Tepat pukul 5 sore, hujan turun sangat deras.
Saya duduk di sebuah kursi kayu tua di teras belakang rumah yang beratapkan asbes.
Sambil menikmati secangkir kopi hangat, suara gemericik air dan sejuknya angin bercampur embun, seketika menghilangkan lelahnya badan setelah seharian beraktifitas.
Di sana saya memandangi pekarangan belakang rumah yang kosong.
Hanya ada 2 pohon buah dalam pot yang bersandingan di samping tembok panel beton setinggi 3 meter.
Pohon pertama adalah Apel Putsa di dalam pot plastik diameter 50cm yang hampir semua cabangnya penuh dengan bunga dan beberapa buah muda seukuran ujung telunjuk.
Di sebelahnya ada Barbados Cherry, menggunakan pot plastik 35cm yang buahnya baru saja saya panen kemarin siang.

Kedua tabulampot tersebut saya tanam sekitar 2 tahun yang lalu, jika tidak salah.
Sekitar 3 meter dari sana, ada beberapa pot kecil berjejer rapi milik istri saya yang berisi tanaman daun mangkok, kunyit, lidah buaya dan beberapa pot lagi sudah dipenuhi rumput-rumput tak jelas.
Bola mata saya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mengamati pemandangan halaman belakang dari sudut satu ke sudut lain hingga beberapa kali.
Tak lama itu terlintas di benak saya, “Bagaimana jika pekarangan ini saya isi dengan tabulampot. Kemungkinan bisa muat 15 pot, bahkan lebih”.
Spontan hati menjawab, “Ahh, mana mungkin. Tidak ada waktu untuk itu. Saya terlalu sibuk”.
Kring… kring… kring… Tiba-tiba handphone berbunyi.
Rupanya ada telpon masuk dari salah satu klien. Saya pun kembali masuk rumah untuk menjauhi bisingnya suara hujan.
Setelah itu, keinginan saya untuk berkebun tabulampot lenyap ditelan kesibukan.
Bisa jadi, cerita pendek di atas pernah anda alami sendiri.
Anda ingin menanam berbagai tanaman buah dalam pot, namun keinginan tersebut pupus karena terhalang oleh kesibukan kerja.
Lalu bagaimana jika ada seseorang yang datang kepada anda untuk memberi informasi cara budidaya tabulampot khusus orang sibuk, di mana anda hanya perlu meluangkan waktu 2 jam seminggu bahkan kurang?
Apakah anda tertarik mendengarnya?
Jika tertarik, maka saya ingin menyampaikan informasi tersebut melalui tulisan ini. Saya telah merangkumnya menjadi 16 tips yang bisa anda praktekkan hari ini juga.
Penasaran?
Mari kita mulai.
Tips #1 – Tanamlah Pohon Buah Yang Minim Perawatan
Ada jenis tanaman buah yang memerlukan perhatian lebih. Kita harus mengeceknya secara berkala beberapa minggu sekali untuk memastikan tanaman tidak mengalami masalah.
Dan jika ada masalah, seperti gejala serangan hama & penyakit atau gejala pertumbuhan yang tidak normal lainnya, maka harus ditangani sesegera mungkin.
Jika tidak ditangani dengan baik dan cepat, tanaman bisa mengalami masalah yang lebih serius, bahkan bisa berakhir kematian.
Namun ada juga jenis pohon buah lain yang terlalu tangguh, sehingga tidak membutuhkan perhatian sama sekali.
Meskipun pada prakteknya kita tetap harus mengecek secara berkala, namun frekuensi pengecekannya tidak perlu sering, cukup beberapa bulan sekali.
Nah, untuk menghemat waktu dan energi dalam berkebun tabulampot, sebaiknya anda hanya mengoleksi jenis pohon buah kelompok kedua ini.
Lebih bagus lagi jika anda menanam beragam jenis pohon buah yang teknis perawatannya bisa disamakan ratakan antara pohon satu dengan lainnya.
Memangnya ada ya?
Banyak.
Saya hitung, tidak kurang dari 30 jenis tanaman buah yang bisa dipukul rata cara perawatannya.
Saya akan bahas ketiga puluh jenis pohon buah tersebut pada tulisan yang lain, InsyaAllah.
Tips #2 – Pilihlah Metode Budidaya Tabulampot Yang Paling Sederhana & Hemat Waktu
Di luar sana ada banyak sekali referensi cara budidaya tabulampot dengan beragam versi berbeda.
Mulai dari yang paling sederhana hingga rumit. Dari yang sangat efisien hingga yang boros waktu dan tenaga.
Bagi orang yang sangat sibuk, memilih metode budidaya sesederhana mungkin adalah harga mati.
Masalah utama mengapa banyak orang yang tidak bisa berkebun tabulampot sebetulnya bukan karena kesibukan, namun karena tidak tahu cara berkebun yang paling sesuai dengan kondisi mereka.
Ketakutan orang-orang sibuk seperti saya dan anda dalam berkebun biasanya adalah tidak siap untuk konsisten dalam menyiram, memupuk, mencabuti rumput, memangkas cabang-cabang tidak beraturan, mengatasi serangan hama & penyakit, dan tugas-tugas berkebun lainnya yang tampaknya sangat menyita waktu dan energi kita.
Padahal, banyak dari tugas-tugas tersebut yang bisa diselesaikan menggunakan teknologi berkebun modern.
Inilah beberapa tugas berkebun yang bisa diatasi:
- Penyiraman tidak lagi manual dengan adanya alat irigasi otomatis.
- Masalah rumput bisa dicegah dengan menutupi permukaan media tanam pot menggunakan mulsa.
- Serangan hama bisa diminimalisir dengan menanam tumbuh-tumbuhan penangkal hama.
- Pemupukan hanya perlu 3 bulan sekali dengan adanya produk pupuk golongan Slow Release.
- dan masih banyak lagi…
Jadi, hilangkan pola pikir tradisional kita tentang berkebun. Hari ini cara berkebun di pekarangan rumah sudah semakin mudah dan praktis.
Tips #3 – Gunakan Alat Irigasi Otomatis
Salah satu tugas berkebun yang paling banyak menyita waktu adalah menyiram. Karena harus dilakukan setiap hari sepanjang hidup tabulampot kita.
Sebetulnya, menyiram tanaman adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. Senikmat ketika kita memetik buah-buahan segar dari kebun sendiri.
Saya pun merasakannya.
Karena pada saat menyiram, kita sedang berinteraksi secara langsung dengan tanaman.
Sambil menyiram, sedikit atau banyak, kita ikut merasakan apa yang sedang dialami tanaman kita.
Pohon yang pertumbuhannya tampak sehat dan subur menyiratkan pohon tersebut mendapatkan kebahagiaan.
Sedangkan tanaman yang terlihat sakit dan pertumbuhannya lambat, biasanya kita merasa agak bersalah. Kita mungkin merasa kurang maksimal dalam memperhatikan mereka, atau mungkin kita menjadi ragu, bisa jadi ada yang salah dalam cara kita merawat.
Itulah perasaan yang saya alami sebagai pecinta tanaman. Dan di situlah sensasi paling berkesan dalam berkebun.
Tapi mungkin saja, tiap orang memiliki perasaan yang berbeda.
Namun karena anda memiliki kesibukan yang padat, maka mengerjakan tugas menyiram setiap hari adalah ide yang buruk.
Anda akan kewalahan dan bisa saja berhenti total dari mengurus kebun tabulampot anda karena frustasi dengan tugas tersebut.
Kecuali jika ada orang di rumah yang bisa diandalkan untuk mngerjakannya. Seperti suami/istri, anak-anak, atau mungkin asisten rumah tangga anda. Maka anda tidak membutuhkan alat irigasi otomatis sama sekali.
Sedangkan bagi anda yang merasa tidak mampu untuk konsisten menyiram tabulampot setiap hari dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikan anda, maka siapkan modal dari sekarang untuk membeli seperangkat alat irigasi otomatis.
Biaya alat tersebut sangat relatif. Bisa sangat murah, senilai puluhan ribu rupiah. Namun juga bisa lebih mahal hingga ratusan ribu rupiah.
Biaya yang anda keluarkan tergantung jenis alat yang anda gunakan, karena sistem irigasi otomatis ada bermacam-macam.
Tips #4 – Gunakan Ukuran Pot Yang Sama Untuk Semua Pohon
Kebanyakan orang menanam tabulampot menggunakan beragam ukuran pot berbeda.
Anda disarankan melakukan sebaliknya, yaitu menggunakan ukuran pot yang seragam pada seluruh koleksi tabulampot anda.
Apabila anda ingin menanam 10 tabulampot, maka seluruhnya harus menggunakan ukuran pot yang sama. Misal pot diameter 50cm semua, atau 40cm semua, atau mungkin seukuran belahan drum semua.
Terserah anda.
Mengapa harus begitu?
Alasan pertama, dengan menggunakan ukuran pot yang seragam, maka pemasangan alat irigasi otomatis akan menjadi lebih mudah dan rapi.
Bayangkan jika anda menanam 10 tabulampot, kemudian ada yang menggunakan pot diamater 50cm, 40cm dan 30cm. Nantinya cukup sulit untuk mengatur volume air pada alat irigasi.
Karena secara umum, alat irigasi otomatis akan mengalirkan air dengan debit atau volume yang sama pada masing-masing titik tanam atau pot.
Jika alat irigasi anda atur outputnya sebanyak 3 liter, maka masing-masing pot akan mendapatkan 3 liter air.
Nah, tidak mungkin kan anda menyiram pot ukuran 30cm dan 40cm sebanyak itu setiap hari. Masing-masing hanya butuh 1-2 liter air. Sedangkan 3 liter air adalah kebutuhan untuk pot diamater 50cm.
Alasan kedua adalah untuk mendukung Tips #1 yang telah kita bahas, dimana anda hanya disarankan menanam jenis pohon buah yang perawatannya bisa dipukul rata.
Nah, karena teknis perawatannya dipukul rata, maka mau tidak mau, ukuran pot-nya pun harus disama-ratakan juga.
Contohnya begini, dosis dan frekuensi pemupukan untuk pohon yang ditanam dalam pot diameter 50cm akan sangat berbeda dengan yang ditanam dalam pot 30cm.
Apabila pot ukuran 50cm memerlukan pupuk NPK sebanyak 2 sendok makan setiap sebulan sekali, maka pada pot ukuran 30cm hanya perlu 1 sendok teh setiap 2 minggu sekali.
Semakin kecil ukuran pot, maka semakin rendah dosis pupuk yang diberikan dan semakin sering frekuensi pemupukannya.
Perbedaannya sangat jauh, bukan.
Itu baru contoh dalam hal pemupukan, belum teknis-teknis perawatan lainnya.
Jadi sekali lagi, tidak ada pilihan lain, anda harus menggunakan ukuran pot yang seragam untuk mempermudah cara anda berkebun.
Tips #5 – Hindari Pupuk Golongan Fast Release
Terserah anda ingin menggunakan pupuk kimia/sintetis maupun pupuk organik. Namun, jangan gunakan pupuk yang tergolong fast release.
Pupuk fast release artinya pupuk tersebut akan segera diserap tanaman dalam hitungan hari sejak pupuk tersebut diaplikasikan ke tanaman. Sehingga, pertumbuhan pohon mendadak lebih cepat setelah pemupukan.
Lho, bukankah itu bagus?
Untuk tanaman semusim seperti cabe, sayur-sayuran, melon, semangka dan semisalnya, itu memang bagus, karena bisa mempercepat masa panen.
Namun untuk tanaman tahunan seperti pohon buah-buahan, pupuk fast release akan mengganggu keseimbangan pertumbuhan organ tanaman secara jangka panjang.
Silahkan anda lihat ilustrasi berikut!

Tanaman yang dipupuk golongan fast release, pertumbuhan organ atas (batang dan daun) akan lebih cepat dibanding tanaman yang dipupuk golongan slow release.
Sebaliknya, tanaman yang dipupuk slow release memiliki organ bawah (perakaran) yang jauh lebih rimbun dan kokoh. Sedangkan tanaman yang dipupuk fast release, pertumbuhan akar sangat tertinggal, tidak mampu mengejar kecepatan tumbuh organ atas.
Apa dampak buruknya ketika pertumbuhan organ atas dan bawah tidak seimbang?
Bagi tabulampot, hal itu akan menimbulkan 3 masalah berikut:
1. Organ atas kekurangan nutrisi
Akar adalah organ tanaman yang berfungsi untuk menyuplai air dan nutrisi bagi organ atas secara keseluruhan, mulai dari batang, daun, bunga dan buah.
Ketika organ atas pertumbuhannya terlalu cepat dan organ bawah tidak mampu mengejar, maka tunggulah sampai tiba saatnya di mana suplai nutrisi yang dipasok oleh akar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh organ atas.
Biasanya akan muncul gejala kekurangan nutrisi seperti warna daun berubah, daun mengeriting atau menggulung, daun-daun baru tumbuh cacat, hingga pertumbuhan tunas baru berhenti total.
2. Imunitas tanaman menjadi lemah
Fisik dan imunitas ayam kampung jauh lebih kuat dari ayam broiler.
Mengapa?
Tentu saja karena ayam broiler diberi nutrisi dalam jumlah besar-besaran. Tidak seperti ayam kampung yang makanannya terbatas.
Ehh, saya juga sering menjumpai ayam broiler yang dipelihara layaknya ayam kampung. Hasilnya, ayam broiler tersebut tidak kalah kuat dengan ayam kampung. Lagi-lagi disebabkan karena pemiliknya tidak memberikan nutrisi berlebihan.
Itu hanya perumpamaan saja.
Jika anda ahli tentang ayam dan pernyataan di atas salah, mohon beritahu saya lewat kolom komentar.
Tanaman yang pertumbuhannya terlalu agresif dan tidak seimbang antara organ atas dan bawah akan menyebabkan ketahanan tanaman terhadap cuaca ekstrim dan serangan hama-penyakit menjadi lemah.
Sedangkan pohon yang pertumbuhannya porsional dan seimbang, ia akan memiliki imunitas yang baik, sehingga mampu bertahan dari cekaman cuaca ekstrim seperti curah hujan tinggi dan kemarau panjang, serta mampu bertahan dari serangan hama & penyakit yang selalu datang silih berganti sepanjang umur tanaman.
Betapa repotnya memiliki tanaman yang sebentar-sebentar sakit diserang hama-penyakit, atau karena cuaca yang tidak menentu.
Jangan biarkan anda menghabiskan waktu menjadi dokter bagi tabulampot anda.
Jujur, itu sangat melelahkan.
Saya sudah pernah merasakannya dan tak ingin terulang kembali.
3. Menghasilkan buah dengan mutu dan kuantitas rendah
Jangankan menghasilkan buah berkualitas tinggi dalam jumlah yang tinggi pula, untuk menyuplai nutrisi ke batang, daun dan buah saja akar sangat kesulitan.
Apabila sejak awal tanam hingga pohon tumbuh dewasa anda menggunakan pupuk fast release, siap-siap saja memanen buah dari tabulampot anda dengan jumlah sedikit dan kualitas yang biasa-biasa saja bahkan rendah.
Selain berdampak buruk terhadap tanaman, penggunaan pupuk fast release juga memiliki kerugian bagi sang pemilik pohon.
Kerugian pertama, karena sifat dari pupuk fast release adalah sangat mudah larut dalam air, maka pupuk jenis ini mudah sekali tercuci oleh air hujan maupun air siraman.
Hal itu menjadikan pupuk fast release sulit bertahan lama di dalam media tanam pot. Apalagi saat musim hujan, kemungkinan besar hanya 50% saja yang bisa diserap tanaman bahkan kurang, sisanya hilang terbawa air.
Kerugian kedua, pupuk fast release bekerja sangat cepat. Hari ini kita berikan ke tanaman, seminggu kemudian hasilnya langsung kelihatan.
Karena bekerja cepat, maka pupuk pun cepat habis diserap tanaman.
Dan karena cepat habis, maka frekuensi pemupukan harus lebih sering, setidaknya 1-4 kali dalam sebulan.
Bagi anda yang menginginkan efisiensi waktu dalam berkebun, frekuensi pemupukan sebanyak itu tentu sangat tidak ideal.
Yang ideal adalah melakukan pemupukan cukup 3 bulan sekali. Dan itu hanya bisa dicapai jika anda menggunakan pupuk golongan slow release.
Contoh pupuk fast release dari deretan pupuk kimia yang paling kita kenal adalah NPK 16-16-16 merek apapun, entah itu NPK Mutiara, Pak Tani, YaraMila dan sebagainya.
Sedangkan contoh pupuk kimia slow release adalah merek Dekastar.

Untuk jenis pupuk organik yang tergolong fast release adalah segala macam POC (Pupuk Organik Cair). Sedangkan pupuk organik slow release antara lain kompos, pupuk kandang, Petroganik, Vedagro dan sebagainya.
Tips #6 – Hindari Pestisida Kimia
Alasan pertama anda harus menggunakan pestisida organik dan menjauhi pestisida kimia adalah karena penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus akan menyebabkan hama & penyakit menjadi kebal (resisten) dari pestisida kimia yang anda gunakan tersebut.
Lihat 3 publikasi di bawah ini!



Berbeda dengan pestisida organik, menggunakannya sesering apapun, hama-penyakit tidak akan mampu kebal darinya.
Alasan kedua adalah karena pestisida kimia bekerja tidak hanya membunuh hama & penyakit sasaran, namun memusnahkan juga semua musuh alami hama-penyakit tersebut.
Padahal, populasi musuh alami sangat bermanfaat untuk menekan serangan hama & penyakit yang datang dari luar kebun kita.
Sehingga, kita tidak perlu sering-sering menyemprot pestisida, di mana hal itu akan meningkatkan efisiensi waktu & energi kita dalam berkebun.
Pestisida organik sekalipun mematikan bagi hama & penyakit, namun sangat ramah lingkungan bagi makhluk hidup lain, termasuk musuh alami hama-penyakit.
Tips #7 – Gunakan Produk Pupuk Yang Cocok Untuk Segala Jenis Tanaman Buah
Ada puluhan merek pupuk di pasaran.
Carilah produk pupuk yang kandungannya ideal untuk segala jenis tanaman buah. Sehingga, hanya diperlukan 1 atau 2 produk pupuk saja untuk seluruh koleksi tabulampot anda.
Jangan sampai anda menggunakan produk pupuk yang berbeda-beda untuk tabulampot jeruk, mangga, kelengkeng dan lainnya.
Anda akan kewalahan saat melakukan pemupukan. Karena biasanya, tiap produk pupuk memiliki aturan pakai yang berbeda.
Tips #8 – Gunakan Pestisida Organik Yang All-in-One
Umumnya, mengatasi serangan hama serangga ada jenis pestisidanya sendiri. Hama ulat juga demikian. Begitu pun penyakit akibat jamur dan bakteri, keduanya menuntut penggunaan jenis pestisida yang berbeda.
Terbayang, kan, betapa repotnya menggunakan beragam jenis pestisida untuk kebun tabulampot kita.
Karena bagaimanapun, serangan hama serangga, ulat, kutu, penyakit jamur, virus dan bakteri akan datang silih berganti sepanjang umur tanaman.
Solusinya, belilah produk pestisida organik yang kandungannya bisa mengatasi segala macam hama dan penyakit. Sangat praktis. 😀
Contohnya adalah pestisida organik merek MAGICgro G7.

Tips #9 – Cegah Pertumbuhan Rumput Dengan Mulsa
Mencabuti rumput yang tumbuh di dalam pot adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Apalagi pertumbuhan rumput tidak pernah berhenti.
Mati satu, tumbuh seribu, begitulah pribahasanya.
Kabar baiknya, anda bisa mencegah mereka tumbuh.
Caranya adalah dengan menutupi permukaan media tanam pot menggunakan mulsa (mulch) seperti jerami, sekam padi, gergajian kayu / serbuk kayu, potongan kayu, pecahan batok kelapa, potongan sabut kelapa, dan semisalnya.
Tutupi media tanam pot menggunakan salah satu bahan di atas setebal 1-2 cm sebagai penghalang cahaya matahari, sehingga biji-biji rumput yang berada di permukaan media tanam tidak mampu tumbuh.
Selain mencegah pertumbuhan rumput, mulsa juga bermanfaat untuk menjaga kelembaban media tanam agar tidak cepat kering, sehingga dapat menghemat kebutuhan air.



Tips #10 – Gunakan Komposisi Media Tanam Yang Tidak Cepat Memadat
Salah satu kekurangan dari menanam pohon buah di dalam pot adalah kita perlu mengganti media tanam pot secara berkala setiap 1-2 tahun sekali.
Hal itu dikarenakan media tanam akan memadat seiring berjalannya waktu.
Sementara media tanam yang sudah terlalu padat dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan tanaman. Perakaran pohon akan kekurangan oksigen dan kesulitan menyerap air maupun unsur hara. Di samping itu, sebagian besar mikroorganisme tanah yang menguntungkan akan mati.
Nah, untuk menjaga kegemburan dan porousitas media tanam agar bertahan lama, diperlukan komposisi media tanam yang tepat.
Selain menggunakan campuran tanah + kompos/pupuk kandang, anda juga perlu menambahkan bahan penggembur lain yang tidak mudah hancur seperti sekam bakar (arang sekam) atau pasir bangunan.
Dengan begitu, penggantian media tanam bisa dilakukan lebih jarang, cukup 2-3 tahun sekali.
Tips #11 – Tanamlah Beberapa Jenis Tabulampot Yang Cepat Berbuah
Penghobi manapun pasti ingin segera menikmati buah hasil kebun sendiri secepatnya.
Bayangkan anda memiliki 10 tabulampot dan dalam waktu kurang dari 6 bulan sudah ada 3 atau 4 tabulampot yang berbuah.
Saya yakin, semangat anda dalam berkebun akan semakin membara. Sekaligus, anda juga akan merasa sukses dan berpengalaman.
Bisa jadi, saat itu juga anda langsung berniat menambah koleksi tabulampot anda.
Mengapa ini penting?
Karena tidak sedikit penghobi yang berhenti di tengah jalan karena kehabisan semangat.
Bagaimana tidak kehabisan semangat, hampir semua tabulampot yang mereka koleksi tidak kunjung berbuah sejak bertahun-tahun ditanam.
Kebanyakan kita tidak mampu menunggu selama itu.
Termasuk saya sendiri.
Maka dari itulah saya share tips ini, supaya anda tidak kehilangan motivasi di tengah jalan.
Menurut pengalaman saya, tidak kurang dari 12 jenis pohon buah yang mampu berbuah sangat cepat di dalam pot. Saya akan bahas pada kesempatan yang lain, InsyaAllah.
Tips #12 – Koleksilah Tanaman Refugia Untuk Menangkal Hama
Saya kutip langsung dari Dinas Pertanian Kab. Mojokerto yang menjelaskan bahwa:
“Tanaman refugia adalah tanaman yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai tempat perlindungan dan sumber pakan bagi serangga musuh alami (baik predator atau pemangsa maupun parasitoid).
Hal tersebut dilakukan agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik.”
Bunga Matahari, Marigold, Zinnia, Petunia dan Bunga Pukul Delapan hanyalah sebagian kecil dari sederet tanaman bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai refugia.
Maksud menangkal di sini adalah hama-hama di kebun kita akan teralihkan menuju tanaman refugia, kemudian musuh alami hama yang hidup di sela-sela tanaman refugia akan segera memakan mereka.
Hasilnya, tabulampot kita relatif aman dari serangan hama.
Dengan begitu, penggunaan pestisida bisa semakin diminimalisir, yang artinya semakin efisien waktu dan energi.
Tanaman refugia bisa anda tanam di pinggiran kebun atau lokasi-lokasi lain yang kosong.
Selain menangkal hama, tanaman refugia juga akan menghias kebun anda menjadi lebih cantik dan berwarna.
Duh, rasanya lengkap sudah.
Pekarangan anda akan berisi aneka pohon buah dan tanaman bunga yang menyatu dalam satu pemandangan.
Indah dan eksotis, cukup tiga kata untuk menggambarkannya. 😀

Tips #13 – Pilihlah Frekuensi Pemupukan Yang Memungkinkan Anda Untuk Konsisten
Di luar sana banyak penghobi yang berbagi teknis pemupukan tabulampot dengan beragam frekuensi berbeda.
Ada yang menyarankan sebulan sekali, 2 minggu sekali, seminggu sekali, bahkan saya pernah dengar ada yang seminggu 2 kali.
Bagi mereka yang memiliki banyak waktu untuk berkebun, tidak ada masalah mengambil frekuensi manapun.
Namun bagi anda yang sangat sibuk, pemupukan 3 bulan sekali adalah yang paling memudahkan anda untuk konsisten. Pemupukan terlalu sering, terkadang membuat kita bosan dan akhirnya tidak disiplin lagi melakukannya.
Tips ini masih berkaitan erat dengan Tips #5, yang mana anda harus menggunakan pupuk slow release supaya frekuensi pemupukan bisa lebih jarang.
Di samping itu, anda juga perlu menggunakan pot diameter minimal 50cm agar hasilnya efektif.
Alasannya, pot ukuran segitu mampu menampung pupuk dengan dosis lebih tinggi, dibandingkan pot ukuran di bawahnya. Saya sudah jelaskan perihal ini sebelumnya. Semakin besar ukuran pot, semakin banyak dosis pupuk yang diberikan dan semakin rendah frekuensi pemupukannya.
Tips #14 – Rencanakan Semuanya Di Awal
Dalam pekerjaan apapun, kita dituntut melakukan pekerjaan tersebut dengan perencanaan dan sistematis. Tujuannya supaya pekerjaan bisa diselesaikan dengan mulus dan seefisien mungkin.
Kaedah tersebut juga berlaku dalam berkebun.
Anda perlu merencanakan semuanya sejak awal.
Mulai dari lokasi penempatan tanaman, jumlah tabulampot, jenis tanaman buah yang ingin dikoleksi, ukuran pot yang digunakan, komposisi media tanam yang dipilih, metode budidaya tabulampot yang akan diterapkan, dan seterusnya.
Dengan melakukan perencanaan, segala hal yang harus anda lakukan dan apapun yang anda perlukan akan menjadi jelas dan gamblang.
Sehingga, anda bisa menggunakan waktu berkebun seefektif mungkin.
Jangan sampai waktu 2 jam seminggu yang anda sediakan untuk berkebun terbuang sia-sia atau hanya habis untuk melakukan sesuatu yang berdampak kecil.
Tips #15 – Dokumentasikan Perjalanan Berkebun Anda
Bagian ini tidak harus (optional), namun menurut saya masih cukup penting.
Anda bisa mendokumentasikan setiap proses yang telah anda selesaikan dalam bentuk foto atau video.
Misalnya, anda baru saja selesai menanam semua bibit buah ke dalam pot. Ambil foto atau rekam video semua tabulampot baru anda tersebut.
Setelah beberapa minggu kemudian atau sebulan sekali, ambil kembali foto/video seluruh tabulampot anda.
Dengan begitu, anda telah memiliki dokumen perkembangan kebun tabulampot dari waktu ke waktu.
Apa manfaatnya?
Dokumentasi tersebut akan berguna nanti saat anda ingin berbagi pengalaman dengan teman, keluarga atau kerabat, ketika anda ingin memotivasi dan mengajari mereka cara berkebun tabulampot.
Jujur saja, bisa berbagi pengalaman berkebun ke orang lain memiliki kenikmatan tersendiri. Tidak kalah nikmat dengan memetik buah-buahan segar dari hasil kebun sendiri.
Apalagi anda berbagi pengalamannya setelah berhasil membesarkan belasan atau puluhan tabulampot hingga berbuah produktif.
Wah, itu sensasinya akan sangat luar biasa.
Terkadang, berbagi pengalaman ke orang lain tentang cara berkebun itu lebih mengasyikkan dibandingkan berkebun itu sendiri. Haha… 😀
Tips #16 – Carilah Mentor Pribadi
Ini juga tidak harus, sangat optional.
Namun, memiliki mentor pribadi merupakan jalan tol yang bisa mempercepat keberhasilan anda dalam budidaya tabulampot.

Berkebun adalah ilmu terapan, bukan teori.
Anda akan menemukan banyak masalah setelah terjun langsung di lapangan. Apa yang anda pelajari secara teoritis seringkali tidak sama dengan prakteknya.
Sekalipun anda telah menguasai teori berkebun hingga di luar kepala, pada akhirnya anda akan tetap bereksperimen dan jatuh-bangun dalam mempraktekkannya.
Nah, fungsi mentor pribadi adalah meminimalisir proses eksperimen dan jatuh-bangun tersebut, sehingga anda tidak perlu bersusah payah dan sakit kepala dalam menghadapinya.
Tidak sedikit penghobi yang mundur sekalangkah demi selangkah dari dunia berkebun gara-gara tidak mampu bertahan dalam menghadapi jatuh-bangun merawat tabulampot mereka.
Kata-kata Terakhir
Tidak sedikit orang yang tertarik menanam beragam pohon buah di dalam pot untuk menghijaukan pekarangan rumah mereka.
Sayangnya, niat tersebut hanya tersimpan di dalam kepala.
Bertahun-tahun telah berlalu dan itu tetap saja hanya di kepala, tidak pernah terealisasikan.
Penyebabnya karena, “Terlalu sibuk bekerja”, begitu kata mereka.
Faktanya, kesibukan bukanlah alasan.
Tidak tahu bagaimana cara berkebun yang menghabiskan sedikit waktu adalah akar masalah sebenarnya.
Namun setelah anda membaca 16 tips berkebun tabulampot untuk orang sibuk di atas, mestinya, alasan terlalu sibuk bekerja sudah hilang dari benak pikiran anda.
Solusi demi solusi telah siap untuk anda terapkan.
Sekarang terserah anda, apakah tetap kekeuh (ngotot) dengan persepsi selama ini yang mengatakan diri anda terlalu sibuk. Atau anda bergegas keluar rumah menuju pekarangan dan siap menggarap tabulampot pertama anda.
Mungkin itu saja yang bisa saya share.
Jangan lupa berlangganan artikel Daunku.com dengan mendaftarkan alamat email anda di kolom Gratis Berlangganan Artikel.
Saya akan mengabari anda via email setiap kali ada artikel baru yang dirilis. Selain itu, saya juga sering mengirim tips dan saran seputar berkebun buah di pekarangan rumah yang tidak saya share di sini dan di situs manapun.
Oke, saya akhiri.
Terimakasih dan salam berkebun… 😀





















Terima kasih,Informasi Detail jelas dan mudah di pahami dan di praktekkan
luar biasa infomasinya, sangat lengkap , jelas & mudah dipahami
semangat terus ya pak, ditunggu artikel berikutnya
Terimakasih, informasi yang sangat komprehensif
Terbaik n mudah difahami serta realistik pak… Dlm konsep organik ada juga penghobby menggunakan air laut utk gantian unsur2 yg mungkin hilang secara alami, kok leh kah pak bantu wat huraian serta cara gunanya dan kebaikan nya secara alami.. Natural farming.