Setelah itu genggamlah tanah hingga lapisan terbawah. Saya yakin anda akan dapati suhu tanah tersebut hanya kisaran 30°C bahkan kurang.

b. Metode Penyiraman Dengan Air Panas

Metode ini paling cepat dibandingkan metode pertama. Namun, hanya ideal untuk mensterilkan tanah atau media tanam dalam jumlah sedikit.

Kecuali jika anda siap merebus air sebanyak puluhan hingga ratusan liter, maka silahkan saja mensterilkan media tanam dalam jumlah banyak. 😀

Sterilisasi Tanah Menggunakan Air Panas
(Gambar: Publikasi tentang sterilisasi tanah menggunakan air panas)

Pada metode solarisasi, proses sterilisasi memakan waktu 1-2 hari. Sedangkan pada metode ini, hanya perlu waktu kurang dari 1 jam saja (tidak termasuk durasi waktu saat merebus air).

Yang perlu anda siapkan adalah air panas dengan suhu sekitar 90°C.

Caranya adalah dengan merebus air hingga mendidih, kemudian setelah mendidih, air didiamkan/diangin-anginkan selama beberapa menit untuk menurunkan suhu air dari 100°C menjadi 90°C.

Mengapa tidak boleh menggunakan air mendidih atau 100°C?

Alasan karena pada suhu tersebut air dapat merusak kandungan C-Organik atau bahan organik tanah. Padahal kita tahu, bahan tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang kesuburan tanah.

Petunjuk teknis sterilisasi tanah menggunakan air panas:

#1 – Sebarkan tanah hingga ketebalan maksimal 5 cm.

#2 – Siram tanah dengan air biasa sebasah-basahnya.

#3 – Angin-anginkan tanah selama beberapa waktu sampai air berlebih mengalir keluar dari tanah.

#4 – Terakhir, siram tanah dengan air panas hingga sebasah-basahnya.

#5 – Selesai! Tanah siap anda gunakan.

Saran saya, anda merebus airnya dilakukan bersamaan dengan langkah #3. Jadi, sambil menunggu media tanamnya diangin-anginkan, anda barengi dengan merebus air.

Sedangkan untuk mengetahui berapa banyak air panas yang diperlukan, anda bisa gunakan patokan jumlah air yang anda habiskan saat melaksanakan langkah #2.

Jadi, salah satu tujuan menyiram media tanam dengan air biasa terlebih dahulu seperti pada langkah #2 adalah untuk mengukur jumlah air panas yang diperlukan.

Di samping itu, tujuan lainnya adalah untuk melembabkan tanah supaya suhu panas bisa dengan mudah merambat ke seluruh bagian media tanam.

TAMBAHAN: Sterilisasi Sekam Padi

Jika anda ingin menggunakan sekam padi sebagai campuran media tanam, saya sarankan sekam padi juga ikut disterilkan bersamaan dengan sterilisasi tanah.

Caranya, tanah dan sekam padi dicampur dengan perbandingan 1:1, kemudian disterilkan.

Setelah disterilkan, selanjutnya anda tinggal menambahkan bahan lain dengan takaran yang sama.

Contohnya begini:

Misal anda menggunakan komposisi: tanah ringan + kompos + sekam padi (1:1:1).

Artinya, setiap 2 ember campuran tanah dan sekam padi yang telah disterilkan tadi perlu ditambah kompos sebanyak 1 ember. Dengan begitu, didapatlah campuran bahan tanah + sekam padi + kompos dengan perbandingan 1:1:1.

Mengapa sekam padi perlu disterilkan?

Pengalaman saya pribadi, sekam padi sering menjadi sarang tungau/kutu akar atau jenis kutu lainnya dan ditumbuhi berbagai macam jamur yang tidak jelas apakah aman bagi tanaman atau justru merugikan.

Maka, sterilisasi diperlukan untuk memusnahkan itu semua.

Langkah 3: Menambahkan Kapur Dolomit (Bila Perlu)

Di awal, saya telah menjelaskan betapa pentingnya pH tanah terhadap kualitas tanah. Sebagus apapun media tanam anda, akan sia-sia jika pH-nya tidak netral atau kisaran level 6-7.

Umumnya, tanah di Indonesia memiliki level pH yang asam atau kurang dari level 6.

Begitu juga dengan media tanam kemasan siap pakai dan pupuk kompos/kandang, terkadang masih memiliki pH yang asam.

Namun akan jauh lebih baik jika anda memiliki alat pH Meter. Dengan alat tersebut anda bisa memastikan lebih dulu apakah media tanam yang anda buat memiliki level asam, basa, atau sudah dalam kondisi netral.

Contoh alat pH Meter
(Gambar: Contoh alat pH Meter)

Di sini, saya berasumsi bahwa pH media tanam anda dalam kondisi asam atau kurang dari level 6, sehingga saya menyarankan anda untuk menambahkan kapur dolomit.

Kapur dolomit adalah bahan organik berupa kapur alam yang tinggi kandungan kalsium dan magnesium. Kedua mineral tersebut mampu menaikkan pH tanah ke level yang diinginkan.

Maka dari itu, jangan memberikan kapur dolomit ke tanah atau media tanam yang sudah dalam kondisi netral, karena akan menaikkan level pH melebihi batas netral yang justru dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Kapur Dolomit
(Gambar: Kapur dolomit)

Oya, bedakan antara kapur dolomit dan kapur pertanian!

Kedua produk tersebut memiliki kandungan berbeda, di mana kapur dolomit mengandung kalsium dan magnesium, sedangkan kapur pertanian hanya mengandung kalsium tanpa magnesium.

Pilihlah kapur dolomit saja, karena kapur pertanian hanya mampu mempertahankan pH tanah dalam waktu yang singkat akibat tidak adanya magnesium di dalamnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Basuki dan Vega Kartika Sari dari Universitas Jember (2019) mengungkapkan hal itu.

Kapur dolomit diberikan saat media tanam telah dimasukkan ke dalam pot, dan dosisnya akan menyesuaikan dengan ukuran pot yang anda gunakan.

Cara aplikasinya yaitu ditabur merata di atas media tanam, lalu disiram air hingga kapur dolomit larut ke dalam media tanam.

Rekomendasi dosis kapur dolomit berdasarkan diameter pot:

  • Diameter 30-40cm= 1-2 sendok teh
  • Diameter 40-50cm= 1-2 sendok makan
  • Diameter 50-60cm= 2-3 sendok makan
  • Diameter 60-70cm= 3-4 sendok makan

Catatan: takaran sendok yang saya maksud adalah penuh/menggunung sebagaimana ilustrasi di bawah ini:

Takaran dosis kapur dolomit
(Ilustrasi: Takaran dosis kapur dolomit)

Langkah 4: Menambahkan Mikroorganisme Penangkal Hama & Penyakit

Seiring berjalannya waktu, media tanam kita akan didatangi berbagai macam hama & penyakit yang ingin bersarang dan berkembang-biak di sana.

Kita tidak pernah tahu hama & penyakit apa yang akan datang dan kapan mereka datang. Semua itu berada di luar kendali kita.

Biasanya, kita baru menyadari kehadiran mereka setelah mereka bersarang dan memiliki populasi besar di dalam media tanam, sehingga dampaknya terlihat ketika koloni hama & penyakit tersebut merusak tanaman dengan munculnya gejala-gejala tertentu seperti:

  • daun mendadak menguning, layu, atau mengering
  • batang mendadak patah atau membusuk
  • pohon mendadak mati
  • dan gejala lainnya…

Sayangnya, ketika gejala-gejala tersebut muncul, semua telah terlambat.

Dalam artian, perakaran pohon sudah dirusak parah oleh mereka, sehingga sulit untuk menyembuhkannya.

Anda tidak ingin mengalaminya, bukan!?

Nah, di sini saya akan memberikan solusi agar kasus di atas tidak terjadi.

Caranya sangat mudah dan sederhana, kok.

Anda hanya memerlukan produk Anfush dan Metarizep sebagai penangkal hama & penyakit dalam tanah.

Metarizep adalah produk bioinsektisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis bernama Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana yang berperan membunuh puluhan bahkan ratusan jenis hama pengganggu tanaman, termasuk semut, rayap, uret, ulat, belalang, kumbang dan seterusnya.

Anfush adalah produk biofungisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis yaitu Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yang berguna untuk membunuh berbagai jenis cendawan patogen penyebab penyakit pada tanaman.

Metarizep
(Gambar: Bioinsektisida Metarizep)
Anfush
(Gambar: Anfush)

Kedua produk tersebut akan menjadi pasukan keamanan yang bekerja 24 jam setiap hari untuk melindungi media tanam anda dari segala serangan hama & penyakit.

Dosis & Cara Aplikasi:

  • Anfush sebanyak 10 gram di benamkan ke dalam area perakaran tanaman.
  • Metarizep sebanyak 1 gram dilarutkan ke dalam 1 liter air bersih, kemudian didiamkan dulu selama 6-12 jam untuk mengaktifkan cendawan di dalamnya. Setelah itu siramkan ke media tanam. 1 liter larutan Metarizep bisa digunakan untuk 1 pot diameter 40-70cm atau 2 pot diameter < 40cm.

Waktu aplikasi:

  • Anfush dan Metarizep bisa diberikan sebelum atau setelah pohon ditanam dalam pot. Namun keduanya tidak boleh diberikan bersamaan, harus ada jeda waktu minimal 3 hari supaya cendawan dari masing-masing produk tidak saling berbenturan.
  • Aplikasi Anfush harus diulang sebanyak 2-3 kali aplikasi setiap 1 bulan sekali sesuai petunjuk di kemasan produk. Kemudian diulangi kembali pada tahun berikutnya sebanyak 2-3 kali aplikasi sebagaimana tahun pertama.
  • Metarizep harus diulang 5-6 kali setahun atau setiap 2 bulan sekali sesuai petunjuk di kemasan produk.

(!) Peringatan:

  • Dilarang keras memasukkan pestisida kimia apapun ke dalam media tanam, karena akan membunuh cendawan-cendawan dari Anfush dan Metarizep.

Apa Selanjutnya?

Tabulampot atau tanaman buah dalam pot adalah solusi berkebun buah di pekarangan sempit.

Dan salah satu kunci keberhasilan berkebun tabulampot adalah membuat media tanam pot yang tepat.

Sebagus apapun bibit yang anda tanam…

Semahal apapun pupuk yang anda gunakan…

Semua itu akan sia-sia jika media tanam anda bermutu rendah!

Tidak sedikit penghobi yang melewatkan bagian penting ini.

Sehingga, mereka terus mengalami banyak masalah pada tumbuh-kembang tabulampot mereka di kemudian hari, tanpa henti.

Mudah-mudahan anda tidak. 😀

Oya, sekalipun panduan membuat media tanam ini lebih berorientasi untuk tanaman buah, tapi sebetulnya, sangat relevan untuk hampir semua jenis tanaman, baik buah, hias, sayur, rempah dan sebagainya.

Orientasi saya lebih ke tanaman buah karena pengunjung blog Daunku.com ini didominasi oleh penghobi tanaman buah.

Sekarang, setelah paham cara membuat media tanam pot berkualitas super, langkah berikutnya adalah anda perlu mempelajari teknis budidaya tanaman yang ingin anda tanam.

Karena setiap jenis tanaman memiliki teknis perawatan yang berbeda.

Tidak bisa kita samakan cara merawat pohon mangga dengan pohon jeruk, pohon alpukat dengan pohon anggur, dan seterusnya.

Mungkin itu saja yang bisa saya share. Semoga bermanfaat.

Terimakasih dan salam berkebun! 😀

Maaf, seluruh konten di website ini tidak bisa Anda copy!

Scroll to Top