Telah diperbarui Mei 2019.

Masa depan tabulampot anda sangat ditentukan oleh media tanam yang anda gunakan.

Kesalahan membuat media tanam akan berdampak buruk pada pertumbuhan tabulampot dalam jangka panjang.

Bahkan…

Tidak jarang tanaman mati tak lama setelah penanaman ke pot.

Artikel ini saya buat khusus untuk anda yang hobi Tabulampot (tanaman buah dalam pot).

Yang ingin saya angkat dalam tulisan ini adalah bagaimana cara memaksimalkan pertumbuhan dan mempercepat tabulampot berbuah.

Karena banyak sekali penghobi yang mengeluh tabulampot mereka tumbuh sangat lambat dan tidak kunjung berbuah.

Padahal di waktu yang sama…

Tabulampot milik penghobi lain dengan usia yang sama sudah berbuah berkali-kali.

Inilah masalah yang paling menjengkelkan dan dialami oleh sebagian besar penghobi tabulampot. Dan bisa jadi anda juga… 😀

Di sini saya ingin menjawab keluhan tersebut, bahwa penyebab paling umum tabulampot tumbuh lambat dan sulit berbuah adalah media tanam pot yang bermutu rendah, alias dibuat asal-asalan.

Memang…

Penyebabnya bukan hanya media tanam saja. Bisa karena serangan hama & penyakit, bibit bermutu rendah, pemupukan yang salah, dst.

Tapi kali ini, saya ingin membahas soal media tanam yang buruk. Untuk penyebab lainnya akan dibahas pada kesempatan mendatang, InsyaAllah.

Dulu…

…awal pertama kali hobi tabulampot, saya langsung belajar gimana cara bikin media tanam yang bagus.

Saat itu saya belajar dari artikel-artikel yang ada di internet. Soalnya belum banyak penghobi tabulampot di daerah saya. Jadi gak bisa belajar secara langsung dari ahlinya.

Nah,

Karena saya mengikuti setiap petunjuk yang diberikan…

Alhamdulillah, sebagian besar koleksi tabulampot saya tumbuh subur dan berbuah lebih cepat. Ketika itu saya membandingkannya dengan tabulampot milik para pedagang bibit buah di kota saya.

Bisa anda tebak bagaimana perasaan saya saat itu. Sangat puas dan bangga pastinya. Haha 🙂

Bertahun-tahun menekuni hobi tabulampot…

…saya temukan teknik membuat media tanam yang memberikan hasil memuaskan, dan saya ingin membagikannya kepada anda.

Oya, cara membuat media tanam pot di sini (relatif) cocok untuk semua jenis tanaman buah, bahkan tanaman hias, sayur, dan rempah.

Biar gak lama-lama…

Langsung aja yuk kita mulai!

A. Pilihan komposisi media tanam pot

Di luar sana anda akan temukan banyak rekomendasi komposisi media tanam dengan beragam takaran berbeda.

Di sini pun, anda akan dapati hal yang sama.

Pada prinsipnya:

Media tanam pot yang berkualitas tinggi adalah ketika media tanam tersebut memiliki sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang baik.

Artinya…

Media tanam yang anda buat harus:

  • Bertesktur gembur dan porous
  • Kaya kandungan bahan organik, unsur hara dan mikroorganisme tanah
  • pH tanah mendekati netral


Tujuan utama menggunakan campuran aneka jenis bahan (sekam padi, pasir, pupuk kandang, dst) dalam pembuatan media tanam adalah untuk mengkondisikan media tanam agar memiliki sifat-sifat seperti di atas.

Komposisi Media Pot


Berikut macam-macam komposisi media tanam tabulampot yang bisa anda pilih sesuai selera…

1. Apabila menggunakan tanah berat

Tanah berat adalah tipe tanah yang teksturnya didominasi kandungan liat dan sangat sedikit pasir.

Contohnya: tanah merah, tanah lempung, tanah liat, dst.

Ciri-ciri tanah berat yaitu jika kondisi kering teksturnya menjadi padat dan keras. Sedangkan ketika kondisi basah, tanah mudah lengket saat diinjak.

Ciri lainnya adalah tanah berat biasanya memiliki warna yang lebih terang, akibat minimnya unsur hara dan bahan organik yang dikandungnya.

Pilihan komposisi yang bisa anda gunakan:

  1. Tanah berat + pupuk kandang + sekam mentah + pasir (1:1:2:1)
  2. Tanah berat + pupuk kandang + sekam bakar + pasir (1:1:3:1)
  3. Tanah berat + pupuk kandang + sekam mentah (1:1:3)
  4. Tanah berat + pupuk kandang + sekam bakar (1:1:4)
  5. Tanah berat + pupuk kandang + pasir (1:1:1)

2. Apabila menggunakan tanah ringan

Tanah ringan adalah tipe tanah yang teksturnya mengandung pasir > 50% dan sangat sedikit liat.

Contohnya: tanah hitam, tanah lempung berpasir, tanah lembang, dst.

Ciri-cirinya yaitu dalam kondisi kering maupun basah, tekstur tanah tetap remah, gembur dan porous. Begitupun ketika basah, tanah tidak lengket saat diinjak.

Ciri lainnya, tanah ringan memiliki warna yang cenderung gelap, mulai dari coklat gelap hingga hitam, akibat tingginya unsur hara dan bahan organik yang dikandungnya.

Pilihan komposisi yang bisa anda gunakan:

  1. Tanah ringan + pupuk kandang + sekam mentah (1:1:1)
  2. Tanah ringan + pupuk kandang + sekam bakar (1:1:2)
  3. Tanah ringan + pupuk kandang (1:1)

3. Apabila menggunakan media tanam siap pakai

Media tanam siap pakai adalah produk media tanam kemasan yang banyak dijual di toko bibit tanaman.

Dikatakan siap pakai karena media tanam ini telah memiliki campuran aneka jenis bahan (kompos, pupuk kandang, tanah merah, cocopeat, sekam bakar, dst) dan dikemas dalam karung atau kemasan plastik.

Media Tanam Siap Pakai
Contoh media tanam siap pakai


Namun perlu anda ketahui…

…media tanam siap pakai sejatinya BELUM SIAP PAKAI.

Karena belum mengandung pasir atau sekam padi dalam jumlah yang cukup, sehingga porousitasnya masih sangat buruk.

Oleh sebab itu, anda perlu menambahkan campuran sekam padi atau pasir sebagai berikut:

  1. Media tanam siap pakai + sekam mentah + pasir (2:1:1)
  2. Media tanam siap pakai + sekam bakar + pasir (2:2:1)
  3. Media tanam siap pakai + sekam mentah (1:1)
  4. Media tanam siap pakai + sekam bakar (1:2)
  5. Media tanam siap pakai + pasir (2:1)

*) Catatan: pupuk kandang harus sudah matang!


Pupuk kandang yang matang adalah kotoran hewan ternak yang telah didiamkan minimal 1 bulan dan sudah tidak berbau menyengat lagi.

Pupuk kandang yang digunakan sebaiknya dari kotoran kambing, sapi, domba atau semisalnya.

Hindari menggunakan kotoran unggas (ayam, burung, bebek dan semisalnya), karena bisa menyebabkan tekstur media tanam menjadi seperti lumpur.

Kotoran unggas umumnya diberikan sebagai pupuk susulan dengan cara ditabur di atas permukaan tanah.

Namun…

…saya tidak menyarankan menggunakan kotoran ayam (terutama ayam potong / broiler) untuk pupuk susulan.

Karena pengalaman di lapangan, kotoran ayam sering mengundang datangnya penyakit bagi tanaman.

B. Menambahkan pupuk dasar

Kapur Dolomit

Dalam ilmu pertanian, pupuk dasar adalah pupuk yang diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah beberapa minggu atau bulan sebelum penanaman.

Sehingga…

Ketika waktu penanaman telah tiba, kondisi tanah sudah dalam kondisi subur dan kaya unsur hara.

Ibarat memelihara ikan dalam kolam.

Sebelum ikan dimasukkan ke kolam, satu bulan sebelumnya dasar kolam harus sudah dimasukkan lumpur buatan yang banyak mengandung bahan organik.

Sehingga, saat ikan sudah waktunya dimasukkan, air kolam telah berisi banyak plankton (hasil adanya lumpur tadi) yang siap dikonsumsi oleh ikan.

Selanjutnya…

Ikan-ikan itu nantinya akan mengeluarkan banyak kotoran. Dimana, kotoran tersebut akan diolah oleh lumpur di dasar kolam sebagai bahan organik yang hasilnya akan menumbuhkan banyak plankton baru dalam jangka panjang.

Dengan begitu, perputaran produksi makanan ikan berupa plankton akan berlangsung secara otomatis dan terus-menerus di dalam kolam itu sendiri.

Sama halnya dengan media tanam.

Ketika kita berikan campuran bahan organik dalam jumlah yang cukup. Maka kedepannya media tanam tersebut akan menumbuhkan banyak bakteri menguntungkan dalam tanah.

Dimana…

…aktifitas bakteri menguntungkan tersebut dapat membantu:

  • meningkatkan kandungan unsur hara tanah…
  • meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara tanah…
  • membantu membasmi berbagai hama dan penyakit tanaman dalam tanah…
  • dan masih banyak lagi.


Jadi, apa saja pupuk dasar yang digunakan?

Ini dia:

  1. Pupuk kandang
  2. Kapur Dolomit
  3. Pupuk NPK Mutiara


Pupuk kandang diberikan sebagai campuran komposisi media tanam, seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Sekarang kita bahas soal penggunaan Kapur Dolomit dan pupuk NPK Mutiara.

Dosis yang diberikan harus menyesuaikan ukuran pot yang anda gunakan. Berikut rekomendasi dari saya…

Menggunakan pot plastik No.35 – 40:

  • NPK Mutiara= 1 – 2 sdm
  • Kapur Dolomit= 2 – 3 sdm


Menggunakan pot plastik No.45 – 50:

  • NPK Mutiara= 2 – 3 sdm
  • Kapur Dolomit= 3 – 4 sdm


Menggunakan pot plastik No.60 – 70:

  • NPK Mutiara= 3 – 4 sdm
  • Kapur Dolomit= 4 – 5 sdm


*) Keterangan:
sdm = sendok makan

Bagi anda yang menggunakan polybag besar, planterbag atau belahan drum bekas, dosis menyesuaikan dengan ukuran pot plastik terdekat.

Contoh:

Planterbag ukuran 45 liter bisa mengikuti dosis pot plastik No.35 – 40. Sedangkan belahan drum bekas bisa mengikuti dosis pot plastik No.60 – 70.

Cara memberikan pupuk dasar adalah dicampur rata bersama media tanam.

C. Proses ferementasi media tanam

Mencampur Media Tanam Tabulampot

Setelah semua komposisi media tanam dan pupuk dasar sudah dicampur rata…

…selanjutnya masukkan ke dalam pot hingga penuh, lalu siram secukupnya.

PENTING: Media ini belum bisa ditanami, karena pupuk kandang masih bersifat racun bagi tanaman!

Anda harus mendiamkannya dulu selama 2 – 4 minggu (disebut proses fermentasi). Letakkan pot di tempat terbuka supaya media tanam terpapar sinar matahari dan hujan.

Setelah melewati proses fermentasi tersebut…

…maka media sudah bisa anda tanami pohon buah atau lainnya. 

Ciri-ciri umum media tanam sudah siap ditanami adalah munculnya rumput-rumput kecil di permukaan atasnya.

Jadi,

Apabila dalam 2 minggu ternyata sudah ada rumput yang tumbuh, maka bisa segera anda tanami.

Namun jika belum…

Sebaiknya anda tunggu sampai genap 1 bulan, untuk memastikan media tanam telah terfermentasi sempurna.

Kesimpulan

Media Tumbuh Tabulampot
(source: pallensmith.com)


50% yang menentukan tabulampot kita tumbuh optimal dan cepat berbuah adalah kualitas media tanam yang digunakan.

Sedangkan teknis perawatan seperti penyiraman, pemupukan, pemangkasan, pengendalian hama & penyakit, dan seterusnya adalah bagian dari 50% sisanya.

Jadi…

Jangan remehkan masalah ini!

Betapa banyak penghobi yang rugi waktu, biaya dan keringat akibat mengesampingkan masalah media tanam. Akhirnya, hasil yang mereka dapat pun mengecewakan.

Mudah-mudahan kita tidak mengalami hal yang sama seperti mereka. Hehe 🙂