16 Tips Berkebun Tabulampot Untuk Anda Yang Super Sibuk

Tepat pukul 5 sore, hujan turun sangat deras.

Saya duduk di sebuah kursi kayu tua di teras belakang rumah yang beratapkan asbes.

Sambil menikmati secangkir kopi hangat, suara gemericik air dan sejuknya angin bercampur embun, seketika menghilangkan lelahnya badan setelah seharian beraktifitas.

Di sana saya memandangi pekarangan belakang rumah yang kosong.

Hanya ada 2 pohon buah dalam pot yang bersandingan di samping tembok panel beton setinggi 3 meter.

Pohon pertama adalah Apel Putsa di dalam pot plastik diameter 50cm yang hampir semua cabangnya penuh dengan bunga dan beberapa buah muda seukuran ujung telunjuk.

Di sebelahnya ada Barbados Cherry, menggunakan pot plastik 35cm yang buahnya baru saja saya panen kemarin siang.

Tabulampot Apel Putsa dan Barbados Cherry
(Gambar: Tabulampot Apel Putsa dan Barbados Cherry)

Kedua tabulampot tersebut saya tanam sekitar 2 tahun yang lalu, jika tidak salah.

Sekitar 3 meter dari sana, ada beberapa pot kecil berjejer rapi milik istri saya yang berisi tanaman daun mangkok, kunyit, lidah buaya dan beberapa pot lagi sudah dipenuhi rumput-rumput tak jelas.

Bola mata saya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mengamati pemandangan halaman belakang dari sudut satu ke sudut lain hingga beberapa kali.

Tak lama itu terlintas di benak saya, “Bagaimana jika pekarangan ini saya isi dengan tabulampot. Kemungkinan bisa muat 15 pot, bahkan lebih”.

Spontan hati menjawab, “Ahh, mana mungkin. Tidak ada waktu untuk itu. Saya terlalu sibuk”.

Kring… kring… kring… Tiba-tiba handphone berbunyi.

Rupanya ada telpon masuk dari salah satu klien. Saya pun kembali masuk rumah untuk menjauhi bisingnya suara hujan.

Setelah itu, keinginan saya untuk berkebun tabulampot lenyap ditelan kesibukan.

Bisa jadi, cerita pendek di atas pernah anda alami sendiri.

Anda ingin menanam berbagai tanaman buah dalam pot, namun keinginan tersebut pupus karena terhalang oleh kesibukan kerja.

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang datang kepada anda untuk memberi informasi cara budidaya tabulampot khusus orang sibuk, di mana anda hanya perlu meluangkan waktu 2 jam seminggu bahkan kurang?

Apakah anda tertarik mendengarnya?

Jika tertarik, maka saya ingin menyampaikan informasi tersebut melalui tulisan ini. Saya telah merangkumnya menjadi 16 tips yang bisa anda praktekkan hari ini juga.

Penasaran?

Mari kita mulai.

Tips #1 – Tanamlah Pohon Buah Yang Minim Perawatan

Ada jenis tanaman buah yang memerlukan perhatian lebih. Kita harus mengeceknya secara berkala beberapa minggu sekali untuk memastikan tanaman tidak mengalami masalah.

Dan jika ada masalah, seperti gejala serangan hama & penyakit atau gejala pertumbuhan yang tidak normal lainnya, maka harus ditangani sesegera mungkin.

Jika tidak ditangani dengan baik dan cepat, tanaman bisa mengalami masalah yang lebih serius, bahkan bisa berakhir kematian.

Namun ada juga jenis pohon buah lain yang terlalu tangguh, sehingga tidak membutuhkan perhatian sama sekali.

Meskipun pada prakteknya kita tetap harus mengecek secara berkala, namun frekuensi pengecekannya tidak perlu sering, cukup beberapa bulan sekali.

Nah, untuk menghemat waktu dan energi dalam berkebun tabulampot, sebaiknya anda hanya mengoleksi jenis pohon buah kelompok kedua ini.

Lebih bagus lagi jika anda menanam beragam jenis pohon buah yang teknis perawatannya bisa disamakan ratakan antara pohon satu dengan lainnya.

Memangnya ada ya?

Banyak.

Saya hitung, tidak kurang dari 30 jenis tanaman buah yang bisa dipukul rata cara perawatannya.

Saya akan bahas ketiga puluh jenis pohon buah tersebut pada tulisan yang lain, InsyaAllah.

Tips #2 – Pilihlah Metode Budidaya Tabulampot Yang Paling Sederhana & Hemat Waktu

Di luar sana ada banyak sekali referensi cara budidaya tabulampot dengan beragam versi berbeda.

Mulai dari yang paling sederhana hingga rumit. Dari yang sangat efisien hingga yang boros waktu dan tenaga.

Bagi orang yang sangat sibuk, memilih metode budidaya sesederhana mungkin adalah harga mati.

Masalah utama mengapa banyak orang yang tidak bisa berkebun tabulampot sebetulnya bukan karena kesibukan, namun karena tidak tahu cara berkebun yang paling sesuai dengan kondisi mereka.

Ketakutan orang-orang sibuk seperti saya dan anda dalam berkebun biasanya adalah tidak siap untuk konsisten dalam menyiram, memupuk, mencabuti rumput, memangkas cabang-cabang tidak beraturan, mengatasi serangan hama & penyakit, dan tugas-tugas berkebun lainnya yang tampaknya sangat menyita waktu dan energi kita.

Padahal, banyak dari tugas-tugas tersebut yang bisa diselesaikan menggunakan teknologi berkebun modern.

Inilah beberapa tugas berkebun yang bisa diatasi:

  • Penyiraman tidak lagi manual dengan adanya alat irigasi otomatis.
  • Masalah rumput bisa dicegah dengan menutupi permukaan media tanam pot menggunakan mulsa.
  • Serangan hama bisa diminimalisir dengan menanam tumbuh-tumbuhan penangkal hama.
  • Pemupukan hanya perlu 3 bulan sekali dengan adanya produk pupuk golongan Slow Release.
  • dan masih banyak lagi…

Jadi, hilangkan pola pikir tradisional kita tentang berkebun. Hari ini cara berkebun di pekarangan rumah sudah semakin mudah dan praktis.

Tips #3 – Gunakan Alat Irigasi Otomatis

Salah satu tugas berkebun yang paling banyak menyita waktu adalah menyiram. Karena harus dilakukan setiap hari sepanjang hidup tabulampot kita.

Sebetulnya, menyiram tanaman adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. Senikmat ketika kita memetik buah-buahan segar dari kebun sendiri.

Saya pun merasakannya.

Karena pada saat menyiram, kita sedang berinteraksi secara langsung dengan tanaman.

Sambil menyiram, sedikit atau banyak, kita ikut merasakan apa yang sedang dialami tanaman kita.

Pohon yang pertumbuhannya tampak sehat dan subur menyiratkan pohon tersebut mendapatkan kebahagiaan.

Sedangkan tanaman yang terlihat sakit dan pertumbuhannya lambat, biasanya kita merasa agak bersalah. Kita mungkin merasa kurang maksimal dalam memperhatikan mereka, atau mungkin kita menjadi ragu, bisa jadi ada yang salah dalam cara kita merawat.

Itulah perasaan yang saya alami sebagai pecinta tanaman. Dan di situlah sensasi paling berkesan dalam berkebun.

Tapi mungkin saja, tiap orang memiliki perasaan yang berbeda.

Namun karena anda memiliki kesibukan yang padat, maka mengerjakan tugas menyiram setiap hari adalah ide yang buruk.

Anda akan kewalahan dan bisa saja berhenti total dari mengurus kebun tabulampot anda karena frustasi dengan tugas tersebut.

Kecuali jika ada orang di rumah yang bisa diandalkan untuk mngerjakannya. Seperti suami/istri, anak-anak, atau mungkin asisten rumah tangga anda. Maka anda tidak membutuhkan alat irigasi otomatis sama sekali.

Sedangkan bagi anda yang merasa tidak mampu untuk konsisten menyiram tabulampot setiap hari dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikan anda, maka siapkan modal dari sekarang untuk membeli seperangkat alat irigasi otomatis.

Fertigasi Pot
Alat Irigasi Otomatis
Irigasi Pot Otomatis

Biaya alat tersebut sangat relatif. Bisa sangat murah, senilai puluhan ribu rupiah. Namun juga bisa lebih mahal hingga ratusan ribu rupiah.

Biaya yang anda keluarkan tergantung jenis alat yang anda gunakan, karena sistem irigasi otomatis ada bermacam-macam.

Tips #4 – Gunakan Ukuran Pot Yang Sama Untuk Semua Pohon

Kebanyakan orang menanam tabulampot menggunakan beragam ukuran pot berbeda.

Anda disarankan melakukan sebaliknya, yaitu menggunakan ukuran pot yang seragam pada seluruh koleksi tabulampot anda.

Apabila anda ingin menanam 10 tabulampot, maka seluruhnya harus menggunakan ukuran pot yang sama. Misal pot diameter 50cm semua, atau 40cm semua, atau mungkin seukuran belahan drum semua.

Terserah anda.

Ukuran Pot Seragam
Ukuran Pot Yang Seragam

Mengapa harus begitu?

Alasan pertama, dengan menggunakan ukuran pot yang seragam, maka pemasangan alat irigasi otomatis akan menjadi lebih mudah dan rapi.

Bayangkan jika anda menanam 10 tabulampot, kemudian ada yang menggunakan pot diamater 50cm, 40cm dan 30cm. Nantinya cukup sulit untuk mengatur volume air pada alat irigasi.

Karena secara umum, alat irigasi otomatis akan mengalirkan air dengan debit atau volume yang sama pada masing-masing titik tanam atau pot.

Jika alat irigasi anda atur outputnya sebanyak 3 liter, maka masing-masing pot akan mendapatkan 3 liter air.

Nah, tidak mungkin kan anda menyiram pot ukuran 30cm dan 40cm sebanyak itu setiap hari. Masing-masing hanya butuh 1-2 liter air. Sedangkan 3 liter air adalah kebutuhan untuk pot diamater 50cm.

Alasan kedua adalah untuk mendukung Tips #1 yang telah kita bahas, dimana anda hanya disarankan menanam jenis pohon buah yang perawatannya bisa dipukul rata.

Nah, karena teknis perawatannya dipukul rata, maka mau tidak mau, ukuran pot-nya pun harus disama-ratakan juga.

Contohnya begini, dosis dan frekuensi pemupukan untuk pohon yang ditanam dalam pot diameter 50cm akan sangat berbeda dengan yang ditanam dalam pot 30cm.

Apabila pot ukuran 50cm memerlukan pupuk NPK sebanyak 2 sendok makan setiap sebulan sekali, maka pada pot ukuran 30cm hanya perlu 1 sendok teh setiap 2 minggu sekali.

Semakin kecil ukuran pot, maka semakin rendah dosis pupuk yang diberikan dan semakin sering frekuensi pemupukannya.

Perbedaannya sangat jauh, bukan.

Itu baru contoh dalam hal pemupukan, belum teknis-teknis perawatan lainnya.

Jadi sekali lagi, tidak ada pilihan lain, anda harus menggunakan ukuran pot yang seragam untuk mempermudah cara anda berkebun.

Tips #5 – Hindari Pupuk Golongan Fast Release

Terserah anda ingin menggunakan pupuk kimia/sintetis maupun pupuk organik. Namun, jangan gunakan pupuk yang tergolong fast release.

Pupuk fast release artinya pupuk tersebut akan segera diserap tanaman dalam hitungan hari sejak pupuk tersebut diaplikasikan ke tanaman. Sehingga, pertumbuhan pohon mendadak lebih cepat setelah pemupukan.

Lho, bukankah itu bagus?

Untuk tanaman semusim seperti cabe, sayur-sayuran, melon, semangka dan semisalnya, itu memang bagus, karena bisa mempercepat masa panen.

Namun untuk tanaman tahunan seperti pohon buah-buahan, pupuk fast release akan mengganggu keseimbangan pertumbuhan organ tanaman secara jangka panjang.

Silahkan anda lihat ilustrasi berikut!

Slow Release vs Fast Release Fertilizer
(Ilustrasi: Perbandingan hasil penggunaan pupuk slow release dan fast release)

Tanaman yang dipupuk golongan fast release, pertumbuhan organ atas (batang dan daun) akan lebih cepat dibanding tanaman yang dipupuk golongan slow release.

Sebaliknya, tanaman yang dipupuk slow release memiliki organ bawah (perakaran) yang jauh lebih rimbun dan kokoh. Sedangkan tanaman yang dipupuk fast release, pertumbuhan akar sangat tertinggal, tidak mampu mengejar kecepatan tumbuh organ atas.

Apa dampak buruknya ketika pertumbuhan organ atas dan bawah tidak seimbang?

Bagi tabulampot, hal itu akan menimbulkan 3 masalah berikut:

1. Organ atas kekurangan nutrisi

Akar adalah organ tanaman yang berfungsi untuk menyuplai air dan nutrisi bagi organ atas secara keseluruhan, mulai dari batang, daun, bunga dan buah.

Ketika organ atas pertumbuhannya terlalu cepat dan organ bawah tidak mampu mengejar, maka tunggulah sampai tiba saatnya di mana suplai nutrisi yang dipasok oleh akar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh organ atas.

Biasanya akan muncul gejala kekurangan nutrisi seperti warna daun berubah, daun mengeriting atau menggulung, daun-daun baru tumbuh cacat, hingga pertumbuhan tunas baru berhenti total.

2. Imunitas tanaman menjadi lemah

Fisik dan imunitas ayam kampung jauh lebih kuat dari ayam broiler.

Mengapa?

Tentu saja karena ayam broiler diberi nutrisi dalam jumlah besar-besaran. Tidak seperti ayam kampung yang makanannya terbatas.

Ehh, saya juga sering menjumpai ayam broiler yang dipelihara layaknya ayam kampung. Hasilnya, ayam broiler tersebut tidak kalah kuat dengan ayam kampung. Lagi-lagi disebabkan karena pemiliknya tidak memberikan nutrisi berlebihan.

Itu hanya perumpamaan saja.

Jika anda ahli tentang ayam dan pernyataan di atas salah, mohon beritahu saya lewat kolom komentar.

Tanaman yang pertumbuhannya terlalu agresif dan tidak seimbang antara organ atas dan bawah akan menyebabkan ketahanan tanaman terhadap cuaca ekstrim dan serangan hama-penyakit menjadi lemah.

Sedangkan pohon yang pertumbuhannya porsional dan seimbang, ia akan memiliki imunitas yang baik, sehingga mampu bertahan dari cekaman cuaca ekstrim seperti curah hujan tinggi dan kemarau panjang, serta mampu bertahan dari serangan hama & penyakit yang selalu datang silih berganti sepanjang umur tanaman.

Betapa repotnya memiliki tanaman yang sebentar-sebentar sakit diserang hama-penyakit, atau karena cuaca yang tidak menentu.

Jangan biarkan anda menghabiskan waktu menjadi dokter bagi tabulampot anda.

Jujur, itu sangat melelahkan.

Saya sudah pernah merasakannya dan tak ingin terulang kembali.

3. Menghasilkan buah dengan mutu dan kuantitas rendah

Jangankan menghasilkan buah berkualitas tinggi dalam jumlah yang tinggi pula, untuk menyuplai nutrisi ke batang, daun dan buah saja akar sangat kesulitan.

Apabila sejak awal tanam hingga pohon tumbuh dewasa anda menggunakan pupuk fast release, siap-siap saja memanen buah dari tabulampot anda dengan jumlah sedikit dan kualitas yang biasa-biasa saja bahkan rendah.

Selain berdampak buruk terhadap tanaman, penggunaan pupuk fast release juga memiliki kerugian bagi sang pemilik pohon.

Kerugian pertama, karena sifat dari pupuk fast release adalah sangat mudah larut dalam air, maka pupuk jenis ini mudah sekali tercuci oleh air hujan maupun air siraman.

Hal itu menjadikan pupuk fast release sulit bertahan lama di dalam media tanam pot. Apalagi saat musim hujan, kemungkinan besar hanya 50% saja yang bisa diserap tanaman bahkan kurang, sisanya hilang terbawa air.

Kerugian kedua, pupuk fast release bekerja sangat cepat. Hari ini kita berikan ke tanaman, seminggu kemudian hasilnya langsung kelihatan.

Karena bekerja cepat, maka pupuk pun cepat habis diserap tanaman.

Dan karena cepat habis, maka frekuensi pemupukan harus lebih sering, setidaknya 1-4 kali dalam sebulan.

Bagi anda yang menginginkan efisiensi waktu dalam berkebun, frekuensi pemupukan sebanyak itu tentu sangat tidak ideal.

Yang ideal adalah melakukan pemupukan cukup 3 bulan sekali. Dan itu hanya bisa dicapai jika anda menggunakan pupuk golongan slow release.

Contoh pupuk fast release dari deretan pupuk kimia yang paling kita kenal adalah NPK 16-16-16 merek apapun, entah itu NPK Mutiara, Pak Tani, YaraMila dan sebagainya.

Pupuk NPK Mutiara
(Gambar: NPK 16-16-16 merek Mutiara)
NPK Pak Tani
(Gambar: NPK 16-16-16 merek Pak Tani)

Sedangkan contoh pupuk kimia slow release adalah merek Dekastar.

Pupuk Dekastar
(Gambar: Pupuk Dekastar)

Untuk jenis pupuk organik yang tergolong fast release adalah segala macam POC (Pupuk Organik Cair). Sedangkan pupuk organik slow release antara lain kompos, pupuk kandang, Petroganik, Vedagro dan sebagainya.

Tips #6 – Hindari Pestisida Kimia

Alasan pertama anda harus menggunakan pestisida organik dan menjauhi pestisida kimia adalah karena penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus akan menyebabkan hama & penyakit menjadi kebal (resisten) dari pestisida kimia yang anda gunakan tersebut.

Lihat 3 publikasi di bawah ini!


Berita Tentang Resistensi Hama - Republika

Berita Tentang Resistensi Hama - Distan Buleleng

Berita Tentang Resistensi Hama - Kompas

Berbeda dengan pestisida organik, menggunakannya sesering apapun, hama-penyakit tidak akan mampu kebal darinya.

Alasan kedua adalah karena pestisida kimia bekerja tidak hanya membunuh hama & penyakit sasaran, namun memusnahkan juga semua musuh alami hama-penyakit tersebut.

Padahal, populasi musuh alami sangat bermanfaat untuk menekan serangan hama & penyakit yang datang dari luar kebun kita.

Sehingga, kita tidak perlu sering-sering menyemprot pestisida, di mana hal itu akan meningkatkan efisiensi waktu & energi kita dalam berkebun.

Pestisida organik sekalipun mematikan bagi hama & penyakit, namun sangat ramah lingkungan bagi makhluk hidup lain, termasuk musuh alami hama-penyakit.

Tips #7 – Gunakan Produk Pupuk Yang Cocok Untuk Segala Jenis Tanaman Buah

Ada puluhan merek pupuk di pasaran.

Carilah produk pupuk yang kandungannya ideal untuk segala jenis tanaman buah. Sehingga, hanya diperlukan 1 atau 2 produk pupuk saja untuk seluruh koleksi tabulampot anda.

Jangan sampai anda menggunakan produk pupuk yang berbeda-beda untuk tabulampot jeruk, mangga, kelengkeng dan lainnya.

Anda akan kewalahan saat melakukan pemupukan. Karena biasanya, tiap produk pupuk memiliki aturan pakai yang berbeda.

Tips #8 – Gunakan Pestisida Organik Yang All-in-One

Umumnya, mengatasi serangan hama serangga ada jenis pestisidanya sendiri. Hama ulat juga demikian. Begitu pun penyakit akibat jamur dan bakteri, keduanya menuntut penggunaan jenis pestisida yang berbeda.

Terbayang, kan, betapa repotnya menggunakan beragam jenis pestisida untuk kebun tabulampot kita.

Karena bagaimanapun, serangan hama serangga, ulat, kutu, penyakit jamur, virus dan bakteri akan datang silih berganti sepanjang umur tanaman.

Solusinya, belilah produk pestisida organik yang kandungannya bisa mengatasi segala macam hama dan penyakit. Sangat praktis. 😀

Contohnya adalah pestisida organik merek MAGICgro G7.

Pestisida Organik MAGICgro G7
Gambar: Pestisida organik MAGICgro G7.

Tips #9 – Cegah Pertumbuhan Rumput Dengan Mulsa

Mencabuti rumput yang tumbuh di dalam pot adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Apalagi pertumbuhan rumput tidak pernah berhenti.

Mati satu, tumbuh seribu, begitulah pribahasanya.

Kabar baiknya, anda bisa mencegah mereka tumbuh.

Caranya adalah dengan menutupi permukaan media tanam pot menggunakan mulsa (mulch) seperti jerami, sekam padi, gergajian kayu / serbuk kayu, potongan kayu, pecahan batok kelapa, potongan sabut kelapa, dan semisalnya.

Tutupi media tanam pot menggunakan salah satu bahan di atas setebal 1-2 cm sebagai penghalang cahaya matahari, sehingga biji-biji rumput yang berada di permukaan media tanam tidak mampu tumbuh.

Selain mencegah pertumbuhan rumput, mulsa juga bermanfaat untuk menjaga kelembaban media tanam agar tidak cepat kering, sehingga dapat menghemat kebutuhan air.

Manfaat Menggunakan Mulsa
(Tabel: Manfaat menggunakan mulsa/mulch)
Mulsa Serbuk Kayu Pada Tabulampot
(Gambar: Penggunaan mulsa gergajian kayu pada tabulampot)
Mulsa Potongan Kayu
(Gambar: Memanfaatkan potongan kayu untuk mulsa)
Mulsa Jerami Dalam Planterbag
(Gambar: Mulsa jerami pada planterbag)

Tips #10 – Gunakan Komposisi Media Tanam Yang Tidak Cepat Memadat

Salah satu kekurangan dari menanam pohon buah di dalam pot adalah kita perlu mengganti media tanam pot secara berkala setiap 1-2 tahun sekali.

Hal itu dikarenakan media tanam akan memadat seiring berjalannya waktu.

Sementara media tanam yang sudah terlalu padat dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan tanaman. Perakaran pohon akan kekurangan oksigen dan kesulitan menyerap air maupun unsur hara. Di samping itu, sebagian besar mikroorganisme tanah yang menguntungkan akan mati.

Nah, untuk menjaga kegemburan dan porousitas media tanam agar bertahan lama, diperlukan komposisi media tanam yang tepat.

Selain menggunakan campuran tanah + kompos/pupuk kandang, anda juga perlu menambahkan bahan penggembur lain yang tidak mudah hancur seperti sekam bakar (arang sekam) atau pasir bangunan.

Dengan begitu, penggantian media tanam bisa dilakukan lebih jarang, cukup 2-3 tahun sekali.

Pasir
(Gambar: Pasir bangunan)
Arang sekam / sekam bakar
(Gambar: Arang sekam / sekam bakar)

Tips #11 – Tanamlah Beberapa Jenis Tabulampot Yang Cepat Berbuah

Penghobi manapun pasti ingin segera menikmati buah hasil kebun sendiri secepatnya.

Bayangkan anda memiliki 10 tabulampot dan dalam waktu kurang dari 6 bulan sudah ada 3 atau 4 tabulampot yang berbuah.

Saya yakin, semangat anda dalam berkebun akan semakin membara. Sekaligus, anda juga akan merasa sukses dan berpengalaman.

Bisa jadi, saat itu juga anda langsung berniat menambah koleksi tabulampot anda.

Mengapa ini penting?

Karena tidak sedikit penghobi yang berhenti di tengah jalan karena kehabisan semangat.

Bagaimana tidak kehabisan semangat, hampir semua tabulampot yang mereka koleksi tidak kunjung berbuah sejak bertahun-tahun ditanam.

Kebanyakan kita tidak mampu menunggu selama itu.

Termasuk saya sendiri.

Maka dari itulah saya share tips ini, supaya anda tidak kehilangan motivasi di tengah jalan.

Menurut pengalaman saya, tidak kurang dari 12 jenis pohon buah yang mampu berbuah sangat cepat di dalam pot. Saya akan bahas pada kesempatan yang lain, InsyaAllah.

Tabulampot Jambu Kristal
Tabulampot Belimbing
Tabulampot Jeruk Mandarin
Tabulampot Jambu Air Madu Deli Hijau
Tabulampot Kedondong Mini
Tabulampot Jeruk Santang Madu

Tips #12 – Koleksilah Tanaman Refugia Untuk Menangkal Hama

Saya kutip langsung dari Dinas Pertanian Kab. Mojokerto yang menjelaskan bahwa:

“Tanaman refugia adalah tanaman yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai tempat perlindungan dan sumber pakan bagi serangga musuh alami (baik predator atau pemangsa maupun parasitoid).

Hal tersebut dilakukan agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik.”

Bunga Matahari, Marigold, Zinnia, Petunia dan Bunga Pukul Delapan hanyalah sebagian kecil dari sederet tanaman bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai refugia.

Maksud menangkal di sini adalah hama-hama di kebun kita akan teralihkan menuju tanaman refugia, kemudian musuh alami hama yang hidup di sela-sela tanaman refugia akan segera memakan mereka.

Hasilnya, tabulampot kita relatif aman dari serangan hama.

Dengan begitu, penggunaan pestisida bisa semakin diminimalisir, yang artinya semakin efisien waktu dan energi.

Tanaman refugia bisa anda tanam di pinggiran kebun atau lokasi-lokasi lain yang kosong.

Selain menangkal hama, tanaman refugia juga akan menghias kebun anda menjadi lebih cantik dan berwarna.

Duh, rasanya lengkap sudah.

Pekarangan anda akan berisi aneka pohon buah dan tanaman bunga yang menyatu dalam satu pemandangan.

Indah dan eksotis, cukup tiga kata untuk menggambarkannya. 😀

Tanaman Bunga Refugia
Tanaman Refugia Di Pematang Sawah
Tanaman Refugia
Tanaman Refugia Di Pagar Rumah
Tanaman Refugia Penangkal Hama

Tips #13 – Pilihlah Frekuensi Pemupukan Yang Memungkinkan Anda Untuk Konsisten

Di luar sana banyak penghobi yang berbagi teknis pemupukan tabulampot dengan beragam frekuensi berbeda.

Ada yang menyarankan sebulan sekali, 2 minggu sekali, seminggu sekali, bahkan saya pernah dengar ada yang seminggu 2 kali.

Bagi mereka yang memiliki banyak waktu untuk berkebun, tidak ada masalah mengambil frekuensi manapun.

Namun bagi anda yang sangat sibuk, pemupukan 3 bulan sekali adalah yang paling memudahkan anda untuk konsisten. Pemupukan terlalu sering, terkadang membuat kita bosan dan akhirnya tidak disiplin lagi melakukannya.

Tips ini masih berkaitan erat dengan Tips #5, yang mana anda harus menggunakan pupuk slow release supaya frekuensi pemupukan bisa lebih jarang.

Di samping itu, anda juga perlu menggunakan pot diameter minimal 50cm agar hasilnya efektif.

Alasannya, pot ukuran segitu mampu menampung pupuk dengan dosis lebih tinggi, dibandingkan pot ukuran di bawahnya. Saya sudah jelaskan perihal ini sebelumnya. Semakin besar ukuran pot, semakin banyak dosis pupuk yang diberikan dan semakin rendah frekuensi pemupukannya.

Tips #14 – Rencanakan Semuanya Di Awal

Dalam pekerjaan apapun, kita dituntut melakukan pekerjaan tersebut dengan perencanaan dan sistematis. Tujuannya supaya pekerjaan bisa diselesaikan dengan mulus dan seefisien mungkin.

Kaedah tersebut juga berlaku dalam berkebun.

Anda perlu merencanakan semuanya sejak awal.

Mulai dari lokasi penempatan tanaman, jumlah tabulampot, jenis tanaman buah yang ingin dikoleksi, ukuran pot yang digunakan, komposisi media tanam yang dipilih, metode budidaya tabulampot yang akan diterapkan, dan seterusnya.

Dengan melakukan perencanaan, segala hal yang harus anda lakukan dan apapun yang anda perlukan akan menjadi jelas dan gamblang.

Sehingga, anda bisa menggunakan waktu berkebun seefektif mungkin.

Jangan sampai waktu 2 jam seminggu yang anda sediakan untuk berkebun terbuang sia-sia atau hanya habis untuk melakukan sesuatu yang berdampak kecil.

Tips #15 – Dokumentasikan Perjalanan Berkebun Anda

Bagian ini tidak harus (optional), namun menurut saya masih cukup penting.

Anda bisa mendokumentasikan setiap proses yang telah anda selesaikan dalam bentuk foto atau video.

Misalnya, anda baru saja selesai menanam semua bibit buah ke dalam pot. Ambil foto atau rekam video semua tabulampot baru anda tersebut.

Setelah beberapa minggu kemudian atau sebulan sekali, ambil kembali foto/video seluruh tabulampot anda.

Dengan begitu, anda telah memiliki dokumen perkembangan kebun tabulampot dari waktu ke waktu.

Apa manfaatnya?

Dokumentasi tersebut akan berguna nanti saat anda ingin berbagi pengalaman dengan teman, keluarga atau kerabat, ketika anda ingin memotivasi dan mengajari mereka cara berkebun tabulampot.

Jujur saja, bisa berbagi pengalaman berkebun ke orang lain memiliki kenikmatan tersendiri. Tidak kalah nikmat dengan memetik buah-buahan segar dari hasil kebun sendiri.

Apalagi anda berbagi pengalamannya setelah berhasil membesarkan belasan atau puluhan tabulampot hingga berbuah produktif.

Wah, itu sensasinya akan sangat luar biasa.

Terkadang, berbagi pengalaman ke orang lain tentang cara berkebun itu lebih mengasyikkan dibandingkan berkebun itu sendiri. Haha… 😀

Tips #16 – Carilah Mentor Pribadi

Ini juga tidak harus, sangat optional.

Namun, memiliki mentor pribadi merupakan jalan tol yang bisa mempercepat keberhasilan anda dalam budidaya tabulampot.

Berkebun adalah ilmu terapan, bukan teori.

Anda akan menemukan banyak masalah setelah terjun langsung di lapangan. Apa yang anda pelajari secara teoritis seringkali tidak sama dengan prakteknya.

Sekalipun anda telah menguasai teori berkebun hingga di luar kepala, pada akhirnya anda akan tetap bereksperimen dan jatuh-bangun dalam mempraktekkannya.

Nah, fungsi mentor pribadi adalah meminimalisir proses eksperimen dan jatuh-bangun tersebut, sehingga anda tidak perlu bersusah payah dan sakit kepala dalam menghadapinya.

Tidak sedikit penghobi yang mundur sekalangkah demi selangkah dari dunia berkebun gara-gara tidak mampu bertahan dalam menghadapi jatuh-bangun merawat tabulampot mereka.

Kata-kata Terakhir

Tidak sedikit orang yang tertarik menanam beragam pohon buah di dalam pot untuk menghijaukan pekarangan rumah mereka.

Sayangnya, niat tersebut hanya tersimpan di dalam kepala.

Bertahun-tahun telah berlalu dan itu tetap saja hanya di kepala, tidak pernah terealisasikan.

Penyebabnya karena, “Terlalu sibuk bekerja”, begitu kata mereka.

Faktanya, kesibukan bukanlah alasan.

Tidak tahu bagaimana cara berkebun yang menghabiskan sedikit waktu adalah akar masalah sebenarnya.

Namun setelah anda membaca 16 tips berkebun tabulampot untuk orang sibuk di atas, mestinya, alasan terlalu sibuk bekerja sudah hilang dari benak pikiran anda.

Solusi demi solusi telah siap untuk anda terapkan.

Sekarang terserah anda, apakah tetap kekeuh (ngotot) dengan persepsi selama ini yang mengatakan diri anda terlalu sibuk. Atau anda bergegas keluar rumah menuju pekarangan dan siap menggarap tabulampot pertama anda.

Mungkin itu saja yang bisa saya share.

Jangan lupa berlangganan artikel Daunku.com dengan mendaftarkan alamat email anda di kolom Gratis Berlangganan Artikel.

Saya akan mengabari anda via email setiap kali ada artikel baru yang dirilis. Selain itu, saya juga sering mengirim tips dan saran seputar berkebun buah di pekarangan rumah yang tidak saya share di sini dan di situs manapun.

Oke, saya akhiri.

Terimakasih dan salam berkebun… 😀

Pedoman Teknis Mengolah Lubang Tanam ‘Standar Pakar’

Telah diperbarui Desember 2020.

Pengolahan lubang tanam adalah titik awal penentu masa depan pohon buah anda.

Sebagus apapun kualitas bibit yang anda tanam…

Semahal apapun pupuk yang anda gunakan…

Dan sebaik apapun perawatan yang anda lakukan…

Semua itu akan percuma apabila pengolahan lubang tanam di awal tidak dilakukan dengan cara yang benar.

Kecuali, jika anda berkebun di lahan yang sangat subur.

Sayangnya, lahan seperti itu sudah langka sekarang.

Mau tidak mau, suka atau tidak, pengolahan lubang tanam harus dilakukan setiap kali akan menanam pohon buah. Baik tanam di lahan kebun maupun di pekarangan rumah.

Jadi, bagaimana cara mengolah lubang tanam yang benar?

Artikel ini akan menjawabnya secara tuntas, seakar-akarnya.

Anda siap?

Mari kita mulai.

Saya telah mengumpulkan dan meneliti banyak referensi ilmiah, mulai dari literatur lokal hingga internasional. Kabar baiknya, anda tidak perlu bersusah-payah melakukan itu, karena saya telah merangkumnya untuk anda.

Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan.

Langkah 1: Menggali Lubang

Buatlah lubang dengan kedalaman 50cm dan lebar minimal 50x50cm untuk tipe tanah gembur, atau minimal 75x75cm untuk tipe tanah keras dan padat.

Prinsipnya:

Makin besar ukuran lubang, semakin cepat bagi tanaman untuk membangun perakaran yang rimbun dan kokoh.

Makin rimbun dan kokoh perakaran, semakin cepat pertumbuhan tanaman menjadi pohon dewasa.

Akhirnya, pohon akan lebih cepat berbuah.

Jika anda mampu membuat lubang dengan ukuran yang lebih besar, maka lakukanlah! Lagi pula, capeknya cuma sekali. Setelah itu anda tinggal menikmati hasilnya. 🙂

Membuat Lubang Tanam

Apa sih tujuan lubang tanam harus begitu besar? Mengapa tidak seukuran polybag bawaan bibit saja.

Mungkin timbul pertanyaan tersebut di benak anda.

Oke, saya bantu jawab.

Selama ini kita tahu bahwa sebelum menanam sayuran seperti sawi, timun, cabe dan seterusnya, para petani pasti akan melakukan pembajakan lahan terlebih dahulu dengan tujuan agar tanah lahan menjadi lebih gembur.

Untuk tanaman sayuran, biasanya kedalaman tanah yang dibajak tidak lebih dari 30cm. Itu wajar, karena perakaran tanaman sayuran sangatlah pendek, hanya sekian inci dari permukaan tanah.

Proses penggemburan tersebut berlaku juga pada tanaman buah.

Bedanya, jarak tanam antar pohon buah tidak sedekat jarak tanam pada tanaman sayur. Sehingga, lahan tidak perlu dibajak seluruhnya, cukup sebatas area tumbuh pohon yang akan kita tanam atau yang biasa kita sebut “Lubang Tanam”.

Perbedaan berikutnya, tidak seperti perakarakan tanaman sayur yang pendek, perakaran pohon buah bisa menghujam jauh ke dalam tanah.

Apalagi jika yang ditanam adalah pohon buah seperti mangga, alpukat, durian, dkk, akar mereka mampu menembus puluhan meter ke dalam bumi.

Oleh karena itu, kedalaman tanah yang perlu digemburkan pun harus lebih dalam, minimal 50cm. Jika anda sanggup menggali sedalam 1 meter, itu lebih bagus lagi. 😀

Mengapa tanah harus digemburkan?

Tujuannya supaya pertumbuhan akar di fase awal atau 1-2 tahun pertama pasca-tanam, perakaran bisa lebih mudah menembus lapisan tanah inci demi inci.

Seperti kita tahu, tanaman usia muda belum memiliki perakaran yang kuat. 90% akarnya masih sangat kecil, lunak dan lemah (mudah putus).

Jangankan menembus lapisan tanah yang keras dan padat, untuk tumbuh pada tanah yang gembur saja akar masih perlu bersusah payah.

Jadi, bayangkan jika ukuran lubang tanam hanya sebesar polybag bawaan bibit. Betapa sulitnya bagi akar untuk menembus tanah di sekelilingnya yang keras dan padat.

Apalagi jika tanah di lahan anda teksturnya sangat keras (dicangkul aja susahnya bukan main), bukannya menembus tanah, yang ada, akar hanya tumbuh mengitari lubang layaknya pohon yang ditanam dalam pot.

Itulah mengapa sering kita temui pohon yang pertumbuhannya lambat, bahkan sudah umur tahunan tapi ukurannya masih segitu-gitu aja. Bisa jadi, dulunya si pemilik pohon hanya membuat lubang seukuran polybag saat penanaman ke lahan.

Sampai di sini sudah clear ya.

Duh, baru langkah pertama aja pembahasannya sudah panjang banget. Tapi nggak apa-apa deh, biar pada pinter. Haha 😀

Oke, sekarang kita lanjut ke langkah berikutnya.

Langkah 2: Sterilisasi Tanah

Tanah yang sehat adalah tanah yang didominasi oleh organisme bermanfaat dan minim organisme merugikan (patogen).

Segala macam organisme merugikan, baik itu berupa bakteri, cendawan, maupun serangga, mereka semua adalah sumber hama & penyakit bagi tanaman.

Sayangnya, kita tidak pernah tahu organisme mana yang mendominasi di dalam tanah kita. Kecuali anda mengeceknya di laboratorium.

Di tambah lagi, dalam setiap 1 sendok teh tanah mengandung jutaan mikroorganisme. Maka semakin sulit bagi kita untuk mengukur apakah tanah kita sehat atau justru mengandung banyak sumber penyakit.

Organisme Tanah
(Ilustrasi: Ada jutaan mikroorganisme dalam 1 sendok teh tanah)

Nah, jalan keluar paling mudah dalam masalah ini adalah melakukan sterilisasi tanah untuk memusnahkan organisme apapun di dalam tanah tersebut.

Tidak peduli apakah organisme baik ataupun buruk.

Setelah disterilkan, kita akan memasukkan kembali mikroorganisme bermanfaat ke dalam tanah menggunakan kompos atau pupuk kandang.

Dengan begitu, tanah kita akan didominasi oleh organisme bermanfaat dan minim organisme patogen.

Hukum alam berlaku di sana.

Siapa yang dominan, mereka yang menang.

Ketika organisme bermanfaat telah mendominasi di area perakaran tanaman, maka organisme patogen apapun yang mendekati akar akan mati dibunuh/dimakan oleh organisme bermanfaat tadi.

Lalu, bagaimana cara sterilisasi tanah?

Ada berbagai metode yang tersedia, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks.

Namun karena ruang lingkup artikel ini terbatas untuk berkebun skala pekarangan rumah, yakni hanya membuat 1-3 lubang tanam pada waktu yang sama, maka saya akan share satu metode yang paling ideal saja.

Sedangkan untuk skala kebun yang memerlukan puluhan hingga ratusan lubang tanam, maka harus menggunakan metode sterilisasi lain yang lebih efisien. Insyaallah metodenya akan saya bahas pada kesempatan lain.

Jadi, metode sterilisasi yang kita gunakan di sini adalah “Solarisasi Tanah (Soil Solarization)”.

Solarisasi Tanah
(Gambar: Publikasi tahun 2008 dari Universitas of California tentang solarisasi tanah)

Prinsip di balik metode ini adalah meningkatkan suhu tanah hingga melebihi 60°C dengan memanfaatkan panas cahaya matahari.

Pada suhu tersebut, hampir semua jenis organisme tanah akan mati, mulai dari bakteri, jamur, protozoa, cacing, semut, tungau, uret dan organisme tanah lainnya.

Soil Temperature Sterilization Table
(Gambar: Soil Temperature Sterilization Table)

Metode ini adalah favorit saya, karena biayanya murah, prosesnya mudah, cepat, dan hasilnya sangat efektif.

Bahan yang perlu disiapkan untuk solarisasi tanah adalah plastik transparan jenis PE (Polietilena / Polyethylene).

Anda bisa mendapatkannya di toko bangunan. Bilang aja “plastik cor transparan”, mereka pasti paham. Di daerah saya harganya kisaran Rp7.500 per meter.

Untuk 1 lubang tanam, dibutuhkan sekitar 3-5 meter. Kemudian, plastik harus dibelah dua menggunakan gunting/pisau supaya lebarnya menjadi 2 meter.

Petunjuk teknis solarisasi tanah:

Langkah pertama, sebarkan tanah hasil galian merata di atas permukaan tanah dengan ketebalan tanah tidak lebih dari 5 cm.

Jika memungkinkan, bagian dasar tanah dialasi plastik, karung bekas, lembaran atap seng, atau semisalnya. Namun jika tidak ada, maka tidak mengapa.

Saya tegaskan kembali, ketebalan tanah tidak boleh lebih dari 5 cm karena poin ini sangat mempengaruhi keberhasilan solarisasi tanah.

Jika lapisan tanah terlalu tebal, maka suhu panas akan sulit mencapai lapisan tanah yang lebih dalam. Alhasil, hanya sebagian lapisan tanah saja yang mencapai suhu tinggi.

Langkah kedua, siramlah seluruh tanah hingga sebasah-basahnya. Tujuannya agar panas matahari bisa merambat merata ke seluruh bagian tanah. Sebab, partikel air memiliki sifat konduksi (menghantar panas).

Alasan lainnya adalah karena ada sebagian spesies cendawan/jamur tanah yang tahan suhu tinggi ketika tanah dalam kondisi kering.

Sedangkan dalam kondisi basah, cendawan tersebut menjadi lemah dan mudah mati. Makanya, tanah perlu dibasahi supaya cendawan yang karakternya seperti itu bisa ikut mati.

Langkah ketiga, tutupi tanah dengan plastik transparan. Kemudian letakkan benda berat seperti batu, bata, kayu atau semisalnya pada pinggiran plastik sebagai penahan supaya plastik tidak bergeser dan tidak diterbangkan angin.

Cara Solarisasi Tanah
(Gambar: Proses solarisasi tanah)

Langkah keempat, biarkan selama 1-2 hari agar seluruh organisme dalam tanah mati terpanggang panas matahari.

Selama 1-2 hari tersebut, cuacanya harus panas. Apabila mendung atau hujan, maka durasinya harus diperpanjang hingga bertemu cuaca cerah dan panas.

Oya, jika anda penasaran suhu tanahnya bisa sepanas apa, pada pertengahan siang saat matahari sedang terik-teriknya, silahkan masukkan telapak tangan anda ke dalam plastik dan setuhlah permukaan tanahnya. 😀

Langkah kelima, setelah proses solarisasi selesai, buka kembali plastik dan tanah sudah siap digunakan.

Mungkin anda bertanya:

Mengapa harus menggunakan plastik? Mengapa tanah tidak dijemur hingga sekering-keringnya saja tanpa ditutupi plastik.

Tujuan tanah ditutupi plastik adalah supaya panas matahari menembus plastik dan merambat ke tanah, kemudian udara panas di area tanah terperangkap atau tidak menguap lagi ke udara karena tertahan plastik.

Silahkan anda coba sendiri menjemur tanah tanpa ditutupi plastik. Bisa dipastikan suhu tanah tidak akan pernah melebihi 60°C, hanya berada di kisaran 30°C bahkan kurang.

Lalu, mengapa harus menggunakan plastik jenis PE atau Polietilena?

Alasannya karena plastik jenis ini tergolong awet dan tahan panas. Sehingga, anda bisa menggunakannya berulang kali, sangat hemat biaya.

Langkah 3: Menambahkan Kompos Atau Pupuk Kandang

Campurkan tanah hasil galian yang telah disterilisasi tadi dengan 1 karung pupuk kompos/kandang.

Ukuran karung kompos yang saya maksud adalah karung beras antara 25-50 kg. Semampunya anda aja, yang penting jangan kurang dari 25 kg.

Prinsipnya, makin banyak kompos yang dimasukkan, semakin bagus pertumbuhan pohon di kemudian hari.

Terakhir, masukkan kembali tanah hasil galian yang telah dicampur kompos tersebut ke dalam lubang tanam hingga penuh.

Catatan:

Jika anda menggunakan pupuk kandang, maka pupuk kandang tersebut harus difermentasi terlebih dahulu sampai menjadi kompos 100%.

Ciri-cirinya adalah warna, tekstur dan aroma pupuk kandang sudah berubah mirip seperti tanah.

Cara fermentasi pupuk kandang silahkan anda cari di google.

Pupuk kandang yang sudah difermentasi
(Gambar: Contoh pupuk kandang yang telah difermentasi sempurna)

Jika belum difermentasi sempurna, pupuk kandang akan menjadi masalah panjang di kemudian hari.

Sebab, bahan ini mengandung banyak bibit hama & penyakit serta gas beracun yang berbahaya bagi tanaman.

Sedangkan tujuan fermentasi adalah mematikan semua bibit hama & penyakit serta menghilangkan seluruh gas beracun yang terkandung dalam pupuk kandang.

Mengapa harus menambahkan pupuk kompos/kandang?

Alasannya, karena bahan ini memiliki banyak manfaat di antaranya:

  • memperbaiki tekstur tanah menjadi lebih gembur dan remah
  • meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah tidak mudah kering
  • memperkaya keanekaragaman mikroorganisme tanah bermanfaat
  • menyediakan unsur hara dan berbagai jenis hormon pertumbuhan bagi tanaman
  • dan masih banyak lagi…

Langkah 4: Menambahkan Kapur Dolomit (Bila Perlu)

Selain kompos, anda juga perlu menambahkan kapur dolomit sebanyak 0,5 – 1 kg ke dalam tanah.

Cara aplikasinya bisa dicampur dan diaduk bersamaan saat menambahkan pupuk kompos tadi atau bisa juga ditabur merata di atas tanah setelah tanah galian dimasukkan kembali ke dalam lubang.

Kapur dolomit sangat berguna untuk menaikkan pH tanah supaya mendekati netral. Hal itu mengingat sebagian besar tanah di Indonesia memiliki pH yang rendah atau asam.

Kapur Dolomit
(Gambar: Kapur dolomit)

Namun tidak berlaku apabila pH tanah di lahan anda sudah dalam kondisi netral.

Pemberian kapur dolomit pada tanah ber-pH netral beresiko menaikkan level pH menjadi keluar dari batas netral, yang justru akan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Untuk itu, sangat disarankan anda memiliki alat pH Meter untuk mengukur level pH tanah di kebun anda secara akurat.

Mengapa pH tanah harus cenderung netral?

Jawaban singkatnya, ketika pH tanah jauh dari level netral, baik asam maupun basa/alkali, maka mayoritas unsur hara di dalam tanah yang dibutuhkan tanaman akan terikat oleh unsur kimiawi dalam tanah, sehingga tanaman tidak bisa menyerap unsur hara tersebut.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Kandungan Unsur Hara Dalam Tanah
(Tabel: Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan unsur hara dalam tanah. Sumber: University of California)

Dengan kata lain, tanaman tidak bisa makan dan akhirnya kelaparan.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, maka tanaman bisa mati kelaparan.

Di samping itu, pH tanah yang tidak netral juga akan membunuh sebagian besar organisme tanah bermanfaat, baik dari golongan bakteri, cendawan, hingga cacing.

Level pH tanah terbaik adalah kisaran 6-7.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Tanah
(Gambar: Pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan mikroorganisme tanah. Sumber: Washington State University)

Saya rasa itu penjelasan yang paling ringkas dan sederhana.

Baik, sekarang kita lanjut ke langkah terakhir yaitu melindungi tanaman dari serangan hama & penyakit akar.

Langkah 5: Menambahkan Mikroorganisme Penangkal Hama & Penyakit

Seiring berjalannya waktu, area lubang tanam suatu saat akan didatangi berbagai macam hama & jamur penyebab penyakit yang ingin bersarang dan berkembang-biak di sana.

Kita tidak pernah tahu hama & jamur apa yang akan datang dan kapan mereka datang. Semua itu berada di luar kendali kita.

Biasanya, kita baru menyadari kehadiran mereka setelah mereka bersarang dan memiliki populasi besar di dalam lubang tanam, sehingga dampaknya terlihat ketika hama & jamur tersebut merusak perakaran tanaman dengan ditandai munculnya gejala seperti:

  • daun dan pucuk muda mendadak menguning, layu, bahkan mengering
  • pangkal batang tiba-tiba membusuk
  • pohon mendadak mati
  • dan gejala lainnya…

Sayangnya, ketika gejala-gejala tersebut muncul, semua telah terlambat.

Dalam artian, perakaran pohon sudah dirusak oleh mereka, sehingga sulit untuk menyembuhkannya.

Jangan khawatir!

Anda bisa menghindarinya dengan mudah dan cepat.

Caranya adalah dengan menambahkan beberapa mikroorganisme penangkal hama & penyakit ke dalam lubang tanam.

Produk yang perlu anda siapkan adalah:

  1. Anfush
  2. Metarizep

Anfush adalah produk biofungisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis yaitu Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yang berguna untuk membunuh berbagai jenis cendawan atau jamur patogen penyebab penyakit pada tanaman.

Metarizep adalah produk bioinsektisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis bernama Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana yang berperan membunuh puluhan bahkan ratusan jenis hama pengganggu tanaman seperti semut, rayap, uret, ulat, belalang, kumbang dan seterusnya.

Metarizep
(Gambar: Bioinsektisida Metarizep)
Anfush
(Gambar: Biofungisida Anfush)

Dengan menambahkan kedua produk di atas, InsyaAllah tanaman anda akan terlindung 24 jam sepanjang hari dari serangan serangga dan jamur perusak akar tanaman.

Dosis dan cara aplikasi:

  • Benamkan 10 gram Anfush ke dalam area perakaran tanaman.
  • 1 gram Metarizep dilarutkan ke dalam 1 liter air, lalu diamkan dulu selama 6-12 jam untuk mengaktifkan cendawan di dalamnya. Setelah itu siramkan ke lubang tanam.

Waktu aplikasi:

  • Anfush dan Metarizep bisa diaplikasikan sebelum atau sesudah penanaman pohon ke lubang tanam. Namun keduanya tidak boleh diberikan bersamaan, harus ada jeda minimal 3 hari supaya cendawan dari masing-masing produk tidak saling berbenturan.
  • Aplikasi Anfush perlu diulang sebanyak 2-3 kali setiap sebulan sekali sesuai petunjuk yang terlampir di kemasan produk. Kemudian diulang kembali pada tahun berikutnya dengan aturan yang sama.
  • Aplikasi Metarizep perlu diulang setiap 2 bulan sekali sesuai petunjuk di kemasan produk.

(!) Peringatan:

  • Dilarang keras memasukkan pestisida kimia apapun ke dalam lubang tanam, karena bisa membunuh cendawan dari Anfush dan Metarizep.

Apa selanjutnya?

Sekarang anda telah menguasai teknis membuat lubang tanam yang baik dan benar.

Sayangnya, tugas anda belum selesai.

Setelah ini anda harus mempelajari teknis budidaya pohon buah yang ingin anda tanam. Karena setiap jenis pohon, memiliki cara pemeliharaannya sendiri.

Akan sangat berbeda cara merawat pohon anggur dengan pohon alpukat, pohon durian dengan pohon mangga, dan seterusnya.

Namun, jika anda mengikuti langkah-langkah pengolahan lubang tanam di atas, InsyaAllah pohon buah apapun yang anda tanam ke lubang tanam tersebut, perawatannya kedepan akan jauh lebih mudah.

Karena anda telah membangun media tumbuh yang sehat, subur dan kaya organisme bermanfaat.

Ketiga hal tersebut sangat penting.

Sebab, inti dari perawatan lanjutan pasca tanam adalah pengendalian hama-penyakit dan penyediaan unsur hara tanaman.

Ketika tanah sudah sehat, maka 90% masalah calon hama-penyakit bisa teratasi. Sedangkan 10% sisanya tinggal dibasmi dengan pestisida organik ketika serangan terjadi.

Begitu juga ketika tanah dalam kondisi subur dan kaya organisme bermanfaat, maka 50% unsur hara akan disediakan gratis dan berkesinambungan oleh makhluk-makhluk kecil tersebut.

Kedepannya, kita hanya perlu menambahkan pupuk organik (untuk sumber makanan organisme tanah) dan sedikit pupuk kimia (sebagai nutrisi tambahan tanaman).

Berbeda sekali dengan cara budidaya pohon buah pada umumnya yang mengharuskan kita untuk menggunakan pestisida dan pupuk kimia dalam jumlah besar.

Oke, itu saja yang bisa saya share dalam kesempatan ini. Semoga bermanfaat.

Terimakasih dan salam berkebun… 😀

Pedoman Teknis Membuat Media Tanam Pot ‘Bermutu Tinggi’

Telah diperbarui Desember 2020.

Anda suka menanam buah dalam pot?

Tahukah anda, masa depan mereka sangat ditentukan oleh media tanam yang anda pakai.

Kesalahan membuat media tanam pot, akan berdampak buruk pada pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang.

Bahkan tidak jarang, efeknya langsung terlihat hanya hitungan hari atau minggu pasca tanam, seperti daun mendadak layu, kering, rontok, hingga berujung kematian.

Saya yakin anda tidak ingin mengalaminya.

Artikel ini akan membimbing anda cara membuat media tanam pot bermutu tinggi yang belum banyak diketahui penghobi manapun.

Sebab, di sini saya menerapkan kaedah-kaedah penting yang diadopsi dari teknologi pertanian modern yang saya kumpulkan dari banyak referensi ilmiah lokal hingga internasional, kemudian saya adaptasikan agar bisa diterapkan untuk tabulampot (tanaman buah dalam pot).

Anda tidak perlu bersusah payah melakukan itu, karena saya telah merangkum semuanya untuk anda, GRATIS. 😀

Sudah siap untuk belajar ilmu baru?

Mari kita mulai!

1. Kriteria Media Tanam Pot Bermutu Tinggi

Ada banyak sekali versi media tanam yang dibagikan oleh kawan-kawan penghobi di luar sana.

Saking banyaknya, mungkin membuat anda bingung versi mana yang benar dan cocok untuk anda.

Sekarang, hilangkan kebingungan anda!

Karena ada parameter yang bisa anda gunakan untuk mengukur apakah suatu media tanam memiliki mutu yang baik atau buruk.

Media tanam yang BERKUALITAS SUPER harus memenuhi 6 kriteria berikut:

  1. Bertesktur gembur, remah dan porous
  2. Kaya kandungan bahan organik dan unsur hara
  3. pH tanah cenderung netral atau kisaran level 6-7
  4. Didominasi organisme tanah bermanfaat dan minim organisme merugikan (patogen)
  5. Mampu menyimpan air dalam jumlah sedang, tidak kurang atau berlebihan
  6. Dalam jangka panjang, tekstur tanah tidak mudah memadat dan mengeras

Apapun alasannya, hindari menggunakan media tanam yang tidak memenuhi salah satu dari enam kriteria di atas. Karena mereka semua saling mendukung dan mempengaruhi.

Jika salah satu kriteria tidak terpenuhi, maka akan ada kriteria lain yang terpengaruh dan ikut hilang.

Contohnya begini:

Apabila media tanam anda didominasi oleh organisme patogen dan minim organisme bermafaat, maka bahan organik yang terkandung di dalam media tanam tersebut bukannya menguntungkan dan menyuburkan tanaman, justru akan menjadi sumber tumbuh-kembangnya hama & penyakit tanaman.

Itulah mengapa banyak penghobi yang mengeluhkan media tanam mereka menjadi sarang semut, rayap, uret/embug, nematoda, tungau/kutu akar, siput, jamur dan seterusnya.

Contoh berikutnya:

Apabila pH media tanam tidak netral, maka kandungan nutrisi atau unsur hara dalam tanah akan diikat oleh unsur kimiawi tanah tertentu.

Sehingga, unsur hara di dalam media tanam akan sulit diserap oleh tanaman, sekalipun jumlah unsur hara di sana sangat berlimpah.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Kandungan Unsur Hara Dalam Tanah
(Tabel: Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan unsur hara dalam tanah. Sumber: University of California)

Dengan kata lain, tanaman tidak bisa makan.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, pohon bisa mati kelaparan.

Di samping itu, pH tanah yang tidak netral juga akan membunuh sebagian besar organisme tanah bermanfaat, baik dari golongan bakteri, cendawan, hingga cacing.

Pengaruh pH Tanah Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Tanah
(Gambar: Pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan mikroorganisme tanah. Sumber: Washington State University)

Mudah-mudahan, dua contoh di atas sudah cukup untuk membuat anda semakin paham.

Nah, di Google, Facebook hingga Youtube, banyak referensi cara membuat media tanam pot dengan beragam versi. Sayangnya, sebagian besar mereka tidak didasarkan pada kaedah-kaedah yang tepat.

Alhasil, akan timbul banyak masalah yang tidak diharapkan di kemudian hari seperti:

  • Pohon mudah diserang hama & penyakit
  • Pertumbuhan pohon lambat bahkan kerdil
  • Sulit berbuah, atau meskipun bisa berbuah tetapi buah mudah rontok dan kualitasnya pun rendah
  • Pada kasus yang parah, pohon mengalami kematian

Baik, setelah memahami apa saja kriteria media tanam pot berkualitas, sekarang kita masuk ke bagian teknis pembuatannya.

2. Empat Langkah Mudah Membuat Media Tanam Pot Berkualitas Super

Media Tumbuh Tabulampot

Langkah 1: Menentukan Komposisi Media Tanam

Langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mempertimbangkan komposisi bahan baku media tanam yang ingin anda gunakan.

Bahan baku yang umum dipakai untuk campuran media tanam pot adalah tanah, pasir, sekam padi, arang sekam/sekam bakar, cocopeat, kompos, pupuk kandang, hingga media tanam kemasan siap pakai yang banyak dijual di lapak-lapak bibit tanaman.

Manakah yang terbaik?

Yang terbaik adalah yang paling mudah anda dapatkan.

Tidak ada yang sempurna, masing-masing bahan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Selama bahan-bahan tersebut bisa mendukung tercapainya kriteria atau kaedah dasar yang kita bahas di awal, maka tidak ada alasan untuk tidak menggunakannya.

Jadi, jangan terlalu kaku dalam masalah ini.

Pilihlah bahan yang paling mudah anda dapatkan! Itu saja poinnya.

Supaya mudah dipahami, saya membagi komposisi media tanam pot menjadi 3 kelompok:

  1. Menggunakan tanah berat
  2. Menggunakan tanah ringan
  3. Menggunakan media tanam kemasan siap pakai

Alasan saya membuat pembagian di atas karena masing-masing kelompok memerlukan komposisi bahan baku yang berbeda.

Mari kita bahas satu per satu.

a. Menggunakan tanah berat

Tanah berat adalah tipe tanah yang strukturnya didominasi kandungan liat dan sangat sedikit pasir maupun debu.

Contohnya: tanah merah, tanah lempung, tanah liat, dst.

Ciri-ciri tanah berat yaitu jika kondisi kering teksturnya menjadi padat dan keras, serta tidak menghasilkan banyak debu saat tertiup angin. Sedangkan dalam kondisi basah, tanah sangat lengket ketika diinjak.

Ciri lainnya adalah tanah berat biasanya memiliki warna yang lebih terang, akibat minimnya bahan organik yang dikandungnya.

Nah, jika anda menggunakan tanah jenis ini, maka diperlukan penambahan bahan lain untuk memperbaiki teksturnya yang padat dan keras menjadi lebih gembur, remah dan porous.

Pilihan komposisi yang bisa anda gunakan:

  1. Tanah berat + pasir + kompos/pupuk kandang + arang sekam (1:1:1:1)
  2. Tanah berat + pasir + kompos/pupuk kandang + sekam padi (1:1:1:1)
  3. Tanah berat + pasir + kompos/pupuk kandang (1:1:1)

Dari ketiga pilihan di atas, komposisi No.1 adalah yang terbaik.

Keterangan (1:1:1:1) dan (1:1:1) di atas maksudnya adalah jumlah perbandingan antar bahan.

Misalnya anda menggunakan komposisi No.3, maka perbandingannya adalah 1 ember tanah berat, 1 ember pasir, 1 ember kompos. Penggunaan ember sebagai alat takar juga hanyalah contoh saja. Anda bisa gunakan alat takar lain seperti karung, sekop, kaleng atau lainnya.

Arang sekam / sekam bakar
(Gambar: Arang sekam / sekam bakar)

Catatan PENTING:

Pasir yang saya maksud adalah pasir yang masih kasar, bukan yang sudah diayak. Anda bisa gunakan pasir bangunan, pasir sungai, atau bisa juga mengeruk lapisan pasir yang biasanya tersebar di pinggiran jalan, parit, pekarangan rumah dan semisalnya.

Pupuk kompos bisa anda beli di toko tanaman hias terdekat. Pilihlah kompos yang menggunakan kemasan pabrik/profesional.

Contohnya seperti ini:

Pupuk Kompos
(Gambar: Contoh pupuk kompos berkualitas)

Setidaknya, hal tersebut bisa dijadikan parameter apakah suatu produk kompos memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Namun jika anda menggunakan pupuk kandang, maka pupuk kandang harus difermentasi sempurna terlebih dahulu hingga tekstur, warna dan aroma pupuk telah berubah mirip seperti tanah.

Cara fermentasinya bisa anda cari di Google atau Youtube.

Pupuk kandang yang sudah difermentasi
(Gambar: Contoh pupuk kandang yang telah difermentasi sempurna)

Penggunaan pupuk kandang yang belum difermentasi sempurna akan menimbulkan masalah panjang di kemudian hari.

Sebab, pupuk kandang segar umumnya mengandung banyak bibit hama & penyakit, serta masih mengeluarkan gas metana atau unsur-unsur lainnya yang berbahaya bagi tanaman.

Apabila menggunakan sekam padi, pilihlah sekam yang sudah berwarna gelap dan lapuk/mudah hancur.

b. Menggunakan tanah ringan

Tanah ringan adalah tipe tanah yang strukturnya didominasi kandungan pasir dan debu dengan sedikit liat.

Contohnya: tanah hitam, tanah lempung berpasir, tanah lembang, dst.

Ciri-cirinya yaitu dalam kondisi kering maupun basah, tekstur tanah tetap remah, gembur dan porous, serta tidak lengket ketika diinjak. Pada kondisi kering, tanah mudah mengeluarkan banyak debu saat tertiup angin.

Ciri lainnya, tanah ringan memiliki warna yang cenderung gelap, mulai dari coklat gelap hingga hitam, akibat tingginya bahan organik yang dikandungnya.

Pilihan komposisi yang bisa anda gunakan:

  1. Tanah ringan + kompos/pupuk kandang + arang sekam (1:1:1)
  2. Tanah ringan + kompos/pupuk kandang + sekam padi (1:1:1)
  3. Tanah ringan + kompos/pupuk kandang (1:1)

Sama seperti sebelumnya, komposisi No.1 adalah yang terbaik.

c. Menggunakan media tanam kemasan siap pakai

Media tanam siap pakai adalah produk media tanam kemasan yang banyak dijual di toko bibit tanaman.

Dikatakan siap pakai karena media tanam ini telah memiliki campuran aneka jenis bahan (kompos, pupuk kandang, tanah merah, cocopeat, sekam bakar, dsb) dan dikemas dalam karung atau kemasan plastik.

Sama halnya produk kompos, belilah media tanam siap pakai yang dikemas secara profesional seperti contoh berikut:

Media tanam kemasan siap pakai
(Gambar: Contoh media tanam siap pakai berkualitas)

Namun perlu anda ketahui, bahwa media tanam kemasan sejatinya BELUM SIAP PAKAI.

Sebab, di dalamnya belum mengandung pasir atau arang sekam dalam jumlah yang cukup, sehingga porousitasnya masih sangat buruk.

Oleh karena itu, anda perlu menambahkan campuran berikut:

  1. Media tanam kemasan + pasir + arang sekam (3:1:1)
  2. Media tanam kemasan + arang sekam (1:1)
  3. Media tanam kemasan + pasir (2:1)

Komposisi No.1 yang terbaik.

Setelah anda menentukan dan menyiapkan komposisi utama media tanam, selanjutnya adalah melakukan sterilisasi bahan supaya bebas dari bibit hama & penyakit tanaman.

Langkah 2: Sterilisasi Tanah

Bagi anda yang ingin membuat media tanam dengan komposisi tanah (baik tanah berat maupun ringan), maka tanah yang anda gunakan tersebut harus disterilkan.

Mengapa?

Karena dalam setiap 1 sendok teh tanah mengandung jutaan mikroorganisme (bakteri, cendawan, protozoa, dst) yang kita tidak pernah tahu apakah didominasi oleh mikroorganisme bermanfaat atau merugikan/patogen…

…kecuali anda mengeceknya ke laboratorium.

Organisme Tanah
(Ilustrasi: Ada jutaan mikroorganisme dalam 1 sendok teh tanah)

Oleh sebab itu, sterilisasi adalah solusi yang paling efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Proses sterilisasi akan membunuh seluruh mikroorganisme apapun, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan di dalam tanah.

Semua dimusnahkan tak tersisa.

Setelah tanah disterilkan, kita perlu memasukkan kembali mikroorganisme bermanfaat ke dalamnya menggunakan kompos atau pupuk kandang.

Karena kompos dan pupuk kandang adalah bahan organik yang sangat kaya akan kandungan mikoorganisme bermanfaat.

Namun untuk pupuk kandang, hal tersebut akan tercapai apabila telah dilakukan fermentasi sempurna seperti yang sudah saya bahas sebelumnya.

Jadi, bagaimana cara sterilisasi tanah?

Ada berbagai metode sterilisasi tanah yang diterapkan di seluruh dunia. Namun di sini, saya hanya share 2 metode yang menurut saya paling murah dan mudah untuk berkebun skala hobi atau pekarangan rumah.

Kedua metode tersebut adalah:

  1. Solarisasi tanah (Soil Solarization)
  2. Penyiraman dengan air panas (Hot Water Soil Sterilization)

Meskipun teknisnya berbeda, namun kedua metode ini memiliki prinsip kerja yang sama, yaitu meningkatkan suhu tanah di atas 60°C.

Pada suhu tersebut, hampir semua organisme tanah jenis apapun akan mati.

Soil Temperature Sterilization Table
(Tabel: Soil Temperature Sterilization Table)

Berikut adalah petunjuk teknis cara menerapkan kedua metode sterilisasi tanah di atas.

a. Metode Solarisasi Tanah

Seperti namanya, Solarisasi Tanah atau Soil Solarization adalah metode sterilisasi tanah yang memanfaatkan panas matahari untuk menaikkan suhu tanah mencapai temperatur yang diinginkan.

Solarisasi Tanah
(Gambar: Publikasi tahun 2008 tentang solarisasi tanah)

Metode ini sangat ideal untuk anda yang ingin membuat media tanam dalam jumlah banyak.

Alat yang perlu anda siapkan hanyalah plastik transparan jenis PE (Polietilena/Polyethylene). Anda bisa membelinya di toko bangunan. Bilang saja ke penjualnya; “Beli plastik cor transparan”, mereka pasti paham.

Di daerah saya harganya kisaran Rp7.500/meter. Belilah sepanjang 3-5 meter. Nantinya, plastik harus dibelah supaya lebarnya menjadi 2 meter.

Petunjuk teknis solarisasi tanah:

#1 – Sebarkan tanah dengan ketebalan maksimal 5 cm, tidak boleh lebih, karena semakin tebal lapisan, maka semakin sulit mencapai suhu di atas 60°C.

#2 – Siram seluruh tanah dengan air sebasah-basahnya. Fungsi air di sini untuk memudahkan energi panas matahari merambat ke seluruh bagian tanah hingga lapisan terbawah. Sebab, air memiliki sifat konduksi (menghantar panas).

#3 – Tutupi tanah dengan plastik transparan dan letakkan batu, bata, kayu atau semisalnya di pinggiran plastik sebagai pemberat supaya posisi plastik tidak bergeser dan aman dari hempasan angin.

Cara Solarisasi Tanah
(Gambar: Contoh solarisasi tanah yang saya lakukan)

#4 – Biarkan selama 1-2 hari. Namun jika cuaca ternyata mendung atau hujan, maka durasinya harus diperpanjang sampai mendapatkan cuaca yang benar-benar panas.

#5 – Selesai! Tanah siap digunakan.

Jika anda penasaran seperti apa suhu tanah selama proses solarisasi berlangsung, silahkan pegang permukaan tanah di dalam plastik ketika matahari sedang sangat terik!

Mungkin anda bertanya; “Apa fungsi plastik transparan? Mengapa tanah tidak dijemur begitu saja tanpa penutup plastik?”

Plastik transparan harus digunakan karena berfungsi untuk menahan dan mengisolasi energi panas matahari yang masuk ke dalam plastik sehingga energi panas tersebut dapat merambat ke dalam tanah dalam waktu lama.

Sebaliknya, apabila tidak menggunakan plastik, maka energi panas matahari sangat mudah terlepas ke udara, lebih-lebih jika kecepatan angin di lokasi penjemuran cukup tinggi. Hal tersebut menyebabkan energi panas sulit merambat ke dalam tanah.

Silahkan anda coba!

Jemurlah tanah yang telah dibasahi air selama beberapa jam di siang hari seperti metode di atas namun tanpa menggunakan plastik.

Setelah itu genggamlah tanah hingga lapisan terbawah. Saya yakin anda akan dapati suhu tanah tersebut hanya kisaran 30°C bahkan kurang.

b. Metode Penyiraman Dengan Air Panas

Metode ini paling cepat dibandingkan metode pertama. Namun, hanya ideal untuk mensterilkan tanah atau media tanam dalam jumlah sedikit.

Kecuali jika anda siap merebus air sebanyak puluhan hingga ratusan liter, maka silahkan saja mensterilkan media tanam dalam jumlah banyak. 😀

Sterilisasi Tanah Menggunakan Air Panas
(Gambar: Publikasi tentang sterilisasi tanah menggunakan air panas)

Pada metode solarisasi, proses sterilisasi memakan waktu 1-2 hari. Sedangkan pada metode ini, hanya perlu waktu kurang dari 1 jam saja (tidak termasuk durasi waktu saat merebus air).

Yang perlu anda siapkan adalah air panas dengan suhu sekitar 90°C.

Caranya adalah dengan merebus air hingga mendidih, kemudian setelah mendidih, air didiamkan/diangin-anginkan selama beberapa menit untuk menurunkan suhu air dari 100°C menjadi 90°C.

Mengapa tidak boleh menggunakan air mendidih atau 100°C?

Alasan karena pada suhu tersebut air dapat merusak kandungan C-Organik atau bahan organik tanah. Padahal kita tahu, bahan tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang kesuburan tanah.

Petunjuk teknis sterilisasi tanah menggunakan air panas:

#1 – Sebarkan tanah hingga ketebalan maksimal 5 cm.

#2 – Siram tanah dengan air biasa sebasah-basahnya.

#3 – Angin-anginkan tanah selama beberapa waktu sampai air berlebih mengalir keluar dari tanah.

#4 – Terakhir, siram tanah dengan air panas hingga sebasah-basahnya.

#5 – Selesai! Tanah siap anda gunakan.

Saran saya, anda merebus airnya dilakukan bersamaan dengan langkah #3. Jadi, sambil menunggu media tanamnya diangin-anginkan, anda barengi dengan merebus air.

Sedangkan untuk mengetahui berapa banyak air panas yang diperlukan, anda bisa gunakan patokan jumlah air yang anda habiskan saat melaksanakan langkah #2.

Jadi, salah satu tujuan menyiram media tanam dengan air biasa terlebih dahulu seperti pada langkah #2 adalah untuk mengukur jumlah air panas yang diperlukan.

Di samping itu, tujuan lainnya adalah untuk melembabkan tanah supaya suhu panas bisa dengan mudah merambat ke seluruh bagian media tanam.

TAMBAHAN: Sterilisasi Sekam Padi

Jika anda ingin menggunakan sekam padi sebagai campuran media tanam, saya sarankan sekam padi juga ikut disterilkan bersamaan dengan sterilisasi tanah.

Caranya, tanah dan sekam padi dicampur dengan perbandingan 1:1, kemudian disterilkan.

Setelah disterilkan, selanjutnya anda tinggal menambahkan bahan lain dengan takaran yang sama.

Contohnya begini:

Misal anda menggunakan komposisi: tanah ringan + kompos + sekam padi (1:1:1).

Artinya, setiap 2 ember campuran tanah dan sekam padi yang telah disterilkan tadi perlu ditambah kompos sebanyak 1 ember. Dengan begitu, didapatlah campuran bahan tanah + sekam padi + kompos dengan perbandingan 1:1:1.

Mengapa sekam padi perlu disterilkan?

Pengalaman saya pribadi, sekam padi sering menjadi sarang tungau/kutu akar atau jenis kutu lainnya dan ditumbuhi berbagai macam jamur yang tidak jelas apakah aman bagi tanaman atau justru merugikan.

Maka, sterilisasi diperlukan untuk memusnahkan itu semua.

Langkah 3: Menambahkan Kapur Dolomit (Bila Perlu)

Di awal, saya telah menjelaskan betapa pentingnya pH tanah terhadap kualitas tanah. Sebagus apapun media tanam anda, akan sia-sia jika pH-nya tidak netral atau kisaran level 6-7.

Umumnya, tanah di Indonesia memiliki level pH yang asam atau kurang dari level 6.

Begitu juga dengan media tanam kemasan siap pakai dan pupuk kompos/kandang, terkadang masih memiliki pH yang asam.

Namun akan jauh lebih baik jika anda memiliki alat pH Meter. Dengan alat tersebut anda bisa memastikan lebih dulu apakah media tanam yang anda buat memiliki level asam, basa, atau sudah dalam kondisi netral.

Contoh alat pH Meter
(Gambar: Contoh alat pH Meter)

Di sini, saya berasumsi bahwa pH media tanam anda dalam kondisi asam atau kurang dari level 6, sehingga saya menyarankan anda untuk menambahkan kapur dolomit.

Kapur dolomit adalah bahan organik berupa kapur alam yang tinggi kandungan kalsium dan magnesium. Kedua mineral tersebut mampu menaikkan pH tanah ke level yang diinginkan.

Maka dari itu, jangan memberikan kapur dolomit ke tanah atau media tanam yang sudah dalam kondisi netral, karena akan menaikkan level pH melebihi batas netral yang justru dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Kapur Dolomit
(Gambar: Kapur dolomit)

Oya, bedakan antara kapur dolomit dan kapur pertanian!

Kedua produk tersebut memiliki kandungan berbeda, di mana kapur dolomit mengandung kalsium dan magnesium, sedangkan kapur pertanian hanya mengandung kalsium tanpa magnesium.

Pilihlah kapur dolomit saja, karena kapur pertanian hanya mampu mempertahankan pH tanah dalam waktu yang singkat akibat tidak adanya magnesium di dalamnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Basuki dan Vega Kartika Sari dari Universitas Jember (2019) mengungkapkan hal itu.

Kapur dolomit diberikan saat media tanam telah dimasukkan ke dalam pot, dan dosisnya akan menyesuaikan dengan ukuran pot yang anda gunakan.

Cara aplikasinya yaitu ditabur merata di atas media tanam, lalu disiram air hingga kapur dolomit larut ke dalam media tanam.

Rekomendasi dosis kapur dolomit berdasarkan diameter pot:

  • Diameter 30-40cm= 1-2 sendok teh
  • Diameter 40-50cm= 1-2 sendok makan
  • Diameter 50-60cm= 2-3 sendok makan
  • Diameter 60-70cm= 3-4 sendok makan

Catatan: takaran sendok yang saya maksud adalah penuh/menggunung sebagaimana ilustrasi di bawah ini:

Takaran dosis kapur dolomit
(Ilustrasi: Takaran dosis kapur dolomit)

Langkah 4: Menambahkan Mikroorganisme Penangkal Hama & Penyakit

Seiring berjalannya waktu, media tanam kita akan didatangi berbagai macam hama & penyakit yang ingin bersarang dan berkembang-biak di sana.

Kita tidak pernah tahu hama & penyakit apa yang akan datang dan kapan mereka datang. Semua itu berada di luar kendali kita.

Biasanya, kita baru menyadari kehadiran mereka setelah mereka bersarang dan memiliki populasi besar di dalam media tanam, sehingga dampaknya terlihat ketika koloni hama & penyakit tersebut merusak tanaman dengan munculnya gejala-gejala tertentu seperti:

  • daun mendadak menguning, layu, atau mengering
  • batang mendadak patah atau membusuk
  • pohon mendadak mati
  • dan gejala lainnya…

Sayangnya, ketika gejala-gejala tersebut muncul, semua telah terlambat.

Dalam artian, perakaran pohon sudah dirusak parah oleh mereka, sehingga sulit untuk menyembuhkannya.

Anda tidak ingin mengalaminya, bukan!?

Nah, di sini saya akan memberikan solusi agar kasus di atas tidak terjadi.

Caranya sangat mudah dan sederhana, kok.

Anda hanya memerlukan produk Anfush dan Metarizep sebagai penangkal hama & penyakit dalam tanah.

Metarizep adalah produk bioinsektisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis bernama Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana yang berperan membunuh puluhan bahkan ratusan jenis hama pengganggu tanaman, termasuk semut, rayap, uret, ulat, belalang, kumbang dan seterusnya.

Anfush adalah produk biofungisida yang mengandung 2 jenis cendawan antagonis yaitu Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yang berguna untuk membunuh berbagai jenis cendawan patogen penyebab penyakit pada tanaman.

Metarizep
(Gambar: Bioinsektisida Metarizep)
Anfush
(Gambar: Anfush)

Kedua produk tersebut akan menjadi pasukan keamanan yang bekerja 24 jam setiap hari untuk melindungi media tanam anda dari segala serangan hama & penyakit.

Dosis & Cara Aplikasi:

  • Anfush sebanyak 10 gram di benamkan ke dalam area perakaran tanaman.
  • Metarizep sebanyak 1 gram dilarutkan ke dalam 1 liter air bersih, kemudian didiamkan dulu selama 6-12 jam untuk mengaktifkan cendawan di dalamnya. Setelah itu siramkan ke media tanam. 1 liter larutan Metarizep bisa digunakan untuk 1 pot diameter 40-70cm atau 2 pot diameter < 40cm.

Waktu aplikasi:

  • Anfush dan Metarizep bisa diberikan sebelum atau setelah pohon ditanam dalam pot. Namun keduanya tidak boleh diberikan bersamaan, harus ada jeda waktu minimal 3 hari supaya cendawan dari masing-masing produk tidak saling berbenturan.
  • Aplikasi Anfush harus diulang sebanyak 2-3 kali aplikasi setiap 1 bulan sekali sesuai petunjuk di kemasan produk. Kemudian diulangi kembali pada tahun berikutnya sebanyak 2-3 kali aplikasi sebagaimana tahun pertama.
  • Metarizep harus diulang 5-6 kali setahun atau setiap 2 bulan sekali sesuai petunjuk di kemasan produk.

(!) Peringatan:

  • Dilarang keras memasukkan pestisida kimia apapun ke dalam media tanam, karena akan membunuh cendawan-cendawan dari Anfush dan Metarizep.

Apa Selanjutnya?

Tabulampot atau tanaman buah dalam pot adalah solusi berkebun buah di pekarangan sempit.

Dan salah satu kunci keberhasilan berkebun tabulampot adalah membuat media tanam pot yang tepat.

Sebagus apapun bibit yang anda tanam…

Semahal apapun pupuk yang anda gunakan…

Semua itu akan sia-sia jika media tanam anda bermutu rendah!

Tidak sedikit penghobi yang melewatkan bagian penting ini.

Sehingga, mereka terus mengalami banyak masalah pada tumbuh-kembang tabulampot mereka di kemudian hari, tanpa henti.

Mudah-mudahan anda tidak. 😀

Oya, sekalipun panduan membuat media tanam ini lebih berorientasi untuk tanaman buah, tapi sebetulnya, sangat relevan untuk hampir semua jenis tanaman, baik buah, hias, sayur, rempah dan sebagainya.

Orientasi saya lebih ke tanaman buah karena pengunjung blog Daunku.com ini didominasi oleh penghobi tanaman buah.

Sekarang, setelah paham cara membuat media tanam pot berkualitas super, langkah berikutnya adalah anda perlu mempelajari teknis budidaya tanaman yang ingin anda tanam.

Karena setiap jenis tanaman memiliki teknis perawatan yang berbeda.

Tidak bisa kita samakan cara merawat pohon mangga dengan pohon jeruk, pohon alpukat dengan pohon anggur, dan seterusnya.

Mungkin itu saja yang bisa saya share. Semoga bermanfaat.

Terimakasih dan salam berkebun! 😀

Panduan Berkebun Anggur ORGANIK di Pekarangan Rumah

Ingin menanam anggur di pekarangan rumah?

Ingat!

Kesehatan keluarga dan tetangga anda jauh lebih penting dan mahal dari tanaman anggur.

Maka, berkebun anggur secara organik bukanlah sebuah pilihan, tetapi keharusan.

Kecuali lokasi tanam jauh dari rumah anda dan pemukiman warga, silahkan berkebun anggur secara konvensional (kimia).

Di hadapan anda sekarang adalah sebuah pedoman super lengkap yang akan membimbing anda cara budidaya anggur organik dari A sampai Z.

Pedoman ini menggunakan metode tanam yang bisa anda terapkan pada pekarangan LUAS maupun SEMPIT.

Bahkan…

Masih sangat relevan untuk taman rumah yang luasnya hanya 2 x 3 meter, asalkan lokasi tersebut mendapatkan sinar matahari langsung minimal 6 jam sehari.

Sebelum masuk ke materi, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan latar belakang dan sudut pandang saya dalam menyusun panduan ini.

Tujuannya agar anda memiliki sudut pandang yang sama dengan saya, sehingga tidak kesulitan saat memahami materi yang disampaikan.

1. Setandan Anggur

Anggur Organik

Budidaya anggur organik mungkin masih jarang bahkan nyaris tidak pernah dibahas oleh penghobi anggur di Indonesia.

Oleh karena itu, saya berupaya mengumpulkan sebanyak mungkin literatur ilmiah untuk menemukan teknologi budidaya anggur secara organik, yakni tanpa pupuk dan pestisida sintetis (kimia) sama sekali.

Alhamdulillah, atas kemudahan dari Allah Ta’ala, akhirnya panduan yang sangat lengkap ini selesai ditulis.

Perlu dicatat bahwa saya bukanlah seorang ahli, saya hanya penghobi biasa. Segala informasi yang saya tulis di sini adalah rangkuman dari banyak referensi yang telah saya kumpulkan dan pelajari.

Maka sangat mungkin akan ada kekurangan di sana-sini. Saya dan anda masih sama-sama belajar. Dan saya ingin berbagi apa yang telah saya pelajari, siapa tahu bermanfaat untuk anda.

2. Mengapa Organik?

Jujur saja, saya sangat frustasi menghadapi serangan hama & penyakit pada pohon anggur yang datang silih-berganti. Lebih-lebih pada musim hujan, serangan bisa meningkat 2-3 kali lipat.

Bukan serangan hama & penyakitnya yang membuat frustasi, tetapi penggunaan pestisida kimia adalah masalah besarnya.

Coba anda bayangkan, pekarangan rumah anda dipenuhi zat kimia beracun yang berserakan di tanah dan udara. Belum lagi dengan hasil buah anggur yang mengandung banyak residu kimia.

Residu pestisida yang ada di tanah tentu akan mengendap kemudian diserap kembali oleh semua tanaman yang tumbuh di sana.

Sementara udara yang tercemar pestisida akan bergerak ke segala arah, termasuk ke dalam rumah anda.

Tidak ketinggalan, buah anggur yang dipenuhi racun akan masuk ke dalam tubuh yang memakannya.

Sepanjang hidup pohon anggur, sepanjang itulah anda akan terus menyemprot pestisida kimia, dan sepanjang itulah anda akan meracuni tanah dan udara di lingkungan tempat tinggal anda.

Akhirnya, sadar atau tidak, anda telah meracuni keluarga dan diri anda sendiri.

Atas dasar itulah saya mencoba mencari solusi pengganti pestisida kimia. Pestisida yang aman dan ramah lingkungan.

Anggur Sebagai Pagar Hidup

Singkat cerita, saya temukan pestisida organik yang cocok untuk tanaman anggur. Tapi sayang, setelah saya pelajari lebih dalam, ternyata tidak sesederhana yang saya pikirkan.

Pestisida organik akan sangat tidak efektif apabila manajemen budidayanya salah.

Dalam artian, pengendalian hama & penyakit harus didukung dengan pengelolaan tanah dan perawatan tanaman yang tepat dan terpadu.

Tanpa itu, sangat sulit untuk bisa membebaskan diri dari pestisida kimia.

Sebagai contoh, 90% hama & penyakit tanaman secara umum sumbernya ada di tanah lahan itu sendiri, sedangkan 10% sisanya datang dari luar lahan, sebagaimana penjelasan DR. Maman Nurzaman, Founder Komunitas Petani Peternak Mandiri (KP2M) saat mengisi Pelatihan Pertanian Organik di Kalimantan Timur.

Maka dari itu, diperlukan pengolahan tanah yang tepat untuk memusnahkan 90% bibit hama-penyakit yang berada di lahan tanam kita.

Jadi percuma saja menyemprot pestisida, baik pestisida kimia maupun organik, apabila tanahnya tidak diolah dengan benar.

Ibarat genteng bocor.

Mestinya genteng yang retak dibenerin, bukan lantainya aja yang di-pel. Kita pel berulangkali pun bakalan basah lagi, karena sumber bocornya nggak diatasi.

Kesimpulannya, mau tidak mau, kita harus menerapkan teknologi pertanian organik secara utuh untuk bisa sepenuhnya meninggalkan pestisida kimia.

Jadi, tidak boleh setengah-setengah!

3. Kebun Anggur Organik Di Dunia

Supaya anda lebih yakin bahwa berkebun anggur secara organik cukup realistis, maka saya bawakan sebuah data statistik Organic Viticulture Worldwide 2015 dari Research Institute of Organic Agriculture (FiBL) berikut:

Luas Perkebunan Anggur Organik Di Dunia

Bisa anda lihat, per tahun 2015 saja sudah ada 332.905 hektar perkebunan anggur organik yang terdaftar di seluruh dunia.

Dan ini adalah 10 negara yang memiliki luas lahan anggur organik terbesar:

10 Negara Dengan Luas Kebun Anggur Organik Terbesar

Itu belum termasuk perkebunan anggur organik yang dibangun pada tahun 2016 hingga sekarang.

Apa artinya bagi kita?

Apabila metode budidaya anggur secara organik bisa diadopsi oleh perkebunan komersial skala besar, maka penerapan di pekarangan rumah baik skala hobi maupun komersial tentu jauh lebih realistis lagi.

Sampai di sini saya harap anda sudah paham latar belakang dan sudut pandang saya.

Sekarang kita masuk ke materi utama.

Saya yakin anda sudah menunggu bagian ini dari tadi. Hehe…

Okelah… Yuk, kita mulai!

4. Syarat Tumbuh Anggur

Rambatan Anggur Model Kipas

Banyak penghobi pemula terburu-buru menanam anggur, padahal mereka belum memahami kondisi lingkungan hidup seperti apa yang diinginkan tanaman ini.

Alhasil, banyak kasus pohon anggur tumbuh lambat dan sulit berbuah. Bahkan tidak sedikit yang mati beberapa minggu atau bulan pasca tanam.

Saya harap anda tidak melakukan kesalahan yang sama.

Jadi, sebelum melangkah lebih jauh, mari pahami 3 faktor kunci penentu keberhasilan berkebun anggur berikut:

4.1. Suhu Udara

National Horticulture Board India mengatakan bahwa tanaman anggur menginginkan suhu udara antara 10°C – 35°C untuk dapat tumbuh dan berbuah dengan baik.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Tom Powers dalam bukunya The Organic Backyard Vineyard, bahwa pada suhu di atas 35°C, proses fotosintesis tanaman anggur akan berhenti. Sedangkan pada suhu di bawah 10°C fotosintesis akan terhambat.

Bagaimana dengan suhu udara di Indonesia?

Dilansir dari Tirto.ID, disebutkan bahwa suhu udara tahunan di seluruh wilayah Indonesia berada pada kisaran 26°C – 36°C.

Bagi anda yang tinggal di Jakarta dan Surabaya pasti merasakan betapa panasnya udara di kedua kota ini. Namun seberapa panaskah itu, apakah mencapai 36°C?

Jawabannya tidak.

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa suhu udara tahunan DKI Jakarta adalah antara 25°C – 33°C dan Surabaya 24°C – 34°C.

Artinya, pohon anggur cocok ditanam di Jakarta dan Surabaya.

Bagi anda yang tinggal di daerah lain, silahkan mencari informasi suhu udara di daerah anda melalui Google dengan menggunakan kata kunci: “suhu udara rata-rata jakarta”.

Ganti “jakarta” dengan nama provinsi atau kota anda.

Setelah yakin suhu udara di tempat anda cocok untuk tanaman anggur, berikutnya area tanam yang anda gunakan harus mendapatkan sinar matahari penuh.

4.2. Cahaya Matahari

Dikutip dari laman University of California, tanaman anggur membutuhkan paparan sinar matahari selama 7-8 jam sehari.

Kekurangan sinar matahari akan menyebabkan hasil buah rendah dengan kualitas buruk, pohon mudah terserang penyakit jamur dan busuk buah.

Bagaimana jika tidak memungkinkan, karena cahaya matahari tertutup bangunan atau pohon besar?

Setidaknya pohon anggur anda harus mendapatkan sinar matahari minimal 6 jam perhari. Karena pengalaman saya dan kawan-kawan, 6 jam masih bisa ditoleransi oleh tanaman anggur.

Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah tanah.

4.3. Kondisi Tanah

Tom Powers menjelaskan bahwa tanah geluh (bahasa Inggris: loam) adalah tipe tanah paling ideal untuk tanaman anggur, karena di dalamnya mengandung air, udara, mineral dan nutrisi dengan komposisi terbaik dibandingkan tipe tanah lainnya.

Selain itu, tanah geluh juga mengandung banyak bahan organik yang mendukung keanekaragaman hayati untuk menjaga kesehatan tanah.

Apa itu tanah geluh?

Mengutip dari Wikipedia, tanah geluh merupakan tanah dengan komposisi pasir, debu, dan lempung dalam jumlah yang relatif seimbang (sekitar 40-40-20).

Bagaimana jika tanah di kebun saya bukan tanah geluh?

Jangan khawatir!

Kabar baiknya, pohon anggur sangat mampu beradaptasi dengan jenis tanah apapun, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat berat, sebagaimana penjelasan Lon J. Rombough dalam bukunya The Grape Grower, A Guide to Organic Viticultur.

Sumber lain seperti Department of Agriculture, Forestry and Fisheries Republic of South Africa juga menyebutkan bahwa kuncinya adalah tanah harus memiliki sifat gembur, remah, subur, dan berdrainase (berporousitas) baik.

Dikuatkan juga oleh University of California, dikutip dari laman yang sama seperti sebelumnya; pohon anggur dapat tumbuh dan berbuah di berbagai jenis tanah, asalkan tanah tersebut memiliki drainase yang baik.

Bagaimana cara mengukur level drainase tanah?

Tom Powers memberikan cara sederhana dalam masalah ini. Silahkan membuat lubang sedalam kira-kira 1 meter di kebun anda. Kemudian isi lubang tersebut dengan air hingga penuh.

Apabila 24 jam kemudian air mengering, maka tanah tersebut memiliki level drainase yang sangat baik.

Untuk menguji tanah pekarangan, anda tidak perlu menggali sedalam itu. Bagi saya, 40-50 cm saja sudah cukup.

Jika ternyata air tidak mengering dalam 24 jam, itu artinya tanah kebun anda memiliki masalah drainase.

Hal tersebut bisa diatasi dengan menambahkan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang dan menghindari penggunaan pupuk sintetis. Karena pupuk sintetis dapat meningkatkan kepadatan tanah, sehingga memperparah level drainase menjadi semakin buruk.

Selain berdrainase baik, tanah juga harus subur dan kaya nutrisi.

Tom Powers juga memiliki trik cepat untuk mengetahui kesuburan tanah suatu lahan. Caranya adalah dengan melihat apakah ada beragam jenis tumbuhan (terutama aneka jenis rumput dan semak-semak) yang tumbuh subur pada lahan yang dimaksud.

Jika iya, maka bisa dipastikan tanah di lahan tersebut memiliki kesuburan yang baik.

Saya pertegas kembali bahwa tolok ukurnya adalah terdapat beragam jenis tumbuhan, bukan hanya didominasi oleh beberapa jenis tumbuhan saja.

Kunci terakhir yang masih berkaitan dengan kondisi tanah adalah masalah pH tanah.

Diane Brown melalui laman Michigan State University Extension mengatakan bahwa tanaman anggur akan tumbuh optimal pada tanah dengan pH antara 5,5 – 6,5.

Jadi, silahkan melakukan pengecekan pH tanah di kebun anda sejak sekarang. Anda bisa menggunakan alat pH Meter yang banyak dijual di pasaran.

Setiap penghobi sangat disarankan memiliki alat ini, karena pH tanah akan terus berubah seiring waktu, sehingga diperlukan pengecekan secara berkala.

Contoh alat pH meter:

Mengukur pH tanah
pH meter tanah
Alat ukur pH tanah
Alat pH meter tanah

5. Perencanaan

Setelah anda yakin bahwa tempat tinggal anda memenuhi 3 syarat tumbuh di atas, maka sekarang saatnya membuat rencana tanam.

Ada 2 hal yang harus dipikirkan sejak awal sebelum anda melangkahkan kaki ke kebun, yaitu memilih varietas anggur dan menentukan sistem rambatan pohon.

5.1. Varietas Anggur

Sampai artikel ini ditulis, ada lebih dari 50 varietas anggur yang tersebar di pasar bibit tanaman buah Indonesia, khususnya di pasar berbasis online seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak, grup jual-beli facebook, dan di toko online bibit anggur milik Daunku.com sendiri.

Varietas apa yang terbaik?

Jawabannya tentu sangat relatif.

Namun sangat disarankan memilih varietas yang toleran terhadap serangan penyakit. Karena serangan penyakit merupakan masalah serius dalam berkebun anggur.

Sejatinya, tidak ada varietas anggur apapun yang kebal dari penyakit.

Sebagai konsekuensinya, kita perlu memilih varietas yang sekalipun diserang penyakit, namun ia mampu bertahan/kuat dan mudah diobati.

Di dalam buku Living on an Acre: A Practical Guide to the Self-Reliant Life (2nd Edition) yang disusun oleh U.S. Department of Agriculture menyebutkan bahwa ada 3 kelompok besar varietas anggur yang tersebar di seluruh dunia:

  1. American Grapes
  2. European Grapes
  3. Hybrid Grapes (persilangan American dengan European Grapes)

Pilihlah varietas anggur yang masuk dalam kelompok Hybrid Grapes!

Hindari mengoleksi varietas yang masuk kelompok European Grapes, karena semua varietas yang ada di kelompok ini sangat lemah terhadap penyakit.

Hindari juga varietas American Grapes, karena sebagian besar anggur kelompok ini rasa buahnya kurang enak untuk dimakan langsung, biasanya diolah jadi bahan selai, jus, sirup, jelly, wine, dsb.

Di samping memperhatikan masalah di atas, anda juga perlu memilih bibit anggur yang berasal dari hasil sambung (grafting) dengan varietas anggur lokal.

Jenis anggur lokal yang biasa disambungkan ke anggur import adalah Isabella dan Red Master.

Hindari membeli bibit anggur varietas import hasil cangkok dan stek!

Karena sampai saat ini, belum ada varietas anggur import yang terbukti adaptif dan tahan banting di iklim Indonesia mengalahkan anggur lokal.

Tujuan penyambungan anggur import dengan anggur lokal adalah untuk menjadikan anggur import tumbuh adaptif dan tahan terhadap jenis tanah dan iklim tropis di negara kita.

Oya, anda juga bisa membeli bibit anggur di toko online kami: Sentra Bibit Anggur No.1 Di Indonesia.

Bibit Anggur Queen Nina
(Gambar: Contoh produk bibit anggur milik Daunku.com)

Katalog lengkap bibit angur kami bisa anda lihat disini >>

Maaf, promosi sedikit, ya. 😀

5.2. Sistem Rambatan

Anggur adalah jenis tanaman merambat. Maka, menyediakan media rambat adalah keharusan.

Ada banyak sekali sistem rambatan yang tersedia, mulai dari yang sederhana hingga yang membutuhkan biaya besar. Namun disini, saya hanya akan share satu jenis sistem rambatan yang paling mudah, namun umum digunakan di perkebunan anggur di seluruh dunia.

Sistem rambatan yang saya share adalah Vertical Shoot Position Trellis System atau disingkat VSP Trellis System.

Oya, sistem rambatan satu ini memiliki beberapa variasi seperti Single Cordon dan Double Cordon. Sedangkan yang akan saya share adalah model Single Cordon. Topik ini tidak perlu dibahas dulu, supaya anda tidak pusing. Hehe…

Contoh penerapannya:

Kebun anggur dengan rambatan VSP Trellis System
Rambatan anggur VSP Trellis System
Budidaya Anggur
Barisan Pohon Anggur
Pekerja di Perkebunan Anggur
Pemangkasan Pohon Anggur

Mengapa saya memilih sistem ini?

Tom Powers mengatakan bahwa VSP Trellis System sangat direkomendasikan untuk budidaya anggur di wilayah dengan suhu dan kelembaban udara yang tinggi seperti Indonesia.

Sistem rambatan ini memungkinkan sebagian besar daun mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup dan mendukung sirkulasi udara yang optimal di area daun dan percabangan.

Kedua hal tersebut sangat penting untuk menjaga kesehatan pohon anggur dan menekan serangan hama & penyakit.

Keunggulan lain dari VSP Trellis System adalah bentuknya yang ramping dan minimalis, sehingga mudah diterapkan pada pekarangan kecil sekalipun.

Sampai di sini anda telah memiliki 2 rencana besar diatas. Sekarang saatnya keluar menuju kebun anda.

6. Penanaman

Waktu terbaik menanam anggur ke lahan adalah pada awal musim kemarau. Hindari menanam di musim hujan, karena resiko tanaman rusak dan mati sangat tinggi.

Hal pertama yang perlu dipertimbangkan adalah jumlah pohon, jarak dan arah tanam.

6.1. Jarak & Arah Tanam

Bagi anda yang hanya menanam 1 pohon anggur, anda bisa abaikan masalah jarak tanam. Namun jika ingin menanam 2 pohon atau lebih, maka jarak tanam antar pohon harus diatur dengan baik.

Jangan sampai jarak pohon terlalu dekat, sehingga pohon satu dengan yang lain saling menghalangi paparan sinar matahari dan menghambat sirkulasi udara di sekitar tanaman.

Dalam VSP Trellis System, untuk menghasilkan buah anggur dengan kualitas baik bisa menggunakan aturan berikut:

  • Jarak antar pohon= 1,5 – 2 meter
  • Jarak antar baris= 2 – 2,5 meter
Jarak Tanam Pohon Anggur VSP Trellis System

Selain jarak tanam, anda juga perlu mengatur arah baris tanaman agar paparan sinar matahari dapat mengenai hampir semua daun secara maksimal. Sehingga tidak ada bagian sisi tanaman tertentu yang ternaung (terhalang dari sinar matahari).

Arah baris tanaman yang paling direkomendasikan adalah sejajar dengan pergerakan sinar matahari yaitu dari Timur ke Barat.

Arah Tanam Pohon Anggur VSP Trellis System

Bagi anda yang menanam hanya 1 pohon anggur bisa gunakan aturan di atas apabila memungkinkan. Namun jika tidak bisa, karena keterbatasan lahan, maka posisi pohon anggur disesuaikan saja dengan kondisi lahan.

Setelah anda berhasil menetapkan jarak dan arah pohon anggur, sekarang anda bisa menghitung kebutuhan pohon anggur sesuai lahan yang tersedia.

Contoh:

Jika anda memilih jarak tanam antar pohon dan baris masing-masing 2 meter atau kita sebut 2 x 2 meter, yang berarti luasnya 4 m².

Sedangkan ukuran lahan yang ingin ditanami adalah 4 x 6 meter (luas= 24 m²), maka jumlah pohon yang anda butuhkan adalah:

24 m² : 4 m²= 6 pohon

Setelah anda tahu jumlah pohon yang diperlukan, mari kita lanjut ke langkah berikutnya!

6.2. Pengolahan Tanah

Sebagaimana yang telah saya singgung di awal tulisan ini, salah satu kunci utama dalam pertanian organik adalah pengolahan tanah yang tepat.

Kesalahan dalam pengolahan tanah akan berdampak besar dan berlangsung jangka panjang terhadap pertumbuhan dan kesehatan pohon anggur anda.

Lubang tanam pohon buah

Pembahasan bagian ini terbilang panjang dan tidak memungkinkan saya masukkan di sini.

Oleh karena itu, saya telah membuat tulisan tersendiri di sini: Pedoman Teknis Mengolah Lubang Tanam ‘Standar Pakar’.

Silahkan anda pelajari artikel tersebut sebelum melanjutkan bab berikutnya!

6.3. Penanaman Bibit Anggur

Setelah 2-4 minggu kemudian, lakukan penanaman bibit anggur dan siram dengan air secukupnya. Saya yakin anda paham teknisnya, jadi tidak perlu saya jelaskan lagi, hehe…

Setelah selesai ditanam, berikan 1 bilah bambu, kayu atau semisalnya sebagai rambatan sementara supaya posisi tanaman berdiri tegak lurus.

Selamat! Anda telah berhasil menanam anggur.

Apa selanjutnya?

Langkah berikutnya adalah melakukan perawatan supaya pohon tumbuh sehat dan cepat besar. Inilah yang harus anda lakukan:

6.4. Pengairan & Pemupukan

Lakukan penyiraman setiap 1 x sehari atau beberapa hari sekali (tergantung cuaca).

Prinsipnya, tanah tidak boleh kekeringan.

Bicara pemupukan, karena metode yang kita terapkan adalah pertanian organik, maka kita tidak menggunakan pupuk kimia sedikit pun.

Mengapa?

Ketika ekosistem mikroba di dalam tanah sudah ideal, maka kebutuhan nutrisi pohon anggur akan tersedia dengan sendirinya.

Tugas kita adalah menambahkan bahan organik secara teratur untuk menghidupi ekosistem mikroba tersebut.

Di samping itu, kita juga perlu memasukkan biofertilizer, biodekomposer dan biopestisida secara teratur untuk menjaga ekosistem mikroba menguntungkan tetap dominan di dalam tanah. Jangan sampai mikroba merugikan mengambil alih ekosistem mereka.

Eits, apa itu biofertilizer?

Definisi singkatnya adalah pupuk yang mengandung sekumpulan mikroba bermanfaat yang berperan menyediakan unsur hara bagi tanaman.

Biofertilizer yang saya gunakan di sini adalah Biotogrow Gold.

Biotogrow
(Gambar: Biofertilizer Biotogrow Gold)

Jadwal pemupukan terbagi menjadi 2, yaitu pemupukan 4 bulan sekali dan pemupukan 1 minggu sekali.

a) Pemupukan 4 Bulan Sekali

  • Pupuk kompos/kandang (10 kg)

Jika anda menggunakan pupuk kandang, maka pupuk kandang tersebut harus difermentasi sempurna terlebih dahulu sampai bentuk, warna dan aromanya berubah mirip seperti tanah.

Tujuan fermentasi adalah untuk memusnahkan segala bibit hama-penyakit dan menghilangkan gas-gas beracun yang masih terkandung di dalam pupuk kandang.

Pupuk kandang yang sudah difermentasi
(Gambar: Contoh pupuk kandang yang telah difermentasi sempurna)

Cara aplikasi:

  • Pupuk kandang dibenamkan dalam tanah mengelilingi pohon sejauh 40-50 cm.

b) Pemupukan 1 Minggu Sekali

  • Biotogrow (2 ml/liter air)

Cara aplikasi:

  • Kocorkan pada sekeliling perakaran pohon dekat batang.

Mungkin muncul pertanyaan dalam benak anda:

“Apa mungkin pohon anggur bisa tumbuh optimal tanpa pupuk sintetis sama sekali?”

Jawabannya sangat bisa.

Bernadine C. Strik, salah seorang profesor dari Department of Horticulture di Oregon State University menjelaskan dalam publikasinya berjudul “Growing Table Grapes“ bahwa pemupukan pohon anggur mesti dilakukan secara hemat. Sebab, lebih banyak masalah yang terjadi ketika kelebihan pupuk daripada kekurangan pupuk.

Beliau menyebutkan bahwa kebutuhan unsur hara nitrogen tanaman anggur selama fase pembesaran (sejak awal tanah hingga siap dibuahkan) adalah 43 – 72 gram.

Sekarang mari kita hitung jumlah nitrogen yang terkandung dalam bahan organik yang kita tambahkan ke dalam tanah selama fase pembesaran pohon anggur, dengan asumsi pohon akan dibuahkan pada usia 8-10 bulan setelah tanam:

  • Saat pengolahan tanah= 25 kg
  • Pemupukan bulan ke-3 dan ke-6= 10 kg x 2 kali aplikasi= 20 kg
  • Jumlah= 45 kg

Sementara kandungan nitrogen dalam pupuk kandang/kompos rata-rata bekisar 1%. Itu artinya, jumlah nitrogen di dalam 45 kg pupuk kandang/kompos adalah:

45 kg x 1%= 450 gram

Eits.. belum selesai.

Kandungan nitrogen sebesar 450 gram tersebut tidak langsung ada begitu saja, namun tersedia secara sedikit demi sedikit dan berkesinambungan.

Fritz Westover melalui tulisannya di Compost Use in Vineyards menjelaskan bahwa dari jumlah total nitrogen dalam kompos, hanya 30% yang akan diserap oleh tanaman anggur secara bertahap dari waktu ke waktu. Dimana, 15% akan diserap pada 8 bulan pertama dan 15% sisanya diserap bertahap hingga 2,5 tahun kedepan.

Artinya, dari 450 gram nitrogen tadi, akan tersedia 67,5 gram nitrogen untuk memenuhi kebutuhan pohon anggur kita selama fase pembesaran. Itu sudah mencukupi sesuai rekomendasi Bernadine C. Strik yang menyarankan 43-72 gram.

Bahkan jumlah 67,5 gram tersebut belum termasuk kandungan nitrogen yang ada pada Biotogrow.

Jadi, sudah lebih dari cukup.

Mengapa yang dihitung hanya unsur nitrogennya saja?

Alasannya karena selama fase pembesaran, nitrogen adalah unsur hara yang paling tinggi kebutuhannya dibandingkan semua unsur yang lain.

Sehingga, ketika unsur hara nitrogen terpenuhi, maka bisa dipastikan unsur hara lain seperti fosfor dan kalium akan tercukupi dengan sendirinya.

Hal itu dikarenakan pupuk kandang/kompos tidak hanya mengandung nitrogen, tetapi mengandung juga unsur hara lainnya.

Jadi kesimpulannya, jangan ragu untuk meninggalkan pupuk sintetis dan menuju full-organik!

Oke, sekarang kita lanjut ke materi berikutnya:

7. Pembentukan Tajuk

Sejak awal tanam, pohon anggur harus diatur pola merambatnya supaya memiliki bentuk dan ukuran sesuai sistem rambatan yang telah ditentukan, yakni VSP Trellis System.

Cara mengaturnya cukup mudah, kok.

Langkah 1: Pembentukan Batang Horizontal

Pertama-tama, biarkan pohon tumbuh tinggi hingga melampaui kawat terbawah.

Setelah tercapai, belokkan batang ke arah horizontal mengikuti alur kawat paling bawah tesebut. Ikat batang anggur ke kawat supaya posisinya tidak berubah.

Seluruh tunas air yang muncul di sekujur batang pohon dibiarkan tumbuh dan dirawat dengan baik, jangan sampai rusak. Tunas-tunas air ini nantinya akan dibesarkan menjadi percabangan pohon dan berfungsi untuk menghasilkan buah anggur.

Setelah batang horizontal mencapai panjang yang diinginkan, yakni antara 1,5 – 2 meter (dalam panduan ini saya buat 2 meter), potong bagian pucuk batang supaya pertumbuhannya terhenti.

Ilustrasi 1: Pembentukan batang horizontal
(Ilustrasi: Pembentukan batang horizontal)
Gambar 1 - Contoh tunas air
(Gambar: Contoh tunas air, dilingkari merah)

Langkah 2: Pembentukan Percabangan Vertikal

Setelah pucuk batang dipotong, masih di waktu yang sama, lakukan penjarangan/pemangkasan sebagian besar tunas air, dimana jarak antar tunas diatur menjadi 40-50 cm.

Ilustrasi 2: Pengaturan jarak tunas air
(Ilustrasi: Pengaturan jarak tunas air)

Seiring waktu, tunas-tunas tersebut akan tumbuh besar dan panjang menjadi percabangan pohon. Arahkan seluruh cabang tumbuh vertikal ke atas dengan cara mengikatnya ke kawat rambatan.

Biasanya, pertumbuhan antara cabang satu dengan yang lain tidak akan kompak. Ada yang cepat, ada yang lambat, dan ada yang sangat lambat.

Nah, supaya bisa didapatkan pertumbuhan yang kompak, maka lakukan teknis berikut:

Setelah ketinggian cabang yang pertumbuhannya lebih cepat sudah mencapai kawat paling atas, potong pucuknya supaya pertumbuhannya terhenti.

Pasca pemotongan pucuk, biasanya akan muncul tunas-tunas baru di dekat area potongan. Buanglah semua tunas tersebut.

Berikan perlakuan yang sama pada cabang lainnya sampai semua cabang mencapai ketinggian kawat paling atas. Dengan begitu, anda akan memiliki pohon anggur dengan percabangan yang kompak.

Oya, semua tunas air yang muncul di cabang vertikal dibiarkan tumbuh. Kecuali jika pertumbuhannya melebihi 1 meter, maka harus dibuang.

Tunas-tunas air ini berguna untuk meningkatkan biomassa tanaman yang sangat penting untuk mengokohkan perakaran, serta memperkuat dan memperbesar batang pohon, sebagaimana penjelasan Fassaden Gruen.

Ilustrasi 3: Membesarkan percabangan vertikal
(Ilustrasi: Membesarkan percabangan vertikal)

Catatan: Ilustrasi di atas untuk penanaman 1 pohon anggur. Jika anda menanam 2 pohon atau lebih dalam satu barisan, maka cabang vertikal paling bawah harus dibuang, supaya tidak mengganggu percabangan pohon di sebelahnya.

Mengapa percabangan harus dibuat kompak?

Tujuannya bukan soal keindahan atau kerapihan. Tapi hal itu diperlukan supaya semua cabang memiliki ukuran diameter batang yang sama.

Masalah diameter batang ini sangat penting, karena berkaitan erat terhadap kualitas dan kuantitas buah yang akan dihasilkan nantinya.

Cabang yang kurus (diameter batangnya kecil) akan menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas rendah, atau bahkan tidak menghasilkan buah sama sekali.

(!) PENTING: Selama proses pembentukan tajuk, anda harus melakukan pencegahan hama & penyakit yang akan saya bahas pada bab terakhir panduan ini.

Karena jika pohon anggur diserang hama atau penyakit selama proses pembentukan tajuk berlangsung, terutama saat pembentukan percabangan vertikal, maka pembentukan tajuk bisa gagal total.

Apabila gagal, anda harus mengulang prosesnya dari awal lagi dengan membuang batang horizonal yang ada untuk membentuk batang horizontal baru.

Satu hal lagi, buang semua bunga yang muncul selama proses pembentukan tajuk. Karena pembuahan dini dapat mengganggu pertumbuhan pohon anggur dan menggagalkan proses pembentukan tajuk.

Setelah tajuk terbentuk sempurna, mari kita lanjutkan ke tahap berikutnya.

8. Pembuahan

Pohon anggur siap dibuahkan apabila proses pembentukan tajuk telah selesai dan terpenuhinya 2 kriteria berikut:

  1. Kulit batang horizontal telah berkayu dan mengelupas
  2. Percabangan vertikal telah berkayu dan diameter batangnya minimal sebesar pensil
Contoh kulit batang sudah berkayu & mengelupas
(Gambar: Contoh kulit batang sudah berkayu & mengelupas. Photo by Dedie N Det)

Apabila kedua kriteria tadi tidak terpenuhi dan pohon dipaksa berbuah, maka buah yang dihasilkan akan sedikit dan berkualitas rendah. Lebih buruk lagi, dampak negatif tersebut akan terulang pada pembuahan berikutnya.

Biasanya pada pembuahan ke-3 atau ke-4 baru kembali normal. Dalam artian, hasil panen akan sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, lebih baik tunggu sampai 2 kriteria tadi terpenuhi supaya hasil buah perdana bisa semaksimal mungkin.

Waktu pembuahan terbaik adalah di awal musim kemarau.

Membuahkan di musim hujan sangat dihindari karena seluruh buah bisa rusak dan hancur akibat curah hujan tinggi dan serangan jamur yang ekstrim pada musim tersebut.

Anda bisa membuahkan anggur di musim hujan asalkan pohon ditanam dalam greenhouse (rumah tanaman), dimana tanaman terlindung dari paparan air hujan.

Pohon anggur membutuhkan perlakuan khusus untuk bisa berbuah optimal.

Pohon yang berbuah tanpa melalui prosedur yang benar akan menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas yang rendah, atau bahkan tidak menghasilkan buah sama sekali.

Selain itu, prosedur pembuahan yang salah dapat menimbulkan masalah kesehatan pada pohon pasca panen, serta berdampak buruk pada pembuahan berikutnya. Dimana hasil buah selanjutnya akan menurun signifikan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas.

8.1. Prosedur 4-P

Pembuahan pohon anggur dilakukan dengan menerapkan prosedur 4-P yaitu:

  1. Penyuburan
  2. Pengeringan
  3. Pengairan
  4. Pemangkasan

Mengapa perlu dilakukan lima perlakuan di atas?

Hal itu merupakan bentuk upaya merekayasa kondisi tanaman agar menyerupai seperti di iklim asalnya, yakni wilayah dengan 4 musim dalam setahun (gugur, dingin, semi, panas).

Pada musim gugur, tanaman anggur mulai berhenti tumbuh dan merontokkan daunnya.

Setelah musim gugur berakhir, lanjut ke musim dingin, dimana kondisi tanah menjadi kering karena membeku dan suhu udara mencapai nol derajat celcius bahkan lebih rendah.

Pada kondisi tersebut tanaman anggur mengalami masa dormant, yakni seluruh organ tanaman tidak ada pertumbuhan sama sekali, alias tidur.

Pada akhir musim dingin, salju dan es di sekitar pohon akan mencair dan membasahi seluruh perakaran anggur.

Beberapa waktu kemudian, tibalah musim semi, dimana pohon anggur mulai terbangun dengan munculnya tunas-tunas baru yang sekaligus membawa bunga.

Nantinya, buah akan dipanen pada akhir musim berikutnya, yakni musim panas.

Setelah musim panas berakhir dan buah selesai dipanen, maka mulai masuk awal musim gugur, dimana siklus berulang kembali dari awal.

Nah, prosedur 4-P berupaya untuk merekayasa siklus musim gugur, dingin dan semi di atas. Karena di Indonesia tidak memiliki ketiga musim tersebut.

Berikut langkah-langkahnya:

Langkah 1 – Penyuburan

Berikan 10 kg pupuk kandang/kompos dan Biotogrow secara bersamaan. Caranya sama seperti pada pemupukan rutin sebelumnya.

Langkah 2 – Pengeringan

Mulai keesokan harinya, hentikan penyiraman selama minimal 1 bulan kedepan. Caranya dengan tidak memberikan air sedikit pun.

Untuk menghindari air hujan, tinggikan tanah sekeliling pohon setinggi 10-20 cm dengan radius 1 meter dari batang. Lalu tutupi tanah yang ditinggikan tersebut dengan plastik gelap atau terpal.

Tujuan tanah ditinggikan 10-20 cm supaya tidak ada air yang mengalir mendekati perakaran tanaman.

Proses pengeringan selesai apabila seluruh pucuk dan sulur telah berhenti tumbuh atau bahkan mengering.

Langkah 3 – Pengairan

Setelah masa pengeringan selesai, mulai saat ini penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi-sore) selama 10 hari kedepan untuk mengembalikan kadar air dalam tubuh tanaman.

Langkah 4 – Pemangkasan

Setelah masa pengairan selesai, sekarang saatnya melakukan pemangkasan. Potonglah seluruh cabang vertikal dengan menyisakan 2 mata tunas pada masing-masing cabang.

Setelah dipangkas, buang juga seluruh daun sampai pohon gundul tanpa daun.

Sejak saat ini, penyiraman cukup dilakukan 1 kali sehari, karena penyiraman berlebih dapat merontokkan bunga yang akan tumbuh nantinya.

Ilustrasi 4: Pangkas pembuahan pertama kali
(Ilustrasi: Pangkas pembuahan pertama kali)

Beberapa minggu kemudian, akan tumbuh tunas-tunas baru yang membawa calon bunga.

Namun pada kasus tertentu, tidak ada satupun tunas yang membawa bunga. Jangan khawatir, biasanya pohon akan berbunga pada pembuahan berikutnya.

Kasus ini hanya terjadi pada varietas-varietas tertentu saja.

Apabila upaya pembuahan pertama ini tidak berhasil, maka tunas-tunas baru tadi harus dibiarkan tumbuh hingga 4 bulan kedepan sebelum pohon dibuahkan kembali. Tujuannya untuk membesarkan seluruh tunas menjadi cabang vertikal baru.

Teknis pemangkasan pada pembuahan berikutnya harus mengikuti petunjuk pada Bab 8.4. Pembuahan Selanjutnya yang akan dibahas setelah ini.

8.2. Perawatan Selama Berbuah

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan meningkatkan kualitas buah, maka lakukanlah beberapa hal berikut:

a) Pemupukan

Saat ukuran buah sudah sebesar biji jagung, berikan Biotogrow dengan dosis dan cara aplikasi yang sama seperti sebelumnya sampai menjelang panen.

b) Pembatasan Jumlah Daun

Batasi jumlah daun pada masing-masing cabang vertikal sebanyak 16-18 helai. Cabang yang tumbuh melebihi 18 helai daun harus dipotong tepat di antara daun ke-18 dan ke-19 supaya nutrisi bisa terfokus ke pembesaran buah.

Pada cabang yang tidak membawa buah, daun dihitung dari pangkal cabang. Sedangkan pada cabang yang membawa buah, daun dihitung mulai dari tandan buah.

c) Pembatasan Tunas Air

Tunas air yang muncul di seluruh cabang vertikal dibiarkan tumbuh, namun dibatasi panjangnya maksimal 1 jengkal. Jika melebihi itu, potes pucuknya supaya pertumbuhannya terhenti.

Tunas-tunas air ini berguna untuk membantu fotosintesis, sehingga meningkatkan bobot dan kadar gula buah.

d) Penjarangan Buah

Buang semua buah yang pertumbuhannya tidak bagus dan terlalu kecil. Kemudian kurangi buah yang saling berdesakan.

Bagian ini sangat penting!

Jika buah yang berdesakan tidak segera dikurangi, nantinya sebagian besar buah akan pecah dan membusuk. Alhasil, anda bisa gagal panen.

8.3. Panen

Buah anggur dapat dipanen pada usia 80-180 hari (tiap varietas berbeda-beda), terhitung sejak hari pemangkasan saat melakukan prosedur 4-P.

Hentikan penyiraman seminggu sebelum panen untuk mengurangi kadar air buah supaya daya simpan buah meningkat. Bersamaan dengan itu, hentikan juga penyemprotan pestisida organik.

8.4. Pembuahan Selanjutnya

Setelah buah dipanen, pohon anggur bisa langsung dibuahkan kembali mengikuti prosedur 4-P seperti sebelumnya.

Namun tidak berlaku jika waktu panen mendekati musim hujan. Dengan sangat terpaksa, anda harus menunggu awal musim kemarau berikutnya. Yang perlu anda lakukan saat itu adalah melakukan penyuburan saja.

Kecuali anda menanam di dalam greenhouse, maka musim hujan tidak lagi menjadi masalah. Hanya saja, proses pengeringan tanah bisa berlangsung lebih lama karena meningkatnya kandungan air dalam tanah.

Pada pembuahan kedua, ada perbedaan besar di dalam teknis pemangkasannya.

Saat pangkas pembuahan pertama, masing-masing cabang vertikal dipotong dan disisakan 2 mata tunas. Hasilnya, akan muncul 2 cabang vertikal baru dari 2 mata tunas tersebut.

Nah, pada pembuahan kedua, pangkaslah cabang paling pangkal (paling dekat dengan batang horizontal) dengan menyisakan 2 mata tunas dan pangkas cabang di atasnya dengan meyisakan 5 mata tunas.

Cara pemangkasan ini mengikuti metode “Rod Pruning / Medium-Long Pruning” dari Fassaden Gruen.

Ilustrasi 5: Pangkas pembuahan kedua
(Ilustrasi: Pangkas pembuahan kedua)
Gambar 2 - Contoh pangkas pembuahan Rod Pruning
(Gambar: Contoh hasil pemangkasan dengan menyisakan 2 dan 5 mata tunas)

Pada pembuahan ketiga dan seterusnya, pemangkasan dilakukan dengan membuang cabang yang memiliki banyak ranting.

Kemudian memotong 2 cabang yang tersisa mengikuti cara pembuahan sebelumnya, yaitu menyisakan 2 mata tunas pada cabang paling pangkal dan 5 mata tunas pada cabang di atasnya.

Ilustrasi 6: Pangkas pembuahan ketiga
(Ilustrasi: Pangkas pembuahan ketiga)
lustrasi 7: Pangkas pembuahan keempat
(Ilustrasi: Pangkas pembuahan keempat)
Ilustrasi 8: Pangkas pembuahan kelima dan seterusnya
(Ilustrasi: Pangkas pembuahan kelima dan seterusnya)

9. Pengendalian Hama & Penyakit

Sampai kapanpun, pohon anggur tidak bisa lepas dari gangguan hama dan penyakit. Sehingga, perlu dilakukan pencegahan sedini mungkin sebelum serangan datang secara masif.

Lakukan penyemprotan rutin menggunakan pestisida organik dengan aturan pakai mengikuti petunjuk di kemasan produk.

Ada banyak produk pestisida organik di pasaran.

Carilah produk yang tidak hanya mengendalikan hama/serangga, tetapi juga mengatasi jamur, virus dan bakteri. Selain itu, pilihlah produk yang reaksi racunnya bekerja secara kontak & sistemik.

Salah satu produk yang menawarkan itu adalah MAGICgro G7.

Pestisida Organik MAGICgro G7
(Gambar: Pestisida organik MAGICgro G7)

Akhirnya selesai juga materinya.

Ketika kita mampu membangun ekosistem tanah yang baik, maka InsyaAllah, tanaman apapun termasuk anggur akan tumbuh subur dan sehat.

Untuk mencapai itu, kita perlu menerapkan manajemen budidaya organik secara tepat dan totalitas.

Menjauhi penggunaan pestisida kimia di pekarangan rumah menurut saya adalah keharusan.

Sedangkan bicara pupuk sintetis/kimia, selama cara penggunaanya tepat dan terukur, maka tidak akan mengganggu ekosistem tanah yang telah kita bangun. Sehingga sah-sah saja jika anda ingin menggunakannya.

Namun saya pribadi lebih memilih full-organik alias tanpa pupuk sintetis sama sekali. Karena sebagaimana yang telah kita bahas, penggunaan bahan organik saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman anggur.

Seluruh produk yang saya sebutkan di dalam panduan ini hanyalah sebagai referensi saja. Anda bebas menggunakan merek lain sesuai selera.

Oke.. kita akhiri sampai di sini.

Terimakasih dan salam berkebun! 😀

Cara Mengatasi Bunga Kelengkeng RONTOK Parah

Saya berani tebak:

“Lebih dari 50% penghobi pasti pernah mengalami kasus bunga kelengkeng rontok parah, bahkan habis tak tersisa.”

Jika saat ini anda sedang mengalaminya, percayalah, anda tidak sendirian. Di luar sana ada ratusan penghobi lain mengeluhkan masalah yang sama.

Jadi, apa solusinya?

Sebelum bicara solusi, kita perlu pahami dulu apa saja penyebab kerontokan bunga kelengkeng. Karena solusi yang diambil harus disesuaikan dengan penyebabnya.

Oya, sebagai catatan, ruang lingkup pembahasan artikel ini hanya untuk pohon kelengkeng yang ditanam grounding (di tanah langsung), bukan untuk tabulampot (di tanam dalam pot).

Bunga Kelengkeng Rontok Parah
Gambar: Hasil buah sangat sedikit akibat kerontokan bunga (Awaludin Sinur Kholis).

Bunga Jantan & Bunga Betina

Perlu anda ketahui, dalam satu tandan bunga kelengkeng terdiri dari bunga jantan dan betina.

Artinya, ada sebagian bunga yang mampu berkembang menjadi buah dan ada sebagian lagi yang tidak akan pernah menjadi buah, pasti rontok.

Nah, sebelum mencari tahu penyebab kerontokan, sebaiknya anda cek dulu apakah sebagian besar bunga yang rontok adalah bunga betina atau jantan.

Jika ternyata didominasi oleh bunga jantan, maka itu normal. Tidak ada yang salah dengan pohon kelengkeng anda. Semua baik-baik saja. 🙂

Namun jika didominasi bunga betina, itu masalah serius, perlu dicari tahu penyebab dan solusinya.

Perbedaan bentuk bunga kelengkeng jantan dan betina
Gambar: Perbedaan bentuk bunga kelengkeng jantan dan betina (Kabartani.com).

Oya, sebagai tambahan, tidak sedikit penghobi yang mengeluhkan hampir semua bunga yang muncul dalam satu pohon adalah bunga jantan. Bunga betinanya sangat sedikit sekali, kurang dari 20%.

Untuk kasus ini, biasanya disebabkan karena sebelum-sebelumnya pohon jarang atau bahkan tidak pernah dipupuk, baik menggunakan pupuk organik seperti pupuk kandang, maupun pupuk kimia seperti NPK.

5 Faktor Paling Umum Penyebab Bunga Kelengkeng Rontok

Berdasarkan pengalaman dan banyak keluhan kawan-kawan penghobi, setidaknya ada 5 faktor yang paling sering dijumpai dan berulang setiap tahun yaitu:

  1. Usia pohon terlalu muda
  2. Serangan hama
  3. Kekurangan air
  4. Curah hujan tinggi
  5. Kekurangan nutrisi

Mari kita bahas lebih dalam!

Faktor #1: Usia Pohon Terlalu Muda

Masa produktif pohon kelengkeng dimulai pada usia 4 tahun sejak penanaman ke lahan.

Setelah memasuki usia tersebut, tanaman mampu menghasilkan buah dengan kuantitas optimal. Semakin bertambah usia, semakin tinggi jumlah buah yang dihasilkan.

Sebaliknya, tanaman berumur kurang dari 4 tahun akan menghasilkan buah yang lebih sedikit. Semakin muda usia pohon, semakin kecil kuantitas buahnya.

Pada kebun skala komersil, petani lengkeng biasanya akan membuahkan pohon saat usianya genap 3 tahun atau paling cepat 2,5 tahun.

Faktor #2: Serangan Hama

Bisa dikatakan, hampir tidak ada pohon kelengkeng yang terbebas dari serangan hama.

Salah satu hama yang sering menyerang tanaman ini, baik dalam kondisi pohon berbuah maupun tidak adalah Kutu Kebul (Bemisia Tabaci).

Selain kutu kebul masih ada hama lainnya seperti Kutu Putih, Aphids, Penggerek Batang dan seterusnya. Tiap daerah biasanya didominasi jenis hama yang berbeda.

Di daerah saya sendiri, serangan kutu kebul lebih banyak dibandingkan kasus hama lain.

Gambar: Kutu kebul berbaris tertib & rapi di tandan buah.
Gambar: Kutu Kebul merontokkan bunga hingga 90%.

Kutu kebul sangat bertanggungjawab terhadap masalah kerontokan bunga. Direktorat Perlindungan Hortikultura menyebutkan bahwa serangan kutu kebul mampu menghilangkan hasil panen hingga 100%.

Cara kerjanya kutu kebul hinggap di tandan bunga, kemudian menghisap cairan nutrisi dalam batang. Pada akhirnya, bunga-bunga lengkeng rontok akibat kekurangan nutrisi.

Faktor #3: Kekurangan Air

Tanaman buah apapun, sangat sensitif terhadap ketersediaan air tanah selama fase berbunga. Sekali saja pohon mengalami kekeringan, bisa dipastikan bunga akan jatuh berguguran.

Meskipun masalah ini masih bisa diatasi dengan memberikan air kembali, namun kita telah kehilangan sebagian besar bunga yang ada.

Sebagian Besar Bunga Lengkeng Rontok
Gambar: Bunga kelengkeng rontok hampir tak tersisa (Awaludin Sinur Kholis).

Faktor #4: Curah Hujan Tinggi

Musim hujan adalah tantangan besar bagi pohon lengkeng yang sedang berbunga. Guyuran hujan yang lebat ditambah angin kencang sangat beresiko terjadinya kerontokan bunga besar-besaran.

Hujan Deras Membasahi Pekarangan Rumah

Selain karena hujan lebat dan angin kencang, curah hujan yang tinggi (turun hujan hampir setiap hari) juga akan memberikan dampak buruk yang sama.

Intensitas hujan yang terlalu sering akan menyebabkan benang sari pada bunga lengkeng menempel dengan air, dimana hal tersebut akan mengganggu proses penyerbukan.

Alhasil, bunga-bunga yang tidak segera diserbuki akan layu, mengering, kemudian rontok.

Jurnal berjudul Flowering Development of Longan ‘Diamond River’ (2013) yang disusun oleh Pining Suwardining Tyas, dkk menyebutkan bahwa:

“Bunga kelengkeng varietas Diamond River berada dalam fase penyerbukan pada hari ke-12 sampai ke-16 sejak calon bunga muncul.”

Itu artinya, fase penyerbukan hanya berlangsung selama 4 hari.

Apabila bunga belum terserbuki hingga melewati waktu tersebut, maka kemungkinan besar bunga betina akan rontok.

Meskipun dalam penelitian tersebut varietas yang diteliti adalah Diamond River, namun ada kemungkinan berlaku juga pada varietas kelengkeng lain. Mengingat masa berbuah pohon kelengkeng secara umum tidak jauh berbeda, yakni antara 5-6 bulan sejak muncul bunga hingga panen.

Calon Bunga Kelengkeng New Cristal
Gambar: Calon bunga kelengkeng New Cristal (Zunaidi).

Faktor #5: Kekurangan Nutrisi

Selama melewati fase berbunga, tanaman kelengkeng akan mengonsumsi unsur hara makro dan mikro dalam jumlah besar. Unsur hara pendukung buah adalah; Fosfat, Kalium, Calcium, Magnesium, Boron dan seterusnya.

Apabila kebutuhan unsur-unsur tersebut tidak terpenuhi, maka secara alami pohon akan menggugurkan sebagian bunganya untuk menghindari kelaparan. Jumlah bunga yang rontok akan menyesuaikan tingkat kekurangan nutrisi yang terjadi saat itu.

Solusi LENGKAP Mencegah Kerontokan Bunga Kelengkeng

Untuk memberikan hasil yang efektif, saya membagi solusinya menjadi 2 bagian yaitu:

  1. Perlakuan umum
  2. Perlakuan khusus

Perlakuan umum adalah solusi yang diterapkan untuk segala varietas kelengkeng apapun, baik jenis lengkeng golongan Temperate maupun Non-Temperate. Penjelasan lengkap tentang 2 golongan ini bisa anda baca di sini: Tips Memilih Varietas Kelengkeng: Skala Hobi & Komersial

Perlakuan khusus adalah solusi yang hanya diterapkan pada golongan Temperate seperti varietas New Cristal, Itoh, dkk.

Mari kita bahas satu per satu!

Perlakuan UMUM

#1 – Pembuahan Pertama Kali

Idealnya, pohon lengkeng golongan Temperate seperti New Cristal dan Itoh, mulai dibuahkan paling cepat usia 2,5 tahun sejak penanaman ke lahan.

Selama 2,5 tahun pertama, pohon diberi kesempatan untuk merimbunkan percabangan, menguatkan batang, sekaligus mengokohkan perakaran. Sehingga, pohon akan lebih siap untuk menghasilkan buah secara optimal.

Sedangkan untuk jenis kelengkeng Non-Temperate seperti Diamond River, Matalada, Satu Jari, Aroma Durian, Lengkeng Merah dan seterusnya, seluruh bunga dibuang apabila muncul sebelum usia pohon genap 2 tahun.

Hal itu karena mengingat kelengkeng Non-Temperate biasanya akan berbuah secara alami (tanpa bantuan zat perangsang buah) pada usia kurang dari 2 tahun.

Pohon Lengkeng Berbuah Produktif
Gambar: Pohon lengkeng dewasa yang telah produktif.

#1 – Pengendalian Hama

Lakukan penyemprotan pestisida secara rutin mengikuti aturan pakai pada kemasan produk.

Untuk pohon yang akan atau sedang berbunga, saya sarankan menggunakan pestisida organik dan hindari pestisida kimia.

Sebab, pestisida kimia tidak hanya membunuh hama, tetapi akan membunuh serangga-serangga menguntungkan yang ada di sekitar tanaman, salah satunya Lebah Madu (sumber: Republika.co.id).

Padahal, Lebah Madu sangat kita perlukan untuk membantu penyerbukan bunga kelengkeng. Ketiadaan serangga ini akan beresiko terjadinya kerontokan bunga yang lebih parah akibat banyak bunga lengkeng yang tidak terserbuki.

Berbeda dengan pestisida kimia, pestisida organik jauh lebih ramah lingkungan dan tidak akan membahayakan kelangsungan hidup serangga-serangga menguntungkan.

Pestisida organik seperti Neem Oil (Minyak Mimba) hanya akan bereaksi kepada serangga hama dan tidak memberikan dampak apapun kepada serangga non-hama seperti Lebah Madu. (sumber: Indonesiaorganic.com).

Pestisida Nabati Neem Oil (minyak mimba / nimba)
Gambar: Pestisida organik Neem Oil (Minyak Mimba/Nimba).

#2 – Pengairan / Penyiraman Rutin

Pada pohon yang sedang berbunga, lakukan penyiraman setidaknya 2-3 kali seminggu.

Waktu yang tepat untuk menyiram adalah pagi atau sore ketika suhu udara sedang sejuk. Penyiraman di siang hari ketika sinar matahari sedang menyengat panas justru bisa menyebabkan bunga rontok – biasanya dalam jumlah kecil.

#3 – Pemupukan Tepat Jenis, Dosis dan Waktu

Pohon kelengkeng yang tidak dipupuk pasti bermasalah. Dan pemupukan yang tidak tepat pun akan berbuah masalah.

Kuncinya: pohon harus dipupuk menggunakan jenis pupuk yang tepat, dosis yang tepat dan waktu aplikasinya pun harus tepat (sumber: Cybex.pertanian.go.id).

a. Pemupukan Saat Tidak Berbunga

Berikan pupuk kandang, kapur dolomit dan NPK 15-15-15 atau 16-16-16 dalam jumlah yang terukur berdasarkan usia tanaman.

Pupuk Kandang Kambing
Gambar: Pupuk kandang kambing.
Dolomit Fast Release MagFertil Plus
Gambar: Kapur dolomit.
NPK Pak Tani
Gambar: Pupuk NPK 16-16-16.

Ketiga pupuk tersebut diberikan pada 2 kondisi sebagai berikut:

  1. Ketika pohon sedang tidak berbunga
  2. Ketika pohon telah berbuah seukuran kacang kedelai hingga menjelang panen

Sedangkan pada pohon kondisi berbunga, jenis pupuk yang digunakan akan berbeda (saya bahas di sub-bab berikutnya).

Pupuk kandang dan kapur dolomit bisa diberikan bersamaan setiap 4 bulan sekali.

Caranya: pupuk kandang sebanyak 1 karung beras 25kg dibenamkan mengelilingi pohon sejauh 50-100cm dari batang. Sedangkan kapur dolomit sebanyak 1 kg ditaburkan merata di atas permukaan tanah.

Berikut rekomendasi pemupukan NPK dari Balitjestro (Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Subtropika):

  • Umur 1-2 tahun= 100-200 gram (2 bulan sekali)
  • Umur 2-3 tahun= 200-300 gram (3 bulan sekali)
  • Umur 3-4 tahun= 300-500 gram (4 bulan sekali)
  • Umur 4-5 tahun= 500-900 gram (4 bulan sekali)

Cara aplikasi pupuk NPK yaitu dibenamkan mengelilingi pohon sejauh lebar kanopi.

Ilustrasi Lebar Kanopi Pohon
Gambar: Ilustrasi lebar kanopi pohon dan jarak pupuk dengan batang pohon.
b. Pemupukan Saat Berbunga

Pohon yang membawa calon bunga, sebelum bunga mekar berikan pupuk dengan kandungan Phosphate dan Kalium tinggi.

Pupuk yang umum digunakan adalah pupuk MKP dan KNO3 Putih.

Cara aplikasi: Kedua pupuk dilarutkan bersama ke dalam 5 liter air dengan dosis masing-masing 2,5 sendok makan, kemudian siramkan ke perakaran untuk 1 pohon.

Pemupukan cukup sekali saja.

Pupuk MKP
Gambar: Pupuk MKP
Pupuk KNO3 Putih
Gambar: Pupuk KNO3 Putih

Perlakuan KHUSUS

Perlakuan khusus yang saya maksud adalah mengatur waktu pembuahan di luar musim hujan.

Karena kerontokan bunga akibat curah hujan tinggi tidak bisa dihindari sama sekali, maka satu-satunya solusi adalah menghindari pohon berbuah di musim hujan.

Di awal, saya telah sebutkan bahwa perlakuan ini hanya berlaku untuk varietas Temperate (New Cristal, Itoh, dkk) dan tidak berlaku untuk Non-Temperate (Satu Jari, Aroma Durian, Matalada, dkk).

Mengapa?

Alasannya karena kelengkeng Temperate secara umum memiliki siklus berbuah 9-10 bulan sekali, dimana 7 bulan pertama adalah masa sejak awal pohon dirangsang berbuah (dibooster) hingga buah dipanen, kemudian 2-3 bulan berikutnya adalah masa istirahat (recovery) pasca panen sebelum pohon dibuahkan kembali.

Itu artinya, pohon hanya bisa dibuahkan sekali dalam setahun.

Maka, mengatur waktu pembuahan pada kelengkeng Temperate adalah keputusan yang tepat.

Sedangkan untuk kelengkeng Non-Temperate, secara alami pohon tidak memiliki siklus sama sekali, karena bunga akan muncul silih-berganti dari cabang yang satu ke cabang lainnya.

Maksudnya adalah ketika pohon berbunga, hanya sebagian cabang saja yang menghasilkan bunga, sebagian lain tidak.

Nah, sebelum atau setelah panen dari itu, cabang-cabang lain yang sebelumnya tidak membawa bunga akan gantian menumbuhkan calon bunganya.

Sehingga, pohon kelengkeng Non-Temperate bisa berbuah 2-3 kali setahun tanpa mengenal musim.

Maka, pengaturan waktu berbuah untuk golongan ini sangatlah tidak perlu, karena hanya ada satu masa berbuah saja yang berada di musim hujan, sedangkan 1 atau 2 masa berbuah lainnya terjadi di musim kemarau.

Jadi, bagaimana cara mengatur pembuahan di luar musim hujan?

Yenni dan Buyung Al Fanshuri dari Balitjestro menyarankan:

“Pembuahan kelengkeng dilakukann pada bulan April atau setelahnya untuk menghindari curah hujan tinggi pada bulan Desember, Januari hingga Maret.”

Namun menurut saya, akan lebih baik jika menyesuaikan iklim di daerah kita sendiri. Karena biasanya, tiap kota memiliki waktu-waktu yang sedikit berbeda.

Misalnya untuk Kota Bandar Lampung, kota tempat saya tinggal, curah hujan biasanya menurun pada akhir bulan Februari, sehingga di awal bulan Maret sudah cukup kondusif untuk pembuahan pohon kelengkeng.

Gambar: Contoh penentuan waktu membuahkan pohon kelengkeng.

Umumnya, pohon lengkeng yang dirangsang berbunga menggunakan zat kimia KCLO₃, calon bunga akan muncul sekitar 1 bulan pasca aplikasi. Kemudian bunga mulai memasuki fase penyerbukan pada hari ke-12 setelah calon bunga muncul.

Itu artinya, jarak waktu antara pohon dirangsang berbunga hingga bunga memasuki fase penyerbukan adalah 1,5 bulan. Apabila pohon dibuahkan pada awal bulan Maret, maka bunga akan masuk fase penyerbukan pada pertengahan bulan April.

Di Kota Bandar Lampung, curah hujan pada bulan April biasanya sudah rendah dan stabil. Dengan begitu, proses penyerbukan bunga kelengkeng pada saat itu akan sangat kondusif, InsyaAllah.

Kesimpulan

Bagaimanapun, masalah kerontokan bunga kelengkeng tidak bisa kita hindari 100%, meskipun semua upaya perawatan telah kita lakukan.

Khususnya, apabila kerontokan disebabkan oleh faktor alam seperti hujan lebat, angin kencang dan curah hujan tinggi.

Kendala curah hujan tinggi masih bisa disiasati dengan membuahkan pohon di luar musim hujan.

Namun faktor hujan lebat dan angin kencang, nyaris tak ada solusi, sebab keduanya seringkali datang tiba-tiba tanpa mengenal musim.

Lain hal dengan faktor kerontokan akibat serangan hama, kekurangan air dan nutrisi, semua itu masih sangat mungkin dikendalikan. Dimana, setiap kita bertanggungjawab untuk merawat sebaik mungkin pohon kelengkeng yang kita tanam.

Apakah anda punya solusi lain yang berhasil?

Ayo, share melalui komentar di bawah, sebagai referensi tambahan bagi saya dan pembaca lain. 😀

Maaf, seluruh konten di website ini tidak bisa Anda copy!

Scroll to Top